
"Kenapa kamu selalu buat aku sengsara pak? Belum puas kamu buat aku menderita selama ini? Aku capek jadi istri kamu" Suara ibu terdengar nyaring di telingaku. Aku terbangun mendengar teriakan ibu. "Prang" Sebuah benda jatuh ke lantai. Tubuhku bergetar hebat. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku duduk meringkuk di atas kasur. Suara tangis ibu membuatku semakin takut.
"Teh ada antu agi yah?" tanya silvana yang juga terbangun dari tidurnya. Silvana mendekatiku. "Ena tatut teh" lanjutnya lagi. Ku tarik tubuh silvana semakin mendekat ke pelukanku. Usianya yang belum genap 3 tahun membuatku mudah membohonginya.
Memang tak hanya sekali ini orang tuaku berantem. Sudah berkali-kali. Dan setiap kali ena terbangun dari tidurnya saat kedua orang tuaku berantem, aku slalu berkata padanya "Stt jangan berisik. Ada hantu di luar. Ena tidur lagi, nanti kalau ena bangun hantunya masuk ke kamar" begitulah aku skalu berkata. Yang entahlah kalimatku itu salah atau benar. Aku hanyalah anak berumur 8 tahun yang di paksa untuk menjadi lebih dewasa dari usia sebenarnya.
"Apa kamu bilang? Aku tak peduli anak-anak akan mendengar pertengkaran kita. Kamu yang salah. Jika kau ingin aku berenti berteriak, kerja yang bener. Cari uang yang banyak. Aku gak mau hidup miskin lagi" Teriakan ibu semakin kencang. Seolah dia sengaja ingin membangunkan kami.
"Kamu malu kalau anak-anak sampe tau, jika bapaknya tak berguna sama sekali. Tau begini ku gugurkan saja kandunganku ini" lanjut ibu lagi. Aku semakin menggigil ketakutan, meski aku tak tau apa yang ibu bicarakan. Aku memang tak pernah mendengar suara bapak saat orang tuaku berantem. Hanya suara ibu yang terus meraung-raung.
"Apa sabar? Sabar katamu. Kurang sabar apa aku heh?" suara ibu semakin kencang. Tangisan dan suara benda jatuh saling bersahutan.
"Sebentar lagi anak ini lahir. Mau kamu beri makan apa?"
"Sudah bagus aku tak selingkuh lagi" Teriak ibu lagi.
__ADS_1
"Kamu memang lelaki tak berguna sama sekali" teriak ibu lagi. Suara ibu membahana di dalam rumahku. Entah sudah berapa banyak barang ibu pecahkan dalam pertengkatan ini. Aku semakin benci pada ibuku. Aku memang belum mengerti ibu bicara apa. Atau tentang apa. Yang aku tau, semenjak bapak tak kerja lagi di pabrik, satu per satu barang yang ada di rumah ulang menghilang dari tempatnya. Dari mulai TV, kulkas, juga perabotan lainnya.
Silvana mulai merengek semakin ketakutan. Semakin ku dekap tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Stt jangan berisik. Nanti hantunya masuk ke kamar" kataku pada silvana. Aku membekap mulut mungilnya dengan tanganku.
"Tapi ena atut eteh. cerem di uway. ena mau apak teh" kata silvana seraya menangis tertahan.
"Ena gak boleh nangis. Kan bentar lagi mau punya dede bayi. Nanti mau ena ajak apa maen apa dede bayinya" aku berusah rerus untuk membujuk silvana agar tak menangis.
"antunya gayak ya teh? Apak dayah dayah cemua. ihhh" kata ena lagi.
"Aaaahhh" matanya berbelalak mendengar ucapanku. "Ihhh atut. Cian apak teh. gih bobo gitu. gigit antu ihhh apak cian. Apak atit atuh atuh" celotehnya lagi.
