Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Aku Mencintaimu!


__ADS_3

Karena Athana tak juga melanjutkan kalimatnya, Larry meletakkan botol vodka dan kembali memangkas jarak dengan Athana. Dengan tatapan yang tajam dan memikat, Larry menggenggam erat tangan Athana.


"Satu tahun kebersamaan kita, menurutmu bagaimana?" ucapnya.


Athana makin gugup. Memang apanya yang bagaimana? Jika tentang bisnis, apakah masih perlu ditanyakan? Bukankah kerja sama mereka sudah luar biasa, bahkan sampai melebihi target awal?


Lantas jika masalah lain, memangnya ada? Bukankah Larry sangat mencintai Deschara?


"Athana!"


"Menurutku ... luar biasa. Berkat kamu, aku jadi bisa belajar banyak dari masa lalu. Aku juga bisa hidup lebih baik dan mengerti lagi arti senyuman. Dan yang paling penting, aku tidak lagi menjadi orang buruk seperti dulu. Aku___"


Ucapan Athana terhenti begitu saja karena tiba-tiba Larry menggenggam tangannya dengan erat. Jantung Athana langsung berdetak cepat, pikirannya mendadak kacau karena genggaman Larry menghadirkan rasa hangat yang menjalar ke sekujur tubuh


"Kau tahu kenapa selama setahun ini aku tidak dekat dengan wanita mana pun?" tanya Larry dengan suara pelan, tapi cukup tegas.


"Karena kamu mencintai Deschara." Athana menjawab tanpa ragu, karena setahu dia memang itu alasannya.


"Selain di hari pertama pertemuan kita, apa aku pernah menyebut namanya?" tanya Larry dengan lebih tegas lagi.

__ADS_1


Athana menggeleng pelan. Jika diingat-ingat, Larry memang tidak pernah menyebut nama Deschara lagi. Namun, bukannya itu karena dia terlalu fokus dengan bisnis?


"Aku berdamai dengan masa lalu, fokus dengan sekarang dan nanti. Apa kamu masih tidak mengerti?" Lagi-lagi Larry yang bicara.


"Apa?"


Kali ini Larry tidak menjawab dengan kata, melainkan langsung mendekat dan menarik tengkuk Athana, cukup kuat, hingga wajah keduanya berimpitan.


Tanpa basa-basi, Larry langsung menempelkan bibirnya di bibir Athana. ********** dengan mesra, juga meninggalkan gigitan-gigitan kecil yang membuat Athana panas dingin.


Awalnya Athana terbuai dengan ciuman Larry, karena dirinya pun tidak hanya kagum pada lelaki itu, tetapi juga kerap menyimpan rindu dan harapan yang lebih dari sekadar rekan. Namun, Athana tak ingin larut terlalu jauh, sebelum ada kepastian di antara mereka. Dengan sedikit kuat, Athana mendorong tubuh Larry. Hanya saja, nyaris tak bergerak dan tetap ada di dekatnya.


"Aku mencintaimu!" ucap Larry.


"Aku menginginkanmu, Athana. Dan aku ... tidak menerima penolakan." Larry menyambung kalimatnya. Kemudian, kembali mendekatkan wajah dan mencium bibir Athana dengan lebih intens.


Sesaat setelah bibir keduanya menyatu, Athana memejam dan memberanikan diri untuk mengalungkan tangannya di leher Larry. Ia pun menikmati permainan lelaki itu, yang sejak kepergiannya memang sering didambakan.


Ketika keduanya masih asyik bertukar ludah, Dove kembali sambil menyimpan ponselnya. Pertama kali membuka pintu, matanya langsung membelalak, sangat terkejut.

__ADS_1


Larry yang ia tahu sangat dingin dan hanya mencintai Deschara seorang, kini sedang beradegan mesra dengan Athana, seorang wanita yang sulit didekati. Pengkhianatan Alex membuatnya menjadi pribadi yang amat sangat tertutup.


"Sejak kapan mereka sedekat ini?" batin Dove tanpa berani melanjutkan langkah—tetap berdiri di dekat pintu.


Seiring panasnya ciuman Larry dan Athana, diam-diam Dove mengulum senyum. Merasa senang karena kedua temannya tidak hanya berubah lebih baik, tetapi juga berhasil menutup luka lama dan membuka jalan baru untuk menata masa depan.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Athana dan Larry saling menyudahi ciuman. Lantas bertukar pandang sambil menghirup udara banyak-banyak. Pada saat itu pula, Dove kembali melangkah dan mendekati mereka.


"Kupikir ada adegan yang lebih intim lagi, ternyata berakhir begitu saja. Ah, mengecewakan," ujar Dove, sengaja menggoda kedua kawannya.


Larry tidak terpengaruh sedikit pun dengan itu, malah ia merasa bangga karena bisa menunjukkan kepada Dove bahwa dirinya berhasil memenangkan hati seorang Athana. Namun, berbeda dengan wanita itu sendiri. Dia sangat malu dan ingin menghilang saja dari sana. Akan tetapi, yang bisa ia lakukan hanyalah menjauhi Larry dan membuang pandangan ke sembarang arah.


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Dove setelah duduk di tempat semula.


Athana diam. Tidak menjawab, juga tidak menatap.


Akhirnya, Larry yang menyahut ucapan Dove.


"Belum lama, baru beberapa menit," ucapnya.

__ADS_1


Dove menganga tak percaya. Demi apa mereka memulai hubungan dalam situasi yang buruk. Ia hanya meninggalkan mereka sebentar, tetapi malah dimanfaatkan sedemikian rupa. Apa tidak ada kesempatan yang lebih baik selain saat itu? Sungguh konyol.


Bersambung...


__ADS_2