
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Para tamu undangan sudah meninggalkan tempat, tersisa rekan dekat saja yang masih berkumpul di sana. Berbincang sambil menikmati jamuan yang masih melimpah.
Dalam hal ini, Dove yang bertanggung jawab. Layaknya tuan rumah, dia bergabung bersama mereka dan memastikan pelayanan yang terbaik. Dove tidak punya pilihan lain karena pemilik acara sendiri malah sudah meninggalkan tempat.
Larry dan Athana, sepasang pengantin itu detik ini sudah berada di atas kapal pesiar. Larry memang tak ingin menunggu lama, selepas acara dia langsung mengajak Athana menuju dermaga. Dengan tangan yang saling bertautan, keduanya naik ke atas kapal, yang kemudian mulai bergerak meninggalkan tempat semula.
Sebenarnya, pemandangan malam cukup indah untuk dinikmati dari luar. Namun, embusan anginnya terlalu dingin, apalagi Athana masih mengenakan gaun pengantin dengan bahu yang terbuka. Akhirnya, Larry membawa Athana menuju kabin atas—kabin paling istimewa yang Larry khususkan untuk malam-malam indah mereka.
"Wah, ini luar biasa! Larry, kamu menyiapkan ini untukku?" tanya Athana.
Dia terpukau dengan kabin yang baru saja dimasuki. Ada ranjang besar, lengkap dengan hiasan kelopak mawar. Di sampingnya terdapat meja kecil yang dipenuhi kosmetik. Tak jauh dari sana, terdapat dua sofa yang saling berhadapan. Di tengahnya terdapat meja kaca yang sudah dilengkapi dengan minuman dan buah-buahan. Selain itu, aroma yang menguar benar-benar memikat. Wanginya yang lembut, tetapi juga menusuk, sungguh memabukkan.
"Memangnya untuk siapa lagi? Hanya kau wanitaku." Jawaban Larry menghadirkan rasa hangat yang terus menjalar, yang akhirnya memancing sebuah hasrat.
Namun, Athana belum ingin jatuh ke sana. Pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon masih menarik perhatiannya. Dia tidak mau melewatkannya begitu saja, harus melihat terlebih dahulu meski hanya sekejap.
Larry pun tidak masalah dengan itu. Dia mengikuti ke mana langkah istrinya. Tak ingin membiarkannya sendirian walau hanya sebentar.
"Wow!" puji Athana ketika pintu sudah terbuka.
__ADS_1
Sepasang matanya disambut dengan keindahan kota yang tampak berkelip, juga langit bertabur bintang yang tak terhitung jumlahnya. Saking terpesonanya dengan sang malam, Athana sampai mengabaikan rasa dingin yang mulai menyapu wajah dan tubuhnya.
Sampai kemudian, rasa dingin itu berbaur dengan kehangatan yang melingkar di pinggangnya. Larry, dengan erat memeluk Athana dari belakang. Ikut menikmati suasana malam dengan menyandarkan dagu di atas bahu Athana. Menghirup wangi tubuh yang menjadi candu di antara aroma basahnya malam.
"Larry," panggil Athana dengan pelan.
"Hmmm."
"Begitu istimewa pernikahan dan bulan madu yang kamu persiapkan. Jujur, aku sangat bahagia. Tapi ... ada sedikit hal yang sejak kemarin mengganjal. Larry, aku bukan gadis muda lagi. Bagaimana jika nanti aku tidak bisa memberimu keturunan? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Athana dengan hati-hati.
"Tidak ada. Aku tetap mencintaimu dan berusaha membahagiakan kamu." Larry menjawab tanpa ragu.
Athana terdiam sebelum meneruskan kalimatnya, karena saat itu Larry mengurai pelukan dan kemudian membalikkan tubuhnya, hingga kini mereka berhadapan dalam jarak yang dekat.
"Tujuan utamaku menikah adalah hidup bahagia denganmu. Meski di sisi lain aku juga mengharapkan keturunan, tapi prioritas utamaku tetap kau. Jika kau tidak bisa mengandung anakku, maka wanita lain juga tidak. Siapa pun itu," ucap Larry sambil menangkup pipi Athana.
"Jadi kamu tetap menerimaku meski seandainya ada kekurangan itu?"
Larry mengangguk, "Ke depannya jangan membahas ini lagi. Bisa hamil atau tidak, itu bukan kekurangan. Karena wanita yang kucintai, bagiku adalah wanita yang sempurna."
__ADS_1
Athana tersenyum lebar, lega dan bahagia hatinya setelah mendengar jawaban dari Larry.
Demi menunjukkan rasa bahagia yang tak terkira, Athana mengambil inisiatif untuk mencium bibir Larry, memulai malam yang pasti akan sangat panjang.
Larry pun menyambut baik hal itu. Tangan kekarnya dengan sigap merengkuh erat tubuh Athana hingga tak tersisa jarak. Bibirnya pula dengan lihai bermain dan menyesap semua rasa yang ada di bibir sang istri. Keduanya memadu cinta dengan mesra, sampai-sampai bintang di atas sana berkedip malu ketika menyaksikannya.
"Kita akan saling memiliki, Athana," bisik Larry di sela deru napas yang memburu. 'Keinginannya' sudah mencapai puncak dan dia tidak akan menahan lagi.
"Ya, bawa aku ke manapun kamu mau," jawab Athana juga dengan bisikan, dan disertai kerlingan nakal. Tak dipungkiri, ia juga terpancing untuk melakukan sesuatu yang lebih dalam lagi.
"Kau sendiri yang meminta. Nanti jangan harap aku akan memberimu ampun."
Larry bicara sambil menggendong tubuh Athana, membawanya masuk karena udara di luar sangat dingin. Larry tak ingin malam panjangnya terganggu dengan itu.
Dalam gendongan Larry, Athana menyandarkan kepala di dada bidang sang suami. Menikmati aroma wangi yang bercampur nikotin, khas seseorang yang kini menjadi pemilik hati.
"Aku benar-benar jatuh dalam cintamu, Larry," batin Athana sambil menenangkan detak jantung yang
berdegup kencang. Makin dekat ia dengan ranjang, makin tak beraturan pula debar-debar yang ia rasa.
__ADS_1
TAMAT