"Iya makanya bobo"
__ADS_1
"ibu jah ya teh yang gigit antu apak ngangan" kata silvana lagi. Silvana naik ke pangkuanku. Aku mendekap erat tubuhnya. Entahlah ibu seperi apa yang Tuhan kirimkan untuk menjadi ibuku. Bahkan anak sekecil silvana pun sudah mulai menunjukan ke tidak sukaannya pada ibunya sendiri. Bukan salah kami sebagai anaknya membenci ibu kami sendiri, tapi salah ibuku yang tidak pernah sayang pada kami.
Banyak orang bilang, jika seorang ibu tak akan mungkin tak sayang anaknya. Mereka bisa berbicara begitu karena tak kenal dengan ibuku. Binatang aja sayang sama anaknya, tapi ibuku hanya memikirkan dunianya sendiri. Ibu hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Meski ibunada di antara kami sekarang, tapi rasanya seoerti aku tak punya ibu. Sosok yang ada di rumah ini dan menyatakan bahwa dia adalah ibu kami, tak pernah benar-benar menjadi seorang ibu.
"Tidur aja. Besok ke apak nya. Di luar masih ada hantu" kataku berusaha menenangkan silvana. Silvana mengangguk. Ku baringkan dia di atas kasur. Akupun turut berbaring di samping silvana. Silvana tak mau lepas dari pelukanku. Aku dapat menangkap ketakutan yang tergambar dari wajah silvana. Tubuhnya gemetaran. Kasihan rasa nya melihat silvana, meski aku juga merasa amat sangat takut. Sama takutnya dengan silvana.
Aku berusaha memejamkan mata, meski suara pecahan-pecahan kaca dan suara teriakan ibu masih terdengar begitu jelas. Aku memang belum mengerti apa-apa. Dan kenapa kedua orang tuaku memiliki hobby baru semenjak silvana lahir. Yang aku tahu hanya uang jajanku yang sekarang berkurang. Juga ibu yang sudah tak masak ayam goreng lagi. Bahkan masak nasipun terkadang 2 hari sekali. Apa yang terjadi dengan keluargaku aku tak tahu.
Sayup ku dengar suara muadzin dari speaker mesjid. Suara teriakan ibu sudah tak terdengar lagi. Entah pukul berapa ayah dan ibu berhenti bertarung. Aku tak tahu pasti. Perlahan aku mencoba bangkit dari kasurku, hendak melihat keadaan ruang tengah rumahku. Aku melihat ada bapak sedang berjongkok untuk memunguti pecahan oiring dan gelas yang berserakan di lantai.
"Bapak belum tidur?" tanyaku seraya berjongkok di samping bapak. Aku ikut memunguti pecahan piring.
"Baru bangun" Aku lihat ada guratan kesedihan dan kekecewaan disana. Aku tau bapak berbohong. "Tadi bapak kebangun, denger piring pecah. Bapak kira maling. Eh gak taunya kucing yang cari makan" lanjut bapak lagi. Aki hanya diam saja tanpa berniat untuk protes. Aku biarkan bapak mengarang bebas. Apapun yang bapak katakan, aku akan berusaha untuk percaya. Meski hanya pura-pura.
"Biar eteh aja yang beresin. Bapak tidur aja" kataku pada bapak, yang aku tau sudah mulai lemas karena ngantuk.
__ADS_1
"Kan bapak baru bangun. Masa tidur lagi?" jawab bapak. "Sekarang tuh waktunya rame di pasar. Pasti banyak yang butuh bantuan bapak" lanjut bapak lagi. Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Bapak setiap hari, setelah adzan subuh pergi ke pasar. Mencari orang yang memerlukan bantuan bapak untuk membawakan belanjaan mereka dengan imbalan yang tak seberapa. Sementara di sore hari bapak bekerja jadi hansip kampung, dengan gaji yang tak tentu. Menunggu ada orang yang bermurah hati memberi rezeky pada bapak. Beban tanggungan bapak cukup banyak, membuat beliau harus banting tulang untuk membiayai semua kebutuhan keluarga. Apalagi 2 bulan lagi seorang anak lain yang tentu butuh makanan akan lahir lagi ke dunia. Bertambah lagi 1 perut yang harus di isi. Seorang anak yang akan bergantung hidup pada bapak.