Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Di Ambang Kekalahan


__ADS_3

Dalam satu kali tarikan, peluru dari pistol Athana melesat dan tepat mengenai lampu yang menggantung dengan terangnya. Tidak sampai terjatuh, tetapi padam seketika. Lantas, bibir wanita itu mengulas senyum lebar. Tempat yang semula benderang, kini sekadar remang-remang. Memang itulah yang diinginkan Athana. Dia memilih keadaan suram karena Mike dan orang-orang Red bukanlah lawan yang mudah.


Kemudian, Athana melanjutkan langkah dan lagi-lagi menembak lampu yang menyala. Athana terus melakukan hal yang sama sampai hampir tiba di depan ruangan Mike.


Bukan hal yang mudah untuk tiba di sana. Beberapa anggota Red ada yang keluar dan mencari tahu tentang kekacauan yang dia buat. Namun, sebagai pembunuh yang andal dan sangat hafal dengan tempat itu, maka Athana bisa bersembunyi dari jangkauan mereka.


"Siapa di sana?"


"Cepat keluar!"


Teriakan demi teriakan terlontar dari mulut mereka, bersamaan dengan derap langkah yang makin lama makin mendekati dinding penyekat tempat Athana bersembunyi.


"Keluar sebelum aku bertindak kasar!"


Sepasang mata Athana menatap tajam dari persembunyiannya. Lantas, seulas senyum licik tercetak jelas di bibirnya.


"Di dalam ruangan Mike pasti tersimpan alat dan senjata yang mengerikan. Akan lebih aman kalau dipancing keluar tanpa persiapan," batin Athana.


Dalam hitungan detik, tangan lentik yang terlihat anggun kembali mengangkat senjata. Dengan gerakan cepat, peluru kembali melesat dan kini sarannya bukan sekadar lampu, melainkan jantung manusia. Dua orang yang tadi akan mendekat, sekarang terkapar dengan darah yang mulai bersimbah.


"Cepat! Cepat! Ada penyusup!" salah seorang lagi datang dan memanggil ketiga kawannya. Namun, satu pun dari mereka belum ada yang melihat wajah Athana, sekadar tahu bahwa ada orang yang bersembunyi di balik dinding penyekat.


Tak lama kemudian, empat orang yang baru datang, langsung menyerang brutal ke tempat persembunyian Athana. Namun karena desain temboknya cukup ampuh, maka peluru tak bisa menembus. Lantas dua di antara mereka menyerang dengan lebih dekat lagi.


"Cepat kemari dan urusanku akan segera selesai!" batin Athana masih dengan senyum liciknya.


Dalam hitungan detik, dua orang yang pernah menjadi rekan sudah tiba di hadapan Athana. Masing-masing mengacungkan senjata dan siap melubangi jantungnya. Namun, niat itu terjeda sesaat karena terkejut dengan kenyataan yang ada. Walaupun tadi pagi Johan sudah mengurung Athana, tetapi mereka masih tak menyangka jika dia benar-benar pengkhianat.


Ketika mereka masih terkejut, Athana memanfaatkan kesempatan dengan baik. Dia melepaskan tembakan sambil menendang tangan lawan. Alhasil, salah seorang terkapar dan sekarat, sedangkan satu orang lainnya terhuyung dan pistolnya terjatuh. Lantas dengan sigap Athana mengambilnya.


"Athana, apa yang kau lakukan?" Orang itu kembali berdiri, tetapi mati langkah karena Athana sudah siap menembak, sedangkan dirinya dalam keadaan tangan kosong.


"Membunuhmu!" Bersamaan dengan jawaban yang keluar dari mulutnya, Athana melepaskan tembakan. Satu lagi lawan tumbang dan meregang nyawa akibat ulahnya.

__ADS_1


"Kau pengkhianat!"


Mata Athana memicing saat mantan rekan yang lain ikut mendekat ke hadapannya. Rahangnya tampak mengeras, dada pula naik turun tak beraturan. Terlihat jelas jika dia sangat emosi. Satu detik kemudian, rekan yang lain ikut bergabung dan siap melenyapkan Athana.


"Kau tidak tahu balas budi! Tuan Johan sudah mengangkat derajatmu, tapi malah seperti ini balasanmu! Menyesal aku pernah mengagumimu, Athana!" bentaknya.


"Kau bisa bicara begitu karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!" Athana pun ikut meninggikan suara.


"Kau___"


"Aku tidak butuh omong kosong kalian!" pungkas Athana.


Belum sempat mereka memberikan tanggapan, Athana sudah kembali melepaskan tembakan dua sekaligus. Lagi dan lagi, Athana membunuh lawannya. Kemudian, dia berlari dari persembunyian.


Pada saat yang sama, empat orang datang dan meneriakinya. Karena suara yang ditimbulkan dari kekacauan memang cukup keras, maka tak heran jika mereka yang berjaga langsung datang.


