
Seorang perawat yang datang pagi-pagi sekali memaksaku untuk membuka mata. Perawat itu menatapku lembut.
"Gimana sekarang mba? masih suka teranya nyeri?" tanya nya ramah. Akubtersenyum kecil.
"Gak sus, gak begitu sakit" jawabku. Suster itu tersenyum ramah. Dia mengecek infusanku, memastikan cairannya masuk ke dalam tubuhku dengan lancar. "Sus..." kataku pelan.
"Iya mba gimana?" suster itu bertanya menjawab panggilanku.
"Hmm dokter yang memeriksaku kemana ya? Sehari kemarin gak kesini?"
"Oh dokter Hendra? Beliau hari kemarin memang tidak ada jadwal mba. Besok baru visit lagi. Kenapa mba? Apa ada keluhan?"
"Gak sus. Cuma heran aja sus" jawabku lagi. "Biasanya meriksa tiap hari"
"kebetulan jadwalnya di rumah sakit ini dari selasa sampai jumat. selain hari itu beliau di rumah sakit lain" aku hanya mengangguk mendengar jawabannya.
"Sus saya ingin pulang hari ini" kataku padanya.
"Tapi mba, dokter hendra belum mengijinkan mba nya pulang. Besok saya tanya dokter ya. Apa mba nya boleh pulang gak"
__ADS_1
"Saya mau sekarang sus. saya udah sembuh koq. Saya bisa istirahat di rumah" kataku memaksa.
"Saya coba tanyakan pada dokter jaga ya mba" Suster itu kemudian pamit keluar. Kembali memejamkan mata. berharap bisa meneruskan tidurku yang tadi terganggu oleh kedatangan suster itu. Namun meski aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tubuhku menolak untuk tertidur. Aku memijit remot yang tergantung di ranjang. memencet tombolnya, menyuruh ranjangku terangkat hingga aku mencapai posisi nyamanku terduduk menyender pada sandaran kasur. Tak ada yang dapat ku lakukan selain menulis di atas kertas. Menulis apapun yang terlintas dalam fikiranku saat ini. Tak ada ponsel, tak ada TV di dalam ruangan itu. Hanya menulislah satu-satunya cara untuk sekedar mengusir lelah di dalam dirinya.
Ketukan pintu terdengar nyaring sesaat setelah aku menyelesaikan sarapanku. Seorang pria dan perawat tadi datang menghampiriku.
"Udah bosan ya disini? Udah mau cepet-cepet pulang" tanya pria itu yang belakangan ku tahu bahwa dia dokter jaga. Aku hanya mengangguk pelan. Dokter itu mulai memeriksa tubuhku. memastikan semua luka memar di tubuhku. juga bertanya mengenai organ intim ku. aku menjawabnya dengan sedikit berbohong. Berkata jika bagian itu sudah tak terasa sakit. Dokter itu kemudian tersenyum padaku. Entahlah harus ku artikan apa senyumannya itu.
"Besok aja ya baru pulang. Sekarang istirahat dulu" kata dokter itu setelah ia tersenyum padaku.
"Aku udah sembuh koq dok. aku harus pulang. Aku istirahat di rumah aja" aku terus memaksanya untuk memberikan ijin pulang.
"Saya sudah baik-baik saja dok. Saya bisa istirahat di rumah" kataku lagi. Sang dokter tampak berfikir sejenak mengernyitkan dahinya sesaat, kemudian berkata lembut.
"Baiklah jika mba sudah merasa baikan. Saya akan buatkan surat pernyataan untuk nantinya di tandatangani. Aku hanya mengangguk. "Sus, tolong hubungi penanggung jawab pasien agar segera menjemput dan menyelesaikan administrasinya" kata dokter itu seraya menoleh pada suster yang berdiri tepat di sampingnya. Suster kemudian pamit keluar ruangan. "Infusannya nanti akan di lepas suster ya. sambil menunggu keluarga mba nya menjemput" Aku hanya mengangguk pasrah. Aku tau siapa orang yang dokter katakan sebagai penanggung jawabku. karena beberapa waktu lalu saat aku bertanya kepada salah seorang suster, suster itu memberiku sebuah nama "Rina".
