Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Sekuel Masa Lalu Saat Ibu Pergi


__ADS_3

Seorang pria yang tak ku kenali berdiri di halaman rumah. Matanya tertuju pada rumah kami. Aku mulai gusar karena pria itu. Takut jika dia akan berbuat jahat padaku dan pada keluargaku. Aku memperhatikannya dari balik gordeng yang tertutup sebagian. Cuaca di luar sana cukup dingin. Hujan sedari pagi terus turun. Seolah tak ingin berhenti. Dengan perasaan yang tak menentu terus ku perhatikan pria yang usianya mungkin 25th an. Lebih mudah dari Ibuku 6 tahun. Pria itu semakin mendekat menuju rumahku, membuatku semakin takut di buatnya. Aku masih bersembunyi di balik gordeng sembari terus memperhatikannya. Hingga aku tak menyadari jika Fadly menangis. Bergegas aku menuju kamar ibu. Menggendong Fadly ke dalam pelukanku. Aku melihat ibu sedang berdandan di sisi ranjang.


"Bu, kenapa ibu biarin Fadly nangis?" tanyaku pada ibu yang sama sekali tak mengindahkan Fadly.


"Ibu lagi sibuk" jawab ibu ketus. Aku melongos.


"Bu kasian fadly. Susunya abis. Fadly laper" kataku lagi.


"Kasih aja air gula" jawab ibu lagi. Aku semakin muak pada ibuku. Aku tak ingin lagi menjawab pertanyaannya. Percuma saja aku berdebat dengan ibu. Toh, ibu akan tetap tidak peduli pada Fadly.


Dengan perasaan kesal aku membawa Fadly ke kamarku. Dan menidurkannya di kasur. Aku menyuruh Silvana untuk menjaganya selama aku membuat air tajin. Beruntung ada sedikit sisa beras di dalam gentong.


Suara tangis fadly terdengar hingga ke dapur. Rasa sesak menyeruak di dalam dada. Kebencian ku pada ibu semakin menjadi. Entahlah, apa yang ada dalam fikirannya sehingga ibu tega membiarkan Fadly menangis karena lapar. Padahal dia punya yang di butuhkan dan di inginkan fadly. Tak mau kah dia membagiya sedikit saja pada Fadly. Untuk kali ini saja. Derai air mata mulai membasahi pipi.


"eteh..." Teriak silvana dari kamar, membuyarkan lamunanku.


.

__ADS_1


"Iya na. Ada apa?" tanyaku sembari berteriak.


"Ade dak mau iem eteh" kata ena lagi.


"Iya bentar" jawabku. Aku mematikan kompor. Fadly tak bisa menunggu lebih lama lagi. Meski air tajin nya masih sangat encer, namun aku tetap menambahnya air. Agar lekas dingin. Aku berlari ke dalam kamar, setelah air tajin itu ku masukan ke dalam dot. Aku memberikan dot itu pada fadly. Tangisnya berhenti. Fadly meminum air dalam dot itu dengan lahap.


"Ena, jagain adenya bentar ya. Eteh mau bikin lagi susu buat ade" perih rasanya aku menggunakan kata susu untuk membohongi adik-adikku yang sesungguhnya hanya air tajin yang ku buat. Ku lihat ena hanya mengangguk.


Belum sempat air tajin yang ku buat itu selesai, ku dengar suara tangisan fadly dari kamar. Cepat aku berlari menuju kamarku. Dot yang seharusnya menempel di mulutnya terlepas ke samping. Aku tak melihat silvana di kamar itu. Dengan segera aku menempelkan kembali dot ke dalam mulutnya. Ku gunakan bantal kecil untuk menyanggah botol susu itu agar menempel di mulutnya. Setelah kurasa botol itu tak akan terlepas, aku bergegas ke dapur. Mematikan kompor. Pandanganku tertuju ke halaman rumah saat aku kembali ke kamar. Aku melihat silvana sedang bermain tanah di depan sana. "Ahh, apa yang bisa ku harapkan dari anak berusia 3 tahun" fikirku. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar.


