
Deschara Alister, nama dari seorang wanita yang kini hanya bisa dipandang lewat gambar. Parasnya yang cantik molek bak boneka, juga senyum yang manis nan memikat, hanya ada di dalam ponsel Larry. Sedangkan wujud nyatanya, sudah damai di alam sana.
"Aku merindukanmu, Sayang," ucap Larry sembari mengusap layar ponsel.
Di sana, senyuman Deschara mengembang sempurna, sangat menawan. Larry ingat benar, foto itu diambil saat pertama kali mereka menjalin hubungan. Tak disangka ternyata kebersamaan mereka sangat singkat, kebiadaban Johan mempercepat kematian Deschara.
Setelah cukup lama menatap wajah Deschara, Larry bangkit dari duduknya sambil membuang napas kasar. Lantas, mendekati sudut ruangan yang mana terdapat sebuah alat canggih, yang ia ciptakan sendiri setelah terjebak lama dalam pusaran waktu.
"Sebentar lagi kita akan kembali bersama, Sayang," gumam Larry dengan penuh kerinduan.
Kemudian, mata hazel itu menerawang dengan tajam, mengingat kenangan silam yang amat kelam. Masih tergambar jelas dalam memori Larry, tubuh Deschara meringkuk di kamar mandi. Terdapat sayatan parah di pergelangan tangan, bahkan sampai memutus urat nadi. Darah bersimbah hingga mengubah warna gaun menjadi merah pekat. Wajah pucat itu, sampai kapan pun Larry tidak akan melupakannya.
"Darah ini tidak hanya berasal dari luka, tapi juga pendarahan karena keguguran. Ada janin yang berusia sekitar empat minggu di rahimnya."
Larry memejam ketika penjelasan dokter kala itu berputar-putar dalam otaknya. Kehamilan Deschara menjadi pukulan terberat dalam hidupnya. Bagaimana tidak, ia tak pernah melakukan hal intim, tetapi tiba-tiba Deschara hamil.
"Mungkin dia selingkuh dan takut kau marah, jadi bunuh diri," komentar Johan kala itu. Namun, Larry sama sekali tidak percaya. Dia yakin Deschara selalu setia, dan kehamilan itu, mungkin saja terjadi karena paksaan.
Sekitar tiga bulan berlalu, semuanya terungkap. Bermula dari kehadiran Jessy yang terlahir dari rahim wanita lain, Larry berselisih dengan Johan. Ia tidak rela jika kakaknya diperlakukan demikian. Namun, perselisihan itu berakhir fatal dan Larry hampir kehilangan nyawanya. Pada saat sekarat itulah, Larry mendengar pengakuan Johan.
__ADS_1
"Deschara sangat cantik, aku tidak tahan jika hanya menatap saja. Dan beruntung sekali aku, ternyata keperawanannya masih kau jaga. Tapi, aku tidak suka dengan sikapnya yang angkuh, gemar sekali mengumpat dan memaki. Aku tersinggung, jadi ... terpaksa kubungkam mulutnya."
"Iblis Johan! Kamu akan merasakan sakit yang berkali-kali lipat!" geram Larry setelah mengingat semua kenangan yang menyakitkan, yang bertumpu pada kebejatan Johan.
_____________
Sudah genap satu minggu Athana terbaring dan menjadi pasien Leon. Kondisinya benar-benar membaik sekarang, tidak ada lagi rasa sakit dan nyeri di bagian kaki maupun bahu. Hanya saja, Leon masih melarangnya beraktivitas berat. Khawatirnya akan kambuh dan lebih parah lagi.
Namun, bukan Athana namanya jika mengindahkan saran dokter. Kaki dan tangannya sudah gatal untuk menemui Johan dan melampiaskan dendamnya, seperti yang dijanjikan Larry.
"Seharusnya dia sekedar beristirahat, menjaga pola makan, dan minum obat secara teratur, bukan berkelahi seperti ini. Aku tidak bertanggung jawab jika nanti terjadi sesuatu dengannya," ucap Leon dengan sedikit kesal.
Larry tertawa. Dia sangat tahu seperti apa sifat Leon, selalu memprioritaskan pasien, maka tak heran dia akan kesal ketika menghadapi pasien yang pembangkang.
"Terserah kalian saja!" sahut Leon masih dengan muka masam, yang lantas membuat tawa Larry makin lepas.
Tanpa dia sadari, Athana memperhatikannya secara diam-diam. Selama mereka kenal, baru kali ini Athana melihat tawa di bibir Larry. Sungguh momen yang langka.
"Di balik sikap dinginnya, ternyata masih ada perasaan hangat yang tersimpan. Aku tidak tahu seperti apa masa lalunya, tapi aku yakin itu bukan sesuatu indah. Bahkan, mungkin lebih kelam dari masa laluku sendiri," batin Athana.
__ADS_1
"Athana, ayo!"
Lamunan Athana buyar karena terkejut dengan ajakan Larry. Ketika saling beradu pandang, wajah lelaki sudah kembali ke setelan pabrik, yakni dingin dan datar.
Athana tak banyak bicara, apalagi mempermasalahkan raut wajah yang mendadak berubah. Ia diam sambil mengikuti langkah Larry yang cukup lebar.
"Sebelum menemui Johan, bagaimana kalau kita menemui Dove dulu?" ucap Larry.
"Dia masih ada di sini?" Athana balik bertanya. Ia sedikit heran karena Dove sudah punya keluarga. Jika ucapan Larry benar bahwa Dove baik-baik saja, untuk apa dia masih ada di tempat Larry? Mengapa tidak pulang saja?
"Iya." Larry menjawab singkat.
"Dia baik-baik saja, kan? Kamu tidak menutupi sesuatu dariku, kan?" Athana menatap curiga.
"Dia ... baik. Tapi mungkin, dendammu kepada Johan akan lebih membara jika melihat sendiri keadaan Dove," jawab Larry sambil tetap melangkah.
"Apa maksudmu?"
"Lihat saja nanti." Larry mengembuskan napas kasar, tanpa memberikan jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
"Semoga dia baik-baik saja," ucap Athana dalam hatinya. Sebisa mungkin menenangkan perasaan yang mulai dipenuhi prasangka buruk.
Bersambung...