Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Sebuah Pilihan


__ADS_3

Di dalam ruangan yang mewah dan elegan, Anston dan Athana duduk berhadapan. Anston masih dalam kecemasannya, sedangkan Athana dalam berjuta kelegaan. Menatap pria yang dulu kejam dan sekarang tercetak jelas mimik ketakutannya, Athana merasa menang. Tatapan tajam dan ketegasan saja rupanya sudah bisa mengusik lawan.


"Aku ingin bicara penting, jadi ... gunakan pendengaranmu dengan baik, karena aku tidak akan mengulang barang satu kata pun!" ucap Athana sembari mengangkat satu kaki dan menyilangkannya di kaki yang lain.


"Jangan belagu! Cepat katakan saja apa yang ingin kamu katakan!" sahut Anston. Dia berusaha menjaga wibawa meski sedikit demi sedikit sudah terkikis.


Athana tersenyum miring, "Kembalikan semua aset yang kau rampas dari orang tuaku!"


Belum sempat Anston menjawab, tiba-tiba dua orang datang dari luar. Athana menatap ke arahnya sembari menyunggingkan senyum anggun.


Mereka adalah kakak palsu Athana—Sanny dan suaminya—Luis. Keduanya menatap angkuh ke arah Athana. Terlebih lagi Sanny, muak dia melihat keberadaan Athana di rumahnya.


"Untuk apa kamu pulang? Dengar baik-baik ya, aku tidak sudi melihat kamu menginjakkan kaki di rumah ini! Kamu hanya wanita kotor, tidak___"


Umpatan Sanny terpotong karena Athana melayangkan tamparan keras untuknya. Meski wanita, tetapi dia sudah terbiasa membunuh. Jadi, satu kali tamparan sudah cukup untuk menanggalkan satu gigi Sanny.

__ADS_1


"Kamu keterlaluan!" Kali ini Luis yang menyahut, sembari menarik kasar baju Athana.


Namun, Athana tidak gentar sedikit pun. Apalah artinya Luis seorang, sedangkan dulu melawan beberapa orang mafia saja bukan masalah baginya.


"Lepaskan atau kau akan menyesal!" bentak Athana dengan tangan yang masih diam.


"Kau yang akan menyesal!" Bukan hanya suara yang berintonasi tinggi, melainkan juga cengkeraman yang makin kuat. Luis sangat marah karena Athana berani menyakiti Sanny.


Tanpa aba-aba, Athana langsung mendorong tubuh Luis hingga terjerembab ke lantai. Lelaki itu sempat meringis karena lengannya terasa sakit.


Meski tak semua orang tahu di mana markasnya, juga siapa saja anggotanya, tetapi desas desus tentang sepak terjangnya sudah mendunia. Hampir tidak ada pihak yang berani bersinggungan dengannya. Sekarang pun, belum mencuat keluar tentang intrik yang terjadi di dalam Red, termasuk kematian sang pemimpin tertinggi.


"Kau___" Anston menunjuk ke arah Athana dengan gemetaran.


"Pasti kalian berpikir aku akan hancur di luar sana. Heh, kalian salah besar. Justru dari masalah yang kalian beri, aku bisa meloncat tinggi, bahkan melebihi kalian. Anston, oh, Papa, jangan membuatku mengulang perintah atau ... aku akan bertindak seperti yang sering kulakukan selama ini!" Athana tersenyum miring, puas rasanya menggertak orang-orang yang ikut andil dalam sisi kelam hidupnya.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Anston, pun dengan Sanny. Wanita dengan penampilan glamour itu sekadar mendekati ayahnya dan menanyakan apa yang diinginkan Athana. Kemudian, matanya membelalak lebar ketika Anston memberikan penjelasan.


"Tidak, aku tidak mau jatuh miskin!" Sanny histeris. Dia terbiasa hidup mewah, tidak akan mampu jika harta itu diambil begitu saja.


"Aku beri waktu satu malam untuk berpikir. Menyerahkan dengan baik atau ... membiarkan aku mengambilnya dengan paksa." Usai berucap demikian, Athana melangkah pergi meninggalkan mantan keluarganya.


Namun, belum jauh ia berjalan, ayunan kakinya kembali terhenti. Kemudian, menoleh dan melayangkan tatapan membunuh.


"Aku bukan Athana yang dulu. Jika kalian mencoba mengelabui, maka___" Athana mengambil sesuatu dari balik baju, yang tak lain adalah pistol, "___peluru-peluru ini akan bersarang di kepala kalian," sambungnya sembari mengulas senyum licik.


Bulu kuduk Anston meremang, aura pembunuh benar-benar terlihat dalam diri Athana. Bahkan, punggung yang kini makin menjauh pun masih menyisakan hawa yang mencekam.


"Pa, kita harus bagaimana?" Sanny menangis dan mendekati ayahnya.


Luis turut mendekat dan menenangkan sang istri, "Aku pasti melindungimu. Tidak akan kubiarkan dia melakukan hal buruk untuk keluarga ini."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2