
Kalimat yang diucapkan Larry pada malam itu bukan sekadar janji manis, melainkan kebenaran yang dibuktikan dalam waktu singkat.
Hanya selang dua minggu sejak hari itu, pernikahan benar-benar dilangsungkan. Sangat megah, bahkan tercatat sebagai pernikahan paling mewah di negaranya. Dan bukan hanya itu saja, Larry juga membeli kapal pesiar sebagai hadiah pernikahan, yang nanti akan mereka gunakan untuk berbulan madu. Mengarungi lautan dan berkeliling dunia, Larry ingin menunjukkan ke segala penjuru bahwa Athana adalah miliknya, hanya miliknya.
"Larry, sebenarnya apa ini tidak berlebihan?" tanya Athana pada malam itu, ketika keduanya masih bersiap di dalam kamar.
Siang tadi, mereka sudah sah menjadi suami istri dan malam ini tinggal menggelar pestanya. Namun, belum ada apa pun yang terjadi. Masing-masing masih sibuk dengan persiapan pesta, mungkin di kapal pesiar nanti baru bisa melancarkan aksi.
"Apanya yang berlebihan? Aku mencintaimu, Athana, semua ini layak kupersembahkan untuk kamu." Jawaban Larry sangat sungguh-sungguh meski tidak tersemat panggilan sayang.
Keduanya memang sepakat untuk memanggil dengan sebutan nama saja. Setelah melewati masa lalu yang tidak sederhana, mereka menganggap nama yang melekat dalam diri adalah sesuatu yang istimewa. Bahkan, lebih istimewa dari 'sayang' atau semacamnya. Karena setidaknya, nama itulah yang tetap mereka punya dalam keadaan apa pun, termasuk di ambang kematian—sebuah keadaan yang pernah mereka alami.
"Kapal itu lumayan mahal, harusnya___"
Larry memotong ucapan Athana, "Suamimu bukan lelaki miskin, Athana. Mengeluarkan sedikit uang untuk wanitanya bukanlah masalah."
"Kamu mendadak sombong," sahut Athana dengan bibir yang setengah tersenyum.
"Tidak," sanggah Larry. "Hanya memberitahumu jika aku hebat, agar ke depannya kau tidak berpikir untuk ke lain hati."
__ADS_1
Athana tertawa renyah, "Tidak ada kata selingkuh dalam kamus hidupku."
Larry tidak menjawab lagi, tetapi langsung merengkuh pinggang Athana dengan erat. Dipandanginya wajah sang istri yang teramat cantik dalam polesan make up tebal. Lantas, ia usap mesra ujung bibir yang setiap saat tampak menggoda dan seakan mengundangnya untuk *******. Hingga tanpa sadar, Larry pun mendekatkan wajahnya dan mereguk rasa manis dari bibir Athana. Cukup lama, bahkan sampai menit silih berganti.
"Larry, sudah waktunya turun," bisik Athana di sela-sela ciumannya.
"Biarkan saja mereka menikmati pesta, kita di sini saja melakukan sesuatu yang lain," jawab Larry dengan asal. Namun, sangat sesuai dengan hatinya kala itu.
Ya, Larry sebenarnya malas turun dan bergabung dalam pesta yang ia adakan. Menurutnya, lebih menarik di kamar dan menghabiskan waktu bersama Athana—sang istri yang belum sempat disentuh secara jauh.
Mendengar jawaban Larry, Athana kembali tertawa, dengan pipi yang bersemu merah tentunya. Kemudian, ia melonggarkan pelukan dan mengusap rahang Larry yang berada tepat di hadapannya.
"Kamu ingin menguji kesabaran Dove?" ujar Athana.
Dan ... benar saja, belum sempat Larry menjawab ucapan Athana, pintu kamar sudah diketuk dari luar, disusul dengan teriakan Dove yang cukup lantang.
"Athana! Larry! Kalian cepat keluar, para tamu sudah datang!"
"Dasar teman sialan! Awas saja nanti kalau acaranya sudah selesai, habis kau!" umpat Larry sambil memasang tampang kesal.
__ADS_1
"Simpan emosimu, maksud Dove itu baik." Athana menjawab sembari mengurai pelukan, lantas merapikan kembali lipstik yang sempat berantakan.
Tak lama setelah itu, Athana dan Larry bergandengan tangan, lalu keluar bersama-sama. Dove yang kala itu masih menunggu di depan pintu, tersenyum puas dan kemudian mengantar mereka ke ballroom.
Kehadiran Athana dan Larry mencuri perhatian beberapa pasang mata yang hadir di sana. Dalam balutan gaun panjang warna putih, serta rambut disanggul rapi dengan sedikit aksesori yang tampak berkilauan. Athana terlihat cantik, anggun, dan memesona, sangat serasi jika bersanding dengan Larry, yang kala itu juga terlihat tampan dalam balutan tuksedo warna putih. Senada dengan Athana.
"Nona Athana dan Tuan Larry serasi."
"Yang satu cantik, yang satu tampan. Benar-benar pasangan yang sepadan."
"Keduanya sama-sama pebisnis besar. Pernikahan ini akan membuat mereka semakin kuat, tidak akan terkalahkan."
"Masing-masing sangat beruntung memiliki satu sama lain."
Beberapa komentar terlontar dari para tamu undangan, yang sebagian besar adalah orang-orang kalangan atas. Bahkan, tak jarang dari mereka berasal dari negara lain. Datang ke sana demi menyaksikan pernikahan antara Athana Morgan dengan Larry Cox.
Dengan senyum yang terukir sempurna di bibirnya, Athana terus melangkah ke atas panggung. Larry pun masih setia di sampingnya. Namun, pikiran lelaki itu tidak fokus pada acara, melainkan melanglang pada arah yang lain.
"Sial, 'dia' tidak bisa dikendalikan lagi," batin Larry.
__ADS_1
Dia merasakan reaksi dari bagian tubuhnya, yang tak lain dan tak bukan karena Athana. Melihat senyumnya yang menawan, juga gerakan tangannya yang gemulai ketika menyapa tamu, membuat Larry terpukau dan teringat kembali dengan manis bibirnya. Sampai otaknya hanya dipenuhi dengan 'petualangan' bersama Athana, yang sayangnya baru terealisasi dalam imajinasi.
Bersambung...