
Dua hari setelah Larry resmi pergi, Athana kembali menemui Dove, yang saat itu masih menjalani perawatan untuk pemulihan kakinya. Athana duduk di samping ranjang, tempat Dove berbaring. Lantas, mengembuskan napas berat sebelum mengutarakan niat. Ya, sudah cukup dia menenangkan diri di tempat ini. Sekarang waktunya kembali ke tempat asal dan mengelola aset yang seharusnya menjadi haknya.
"Aku akan pergi, kembali ke tempat tinggalku dulu. Kamu baik-baiklah di sini, jaga apa yang sudah diamanatkan oleh Larry," ucap Athana sembari mengembuskan napas berat.
Mendengar pernyataan itu, wajah Dove berubah masam. Selama ini, keahliannya di bidang medis. Lalu sekarang, diwajibkan bertanggung jawab atas semua aset yang di luar bidangnya. Apakah dirinya bisa?
"Dove!"
"Aku masih bingung, bagaimana nanti melewati semua ini. Athana ... kami benar-benar pergi?" sahut Dove dengan tatapan yang dalam, berharap Athana tetap di sana dan membantunya mengurus Red serta aset lain milik Larry.
Athana menarik napas panjang, "Aku ingin memperbaiki hidup, melupakan semua kenangan-kenangan kelam yang ada di sini. Aku hanya ingin memiliki apa yang menjadi hakku."
"Tapi___"
"Dove, kamu tidak meneruskan Red sebagai organisasi pembunuh bayaran. Kamu bisa mengubahnya perlahan-lahan, menjadikannya bisnis yang legal. Dengan sedikit kesabaran, kamu bisa menggunakan itu untuk menunjang bidang yang kau geluti," pungkas Athana.
Dove diam sejenak, memikirkan dengan matang apa yang Athana sampaikan. Memang ada benarnya, tetapi masalahnya, mampukah ia melakukan itu. Sedangkan selama ini, yang dia tahu hanyalah mengobati orang sakit.
"Kamu pasti bisa!" ujar Athana, membuyarkan renungan Dove.
__ADS_1
"Aku setuju dengan Athana. Kau pasti bisa! Sudah cukup lama kau bekerja pada Johan, aku yakin sedikit banyak kau tahu seluk beluk dunia bisnis. Dengan pengalaman dan modal yang kau punya sekarang, mengelola semua ini bukan hal yang sulit. Selama kamu yakin dan berani, pasti bisa!" timpal Leon, yang belum lama bergabung dengan mereka.
"Baiklah! Akan aku coba." Dove pasrah dan akhirnya menerima amanat itu. Namun, bagaimana akan menolak. Larry sudah telanjur pergi, sedangkan aset masih tertinggal di sana.
___________
Burung besi yang membawa Athana sudah mendarat di bandara, di tanah kelahirannya. Dengan kacamata hitam dan rambut panjang kecokelatan yang dibiarkan meriap, Atahana berjalan sembari menyeret koper.
Tak lama kemudian, ia pun tiba di mobil yang menjemput. Kepulangannya memang sudah dipersiapkan dengan matang. Selama dua hari kemarin, dia menyelidiki bisnis keluarga yang ternyata makin berkembang. Lantas, Athana juga mencari informasi tentang hotel yang tak jauh dari sana. Jadi, sekarang dia tidak bingung lagi akan tinggal di mana. Uang yang dia bawa, lebih dari cukup untuk hidup selama beberapa bulan ke depan.
"Papa, Kakak, aku kembali. Aku akan meminta apa yang menjadi hakku," batin Athana dengan rahang yang mengeras.
"Masa itu akan kembali," ucap Athana masih dalam hati.
Lantas, rasa sesak yang tadi sempat mengimpit dada perlahan terkikis ketika dirinya sudah tiba di hotel dan memanjakan tubuh dengan berendam air hangat.
"Kau masih punya waktu untuk menenangkan diri, Papa. Sebelum nanti malam aku akan datang ke tempatmu," ujar Athana dengan senyum yang terkulum.
Sesuai dengan rencananya itu, tepat pukul 08.00 malam Athana bertandang ke rumah lamanya. Dengan mengendarai mobil sewaan, tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di sana.
__ADS_1
"Aku datang, Papa." Athana bicara sembari membuka pintu mobil, lantas melangkah turun dan melangkah menuju pintu gerbang.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" sapa lelaki dewasa yang berjaga di sana.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Anston. Katakan pada beliau, saya adalah perwakilan dari Perusahaan Jaya, datang ke sini untuk membahas kerja sama yang beliau ajukan," dusta Athana. Dari hasil penyelidikannya selama dua hari, saat ini perusahaan Anston akan menjalin kerja sama dengan Perusahaan Jaya.
Mendengar jawaban Athana, penjaga langsung menginformasikan hal tersebut kepada tuannya. Anston pun tersenyum senang, dia pikir memang perwakilan Perusahaan Jaya yang datang. Saking tingginya ambisi untuk mendapatkan kontrak itu, ia sampai menyepelekan kejanggalan yang sebenarnya cukup kentara.
"Silakan masuk, Nona! Tuan sudah menunggu Anda di dalam."
"Terima kasih." Athana mengulas senyum penuh kemenangan. Ternyata Anston tak banyak berubah, tetap ambisius sampai terkadang melupakan logika.
Selangkah demi selangkah Athana menapaki halaman rumah itu, sudah cukup banyak yang berubah. Direnovasi hingga jauh lebih mewah dari waktu lalu.
Athana terus berjalan sampai tiba di ambang pintu utama. Di sanalah, ia langsung disambut oleh pria paruh baya yang tak lain adalah Anston.
"Papa!" sapa Athana sembari tersenyum lebar.
Anston tersentak dan melangkah mundur, tak menyangka jika anak yang pernah dicampakkan kembali lagi dengan keadaan yang lebih baik. Selain penampilan yang elegan, Athana juga terlihat tegas dan menakutkan. Nyali Anston sedikit menciut hanya karena beradu pandang dengannya.
__ADS_1
Bersambung...