Tak jauh beda seperti rekan sebelumnya, mereka juga terkejut saat melihat wajah Athana. Sosok yang selama ini sering mereka kagumi, tiba-tiba menjadi pengkhianat.


"Athana! Ternyata kecurigaan Tuan Johan memang benar, kau pengkhianat!"


"Ini saat yang tepat untuk memancingnya keluar," batin Athana.


"Berhenti, Athana!" teriak orang yang mengejar sembari melepaskan beberapa tembakan.


Dengan lincah Athana menghindar dan menyerang balik. Dua pistol di tangannya melesatkan peluru dan berhasil melukai lawan. Satu orang ambruk tak berdaya, sedangkan tiga lainnya masih bisa menghindar.


Karena keadaan sudah genting. Salah satu orang menggedor pintu ruangan Mike guna meminta bantuan. Meski bertiga, tetapi mereka tak yakin bisa melawan Athanya. Karena buktinya, beberapa kawan mereka sudah tumbang, sedangkan Athana masih bugar, tidak terluka sedikit pun.


Selagi mereka masih sibuk memanggil Mike, Athana terus menyerang tanpa ampun. Sampai akhirnya, mereka bertiga ambruk dan meregang nyawa.


Pada saat itu pula, pintu ruangan Mike terbuka. Sosok pria bertubuh kekar keluar sambil membawa pistol. Matanya memicing saat beradu pandang dengan Athana.


"Kau___"

__ADS_1


Ucapan Mike hanya menggantung karena Athana langsung menyerangnya. Karena belum siap, Mike terpukul mundur dan menjauh dari ruangannya. Athana tersenyum puas. Memang itu yang dia harapkan. Dia tak ingin Mike kembali dan mengambil alat canggih yang mengerikan.


"Wanita brengsek! Mati saja kau!" Umpatan kasar terdengar keras di antara desing-desing peluru yang saling memburu sasaran.


Namun, Athana tak acuh dengan umpatan itu. Dia lebih fokus menghadapi tindakan Mike, karena kemampuan pria itu tidak main-main.


"Ahh!"


Nahas. Setelah beberapa menit bertarung, Mike berhasil menjatuhkan Athana. Selain tendangan kasar yang membuat Athana kehilangan pistol, Mike juga melepaskan tembakan yang tepat sasaran—bahu kiri. Bagian tubuh yang menjadi kelemahannya, kini kembali dilubangi peluru panas.


Athana meringis menahan sakit yang teramat kuat. Jangankan untuk berlari atau melanjutkan perlawanan, berdiri tegak saja ia nyaris tak mampu.


"Kau terlalu angkuh, Athana. Menganggap dirimu tinggi dan bisa melakukan apa pun. Heh, hanya mimpi!" bentak Mike sambil melangkah mendekati Athana, dengan tangan yang masih memegang pistol dan mengarah pada Athana.


Athana tak menjawab, sekadar beringsut mundur dan berusaha menjauh dari jangkauan Mike.


"Dasar pengkhianat!" Mike kembali membentak, dan kali ini berhasil mengusik pertahanan Athana.


"Kau yang pengkhianat! Kau telah mengirimku dimensi lain! Kau berniat membunuhku!" Athana tak bisa bungkam lagi. Emosinya terpancing saat disebut pengkhianat oleh seseorang yang telah mengkhianatinya.


"Itu adalah kemauan Tuan Johan. Kau sendiri yang angkuh dan mencari masalah dengannya. Kau memang pantas mati!"


"Brengsek! Aku sudah berjasa banyak pada Red. Kalian tidak berhak melakukan ini," sahut Athana.


Mike tertawa keras," Kau juga pembunuh, pasti paham aturan kami. Siapa yang kuat, dia yang menang. Jika kau ingin menjadi pemenang, maka duduklah di posisi yang tinggi!"


Athana terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Mike. Siapa yang kuat, maka dialah yang menang. Sedangkan orang lemah hanyalah makanan para penguasa yang memiliki banyak kekuatan.


"Tapi, aku bukan orang lemah. Aku juga punya kekuatan untuk bertahan. Semua ini ... aku sama sekali tidak rela. Aku akan membuat perhitungan!" batin Athana.


"Katakan padaku siapa yang membantumu keluar dari dimensi itu!" bentak Mike. Namun, Athana tetap bergeming.


"Jika kau tidak mau menjawab, maka detik ini juga kau akan mati!"

__ADS_1


Tubuh Athana sudah merapat di dinding, sedangkan Mike makin mendekat ke arahnya. Athana menatap nanar pada lubang pistol yang mengarah ke dadanya. Ingin sekali dia bangkit dan melakukan perlawanan. Namun, tenaganya sudah terkuras habis akibat rasa sakit yang makin menikam. Bahkan, kini napasnya saja mulai tersengal.


Bersambung...


__ADS_2