
Air mata terus berjatuhan dan membasahi wajah Athana. Wanita tegas dan kejam yang selama ini andal mengambil nyawa orang, kini duduk sambil memeluk lutut. Tangisnya pecah dan pikirannya luar biasa kacau.
"Dia pernah menolongku."
Sudah berulang kali ucapan itu terlontar di sela-sela tangisnya. Masih tidak percaya Johan berada dalam posisi yang hina dan menderita. Larry, entah iblis apa yang menjelma menjadi dia.
Tak jauh dari tempat Athana saat ini, Larry berdiri sambil menatap lekat.
"Sekejam apa pun kehidupan yang ia jalani, dia tetaplah seorang wanita. Pasti ada sisi lembut yang tidak bisa dihempaskan begitu saja. Wajar. Apalagi ... Johan memang punya peran penting bagi Athana," batinnya.
"Andaikan aku juga punya hutang budi, pasti tidak akan setega ini. Tapi nyatanya, sejeli apa pun aku memilah kenangan, tidak ada hal baik yang Johan berikan padaku, pada Kak Julia, dan juga Deschara. Hanya kenangan buruk yang masih abadi dalam ingatan," sambungnya masih dalam batin.
Tak lama setelah itu, Larry melangkah maju dan mendekati Athana. Dipegangnya dengan pelan bahu yang terguncang seirama tangis.
"Athana!" panggil Larry.
Athana tersentak dan langsung mendongak. Secepat pula menurunkan kakinya dan mengusap air mata yang membasah di pipi.
"Johan sudah meninggal, jasadnya sudah diurus oleh orang-orangku." Larry berucap sembari duduk di samping Athana. Lantas, meletakkan pistol di meja dan menyandarkan punggung di sofa itu.
__ADS_1
Athana tak memberikan jawaban, sekadar menarik napas panjang guna menenangkan benak yang bergejolak. Mati lebih baik, dari pada menderita seperti tadi, pikir Athana kala itu.
"Maaf jika tindakanku keterlaluan. Tapi ... sekian lamanya memendam rasa sakit itu juga tidak enak. Aku kehilangan orang-orang yang kusayangi karena dia, dan sebelum itu aku sudah memberikan bekal untuk hidupnya. Pengkhianatan, itu yang membuatku senekat sekarang," ucap Larry sembari mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Athana masih belum bereaksi. Dia paham betapa terlukanya hati Larry.
"Setelah ini ... Red dan semua aset ini, aku serahkan ke kamu dan Dove. Karena ... kalian berdualah orang yang bisa kupercaya. Aku tidak menyuruh kalian untuk meneruskan bisnis ilegal Red, terserah jika mau kalian ubah atau bagaimana. Itu hak kalian, tapi ... satu yang sangat kuharap. Jangan memecat orang-orang yang bekerja di sini, selama ini mereka mengikutiku dan tidak pernah berkhianat. Tapi, jika orang-orang di Red, terserah. Kau yang lebih tahu tentang mereka."
Kali ini Athana menoleh dengan ekspresi bingungnya.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
"Bertahun-tahun aku terjebak di sana. Akhirnya aku bisa membuat alat-alat canggih seperti Mike, dan bahkan juga lebih darinya. Aku ... berhasil membuat mesin waktu yang akan membawaku ke masa lalu. Aku belum rela kehilangan Kak Julia dan Deschara. Aku ingin bersama-sama lagi dengan mereka. Tidak apa meski aku harus kembali ke masa lalu dan mengulang semuanya. Dengan begitu, aku bisa memperbaiki keadaan."
Penuturan Larry membuat Athana tercengang. Sangat tidak masuk akal menurutnya. Andai sebelumnya dia tak pernah terlempar ke dunia novel, sedikit pun tidak akan mempercayai ucapan Larry. Mesin waktu, dia pikir hanya ada dalam film-film fantasi. Namun ternyata, dalam dunia nyata juga ada.
"Mesin waktu ... bagaimana cara kerjanya? Apa khusus untukmu saja atau ... bisa juga untuk orang lain?" tanya Athana. Di antara rasa percaya dan tidak, dia menggantungkan sedikit harapan yang terbaik dalam hidupnya.
"Kenapa?" Larry balik bertanya.
__ADS_1
"Aku juga ingin kembali ke masa lalu." Athana menatap lurus ke depan, meraba kilasan demi kilasan kenangan kelam dalam hidupnya.
"Masa lalu yang mana?"
"Masa lalu di mana aku belum kehilangan kesucian."
"Kau ingin memperbaiki itu agar hubunganmu dengan Alex tidak berkahir seperti ini? Kau menyesal berpisah dengan Alex?" tanya Larry.
Athana menggeleng, "Ini bukan tentang Alex atau percintaan yang ... manis mungkin. Tapi, tentang penyesalan yang lebih dari sekedar rasa. Jika kesucianku tidak hilang, aku tidak akan terpuruk, juga tidak bertemu dengan Johan. Dan hidupku yang gelap ini, tidak akan pernah ada. Penyesalan terbesarku adalah menjadi seorang pembunuh. Jadi jika itu masih bisa diperbaiki, akan aku lakukan."
Larry mengangguk sembari mengulas senyum tipis, lalu mengubah posisi duduknya dan menghadap ke Athana.
"Jika itu yang menjadi alasanmu, coba pikir-pikir lagi. Yang bisa kau bawa ke bawa masa lalu hanyalah ingatan, sedangkan harta dan kemampuan fisik tidak. Mengingat posisimu dulu yang sangat tidak bagus, yakin bisa memiliki kehidupan lebih baik dari sekarang?" ucap Larry, yang langsung ditanggapi dengan tatapan intens.
"Orang tua palsumu sangat kejam, dengan keadaanmu yang lemah, apa kamu bisa melawan? Apa kamu bisa menuntut keadilan untuk orang tua kandungmu? Katakan kau punya keberuntungan dan bisa melakukan semua itu. Tapi, yakin kamu tidak jadi pembunuh? Selama bekerja di Red kau pasti tahu sekeras apa dunia bisnis. Mereka yang tidak melakukannya sendiri, akan menyewa pembunuh bayaran untuk melancarkan misinya. Bukan tidak mungkin kamu juga melakukan hal yang sama, Athana. Atau kalau tidak ... kamu akan hancur seperti mereka-mereka yang bersih dan kalah bersaing. Akhirnya ... kau kembali terpuruk." Ucapan Larry membuat Athana mengerjap cepat.
"Bandingkan dengan keadaanmu yang sekarang. Dengan posisi ini, kau bisa kembali pada keluarga palsumu dan mencari keadilan untuk orang tuamu. Kau sudah punya banyak bekal untuk menghadapi kerasnya hidup. Kau bebas memilih masa depanmu, tetap menjadi pembunuh atau berhenti dan menjadi pebisnis. Jadi, pikirkan dulu dengan matang sebelum mengambil keputusan. Bandingkan cara mana yang paling tepat untuk memperbaiki kesalahan," sambung Larry sambil beranjak dari duduknya. Lalu pergi dan meninggalkan Athana yang masih bergeming.
Bersambung...
__ADS_1