"Jaga adik-adikmu, selagi ibu pergi" Suara ibu menghentikan langkahku tepat saat aku berada di ambang pintu. Aku menoleh ke arah ibu.


"Apa harus ibu laporan pada kamu kemana akan pergi?" kata ibu. Pandangannya tajam. Menusuk tepat di jantungku. "Sudah ikuti saja perintah ibu" jawabnya lagi.


"Iya tapi ibu mau kemana?" tanyaku.


"Di suruh sama orang tua banyak tanya" Jawab ibu. Semakin tajam mata ibu ketika melihat padaku. Ibu melangkah pergi keluar rumah, tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya. Aku mengikuti ibu hingga ke jendela. Melihatnya menjauh dari rumah. Dia tak peduli pada silvana yang terus meraung-raung dalam tangisan agar ikut bersama ibu.

__ADS_1


Hatiku semakin perih. Aku membuka pintu rumah. Menarik tangan silvana agar masuk ke dalam. Silvana masih saja terus menangis. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk meredakan air mata silvana. Ku biarkan dia menangis di ruang tamu. Kembali aku masuk ke dalam kamar. Melihat fadly yang kini sudah tertidur lelap. Kini giliranku menyuruh silvana untuk diam. Tangis silvana semakin menjadi saat aku menarik paksa tangannya. Meronta agar aku melepaskan cengkraman tanganku di lengannya.


"Atit atit.." teriak silvana. Aku melepaskan cengkramanku. Silvana memegang lengannya dengan tangan satunya lagi. Tangisnya masih saja tak mau berhenti. Mengusap-ngusap bagian yang tadi ku cengkram. Aku merasa bersalah. Rasa kesalku pada ibu yang tiba-tiba pergi, juga pada silvana yang menangis.


"Kenapa tangannya?" tanyaku pada silvana.


"Ibu" jawab silvana. Aku menyingkapkan bajunya. Memar di lengan silvana nampak sangat jelas di kulitnya yang putih. Warna kemerahan yang akan berubah dalam hitungan menit menjadi biru keunguan, warna ciri khas luka lebam.


"Kamu di apain?" kataku panik.


"Ubit ibu" jawab silvana sesegukan.


"Udah, nanti juga sembuh. Nungguin bapak pulang aja yuk. Tadi bapak janji, pulang kerja mau bawa makanan enak" wajah silvana berubah seketika. Tangis nya hilang. Ena lamtas berlari ke jendela ruang tamu. Menatap ke luar rumah, menunggu bapak pulang.


Tak berapa lama ibu datang ke rumah. Dengan langkah tergesa ibu pergi menuju kamar. Mengeluarkan semua isi dalam lemarinya dan memindahkannya ke dalam tas besar.


"Ibu mau kemana?" tanyaku.

__ADS_1


"Diem kamu" bentak ibu. Aku menarik tas itu. Merebutnya dari tangan ibu, namun tenaga ibu jauh berkali-kali lipat dari tenagaku sendiri. Ibu mendorongku ke lantai. Tangisku pecah, namun aku terus menghalanhi ibu untuk pergi. Mungkin kesabaran ibu sudah hanis karena ulahku. Ibu mengunciku di dalam kamar. Menarik silvana dan menggendong Fadly. Menyatukan kamu dalam satu kamar lantas mengunci kami dari luar. Kami bertiga menangis saling bersahutan. Namun ibu memang sudah memutuskan untuk pergi. Tak ada yang bisa meluluhkan hatinya. Tangisan fadly sekalipun. Aku menatap ibu yang semakin menjauh dari pekarangan rumah. Berjalan beriringan dengan pria yang tadi aku lihat.


Kenapa aku terlahir dari wanita yang bakan tak punya hati seperti dia. Dia memang wanita yang melahirkan kami. Wanita yang meminjamkan rahimnya untuk kami tinggal selama 9 bulan. Namun dia bukan ibu kami. Dia hanyalah wanita tak punya hati dan perasaan. Dia hanya wanita yang tak pernah pedulikan kami. Semakin tumbuh suburlah kebencian dalam diriku.


__ADS_2