Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Kekesalan Johan


__ADS_3

Lekung senyum terkulum sempurna di bibir Athana. Dia bertingkah seolah-olah tak terjadi apa pun. Detik ini, kemampuan aktingnya memang diuji.


"Selamat pagi, Tuan Johan." Athana membungkuk hormat.


"Duduklah!" perintah Johan sambil menunjuk kursi yang ada di tengah ruangan.


Athana menurut dan duduk di sana, Johan pun ikut serta. Namun, ia menutup pintu terlebih dahulu.


"Apa yang kamu lakukan pada Jessy?" tanya Johan tanpa basa-basi.


Athana mengernyit. Pura-pura bingung dengan pertanyaan yang Johan layangkan.


"Saya tidak melakukan apa pun, Tuan. Kemarin saya dan Nona Jessy hanya berbincang seperti biasa. Sebelum kami tidur di kamar yang berbeda, Nona Jessy tidak mengatakan apa pun selain selamat malam. Saya juga heran kenapa dia pulang tengah malam, saya pikir karena ada sesuatu di sini," ucapnya.


Johan tidak segera menjawab, hanya matanya yang menyorot tajam ke arah Athana. Wanita itu pun tidak berpaling, dengan berani membalas tatapan Johan. Sebagai bukti bahwa dirinya tidak bersalah.


"Dia pulang dari tempatmu dan mengalami hal buruk," ujar Johan beberapa saat kemudian.


"Hal buruk apa, Tuan?" tanya Athana dengan mata yang membelalak.

__ADS_1


"Kamu memang bawahanku, tapi selama ini kamu terkenal licik dan kejam. Sebelum masalah ini diusut tuntas, dengan berat hati aku akan mengurungmu." Johan bicara tegas.


Athana menunduk dan pura-pura bersedih, "Saya tidak berani membantah keputusan Anda. Tapi, satu hal yang ingin saya sampaikan. Red adalah hidup saya, dan Anda adalah pemimpin yang selamanya akan saya hormati. Saya bisa seperti sekarang berkat Anda, jadi tidak sedikit pun ada niat untuk mengkhianati Anda."


Johan mengembuskan napas kasar. Jawaban dan ekspresi Athana sangat meyakinkan, sehingga dirinya tak punya celah untuk menyudutkan.


"Kamu memang licik, Athana. Tapi ... baiklah, aku ikuti permainanmu. Jika tidak bisa membunuhnya dengan cara halus, aku bisa melakukannya dengan cara kasar. Namun, tidak sekarang. Aku masih membutuhkan mulutmu untuk menyelamatkan putriku," batin Johan.


Sesungguhnya sejak beberapa hari lalu dia sadar ada yang tidak beres dengan Athana. Sebelumya, Mike telah mengirim dia ke dimensi lain, tanpa memberikan jalan untuk kembali. Namun, kenyataannya Athana bisa kembali dengan selamat, sedangkan Alex malah meninggal. Dari sana, Johan dan Mike sudah menaruh curiga.


Kemudian, ditambah lagi dengan semalam, Jessy tiba-tiba mengirim pesan bahwa dirinya akan pulang. Padahal, selama ini Jessy lebih suka menelepon, kecuali tidak diangkat dalam beberapa kali. Namun, tulisannya sering disingkat, sedangkan tulisan yang semalam tidak. Jelas bukan gaya Jessy. Johan curiga itu hanyalah rekayasa Athana. Dugaan diperkuat dengan laporan Marlyn pagi ini. Setelah Athana pergi, dia menggeledah barang-barang Jessy dan tidak menemukan asap pemberian Mike.


Johan terngiang kembali dengan ucapan penelepon misterius yang mengaku sebagai penculik Jessy. Antara percaya dan tidak, tetapi Johan yakin masalah itu berhubungan dengan Athana.


Tak lama kemudian, Johan dan Athana dikejutkan dengan ketukan pintu. Johan mempersilakannya masuk, ternyata Edward yang datang. Dia adalah kepala keamanan di Red.


"Tuan Johan memanggil saya?" Edward membungkuk hormat.


"Iya." Johan bangkit dan menatap Athana. "Bawa dia ke ruang bawah tanah!" perintahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Edward mengangguk patuh. Lantas, meraih tangan Athana dan memborgolnya. Kemudian, mengajaknya keluar ruangan.


Athana tak banyak protes. Dia menurut layaknya bawahan yang benar-benar patuh. Ketika dia dan Edward hampir tiba di ambang pintu, Johan memanggilnya.


"Iya, Tuan." Athana menoleh dan menatap Johan.


"Kamu tahu sendiri ruang bawah tanah seperti apa. Dari pada memaksakan diri masuk ke sana, lebih baik ceritakan saja semua hal yang kamu sembunyikan," kata Johan, lagi-lagi sambil menatap tajam.


Athana mengembuskan napas panjang, lalu sedikit menunduk dan memasang tampang murung.


"Apa yang harus saya ceritakan, Tuan? Saya tidak punya rahasia apa pun. Jika saya bersalah karena membiarkan Nona Jessy pulang malam-malam, saya tidak membantah. Saya akan menerima hukuman karena semalam saya memang tidur dan tidak menjaganya dengan baik," jawabnya.


"Aku akan memeriksa rekaman CCTV di rumahmu!" gertak Johan.


"Jika itu memang Anda butuhkan, silakan Tuan." Jawaban Athana tidak mengandung keraguan.


Usai mendengar jawaban Athana, Johan menyuruh mereka pergi dari ruangan. Ketika pintu sudah ditutup dan tubuh mereka tak lagi terlihat, Johan menggeram sambil menggebrak meja. Marah, kesal, benci, semua bercampur menjadi satu.


"Kalau bukan karena keselamatan Jessy, aku akan membunuhmu saat ini juga. Heh, aku penasaran, siapa orang yang membantumu melakukan ini. Sangat rapi, pasti dia bukan orang sembarangan," kata Johan dengan napas yang memburu. Segenap usaha sudah ia lakukan untuk mencari keberadaan Jessy. Namun, hasilnya masih nihil.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2