Waktu masih menunjukan pukul 12 siang saat aku melihat infusan di samping kiriku masih menetes. Kali ini tetesannya sedikit lebih cepat dari biasanya. Waktu terasa berjalan begitu lamban saat aku menunggu infusan itu habis dari labunya. Mba rina sudah ada di ruanganku sejak beberapa menit yang lalu. mulai berkemas semua barang di dalam ruanganku. Mba rina mengajakku mengobrol untuk sekedar mengusir rasa bosan yang aku rasakan.
Sekitar pukul 1 siang aku keluar dari Rumah sakit itu. Aku berjalan menuju mobil yang sudah menungguku dan siap mengantarku kembali pada habitatku. Tempat seharusnya aku berada. Bukan. lebih tepatnya tempat aku mengais rezeky haram dari hasil menjual tubuhku.
__ADS_1
"Lo istirahat aja dulu sampe bener-bener pulih. Inget tadi yang dokter bilang kan? Lo gak boleh dulu kerja" kata mba rina saat kami barada dalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumah bordir.
"Aku udah gak apa-apa koq mba. Besok juga aku udah mulai kerja lagi"
"Jangan dulu. tunggulah seminggu lagi, baru kerja"
"Mba gue butuh banyak duit. lagian tabunganku mulai terkuras"
"Kan lo cuma bayar setengah dari biaya RS nya. jadi masih cukup banyak lah. masih cukup untuk hidup lo beberpa bulan kedepan tanpa bekerja"
"Itu biaya buat kuliah silvana mba. aku harus ganti"
"Lah kalo lo besok maksa buat kerja, terus sakit lagi gimana? Lo sih bandel. suruh istirahat di RS aja gak mau"
"Bosen mba" kataku. aku mulai memejamkan mataku, menghindari percakapan itu terus berlanjut. Benar saja mba rina terdiam sesaat setelah aku memejamkan mata. Aku merasakan mobil melaju dengan kecepatan normal. Suara lagu meraung-raung dari dalam radio. Aku menikmati lagunya sambil sesekali ku lantunkan lirik lagu itu mengikuti suara penyanyi aslinya. Tak terasa mobil sudah terparkir di pekarangan rumah bordir. Mba rina menyenggol lenganku dengan sikutnya. menyuruhku membuka mata dan bersiap untuk turun.
Aku berjalan perlahan menuju kamarku. Banyak pasang mata yang memperhatikanku. Sesekali mereka menyapaku, ku balas sapaan mereka dengan sebuah anggukan yang di barengi senyum ramah. Aku tak begitu memikirkan mereka yang manatapku dengan tatapan berbeda. Aku yakin kabar kecelakaan kerjaku telah tersiar ke seluruh sudut tempat ini. Namun apa peduliku? toh Semua ini akan cepat terlupakan. dengan begitu aku tak perlu repot-repot mengingat kembali kenangan pahit itu saat nanti ada yang bertanya padaku. Ya memang tak ada seorangpun yang tau apa yang terjadi padaku di dalam kamar itu. Yang mereka tau hanyalah luka lebam di sekujur tubuhku dan perdarahan hebat di antara selangkanganku. Aku memang tak pernah bercerita pada siapapun apa yang terjadi di kamar itu. Selama ini aku selalu menghindari pertanyaan itu, tapi tak akan berlaku untuk hari ini. mau tidak mau. suka tidak suka hari ini aku harus siap menerima setiap pertanyaan dari mami farida.
Pintu kamarku terbuka lebar saat aku sampai di depannya. Tampak ada mami farida sedang duduk dengan rokok mild di tangannya. di tersenyum saat mata kami beradu pandang. Kemudian menghujaniku dengan ratusan pertanyaan. Mau tidak mau aku harus mengingat kembali adegan itu. Mengingat setiap adegan itu dengan detail. Entah apa tujuan mami farida menanyaiku. aku tak tau.
__ADS_1