
Dua hari setelah dirawat di tempat Larry, kondisi Athana mulai membaik. Dia sudah bisa bangkit dan berjalan sendiri ke kamar mandi meski dengan tertatih. Bahunya pun tidak sesakit sebelumnya, peluru sudah berhasil dikeluarkan dan lukanya diobati secara maksimal. Leon tak jauh beda dengan Dove, sangat andal dalam merawat pasien.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Athana tidak nyaman, yakni Larry. Sejak berbincang dengannya tempo hari, lelaki itu tak pernah muncul lagi. Entah ke mana. Leon pun tak memberikan jawaban yang memuaskan ketika Athana bertanya.
Hari ini, untuk kesekian kalinya Leon datang dan memeriksa kondisi Athana. Memberikan obat, sekaligus makan siang untuk wanita itu. Untuk kesekian kali juga, Athana kembali menanyakan keberadaan Larry.
"Tuan Larry sedang sibuk. Nanti jika sudah senggang, dia pasti menemuimu," jawab Leon, lagi-lagi sama persis dengan jawaban sebelumnya.
Athana berhenti menyuap makanannya dan mengembuskan napas kasar, "Aku akan pulang saja."
"Jangan ngawur, kamu masih sakit! Lagipula, kamu mau pulang ke mana?" Leon menatap Athana sekilas di sela-sela aktivitasnya yang sedang meracik obat.
"Aku punya rumah," jawab Athana dengan cepat.
"Maksudmu rumah yang sangat berhubungan dengan Johan?"
Athana terdiam seketika. Sejak ia memberontak Red, Johan pasti menyimpan dendam kesumat padanya. Di kediaman, semua bawahan berpihak kepada Johan. Entah berapa lama ia bisa bertahan hidup jika kembali ke rumah itu.
"Saat ini tempat yang paling aman hanya di sini. Jadi, tenanglah dan jangan keras kepala."
"Aku tidak kenal kamu, juga tidak kenal tuanmu. Mana bisa aku percaya kalau di sini aman." Athana tak mau kalah. Namun, Leon tak menanggapi, sekadar meneruskan aktivitasnya sembari menarik napas panjang.
Dalam beberapa saat, Athana bergeming. Hanya matanya yang tak henti memandangi gerak-gerik Leon. Sampai akhirnya, lelaki itu mendekat ke arahnya dan meletakkan beberapa obat di sana.
"Habiskan makananmu dan minum ini. Aku ada urusan lain," ucap Leon. Lantas, dia melangkah pergi tanpa memedulikan Athana yang masih diam.
__ADS_1
Sepeninggalan Leon, Athana kembali menyuap makanannya. Meski dengan perasaan kesal, ia menghabiskannya, berikut dengan obat yang Leon tinggalkan.
"Walaupun tidak bisa kembali ke rumah lama, tapi aku masih bisa mencari tempat tinggal lain. Untuk apa tinggal di sini, Larry saja sok misterius dan malah menghilang begitu saja. Bukan mustahil aku hanya dijadikan alat untuk kepentingannya sendiri," gumam Athana.
Tanpa memikirkan luka dan rasa sakit yang masih tersisa, Athana melepas paksa slang infus yang terpasang di lengan. Lantas, turun dari ranjang dan melangkah tertatih menuju pintu.
Setelah pintu terbuka lebar, Athana menoleh ke sana ke mari, bingung harus berjalan ke arah mana. Antara kanan dan kiri, hanya koridor yang terlihat. Tidak ada tanda-tanda arah keluar dalam bangunan mewah itu.
Dengan bermodalkan insting, Athana mengambil jalur kiri. Dia berjalan menyusuri koridor panjang yang lengang. Sepanjang langkahnya, hanya ruangan tertutup rapat yang tertangkap. Entah seluruh penghuni sedang sibuk, atau memang hanya segelintir orang yang menghuni bangunan itu.
"Ah, sial," umpat Athana sembari memegangi kakinya yang mendadak sakit, akibat terlalu lelah berjalan.
Kendati demikian, Athana tidak menyerah. Dia terus berjalan dan menahan sakit yang makin menjadi. Beruntung, perjuangan itu tidak sia-sia. Karena sesaat kemudian, Athana melihat lift. Jaraknya tinggal beberapa meter saja dari tempatnya saat ini.
Akan tetapi, harapan Athana hanya tinggal harapan. Selangkah sebelum mencapai lift, ia terjatuh dan tak sanggup berdiri. Kakinya sangat sakit dan tak bisa ditahan lagi.
"Ahhh!"
Lelaki bermata hazel yang baru saja keluar dari ruangannya, membelalak ketika melihat Athana tersungkur di lantai. Dengan cepat ia berlari dan menghampiri wanita itu.
"Kenapa kau ada di sini?" Lelaki yang tak lain adalah Larry, bertanya sambil mengangkat tubuh Athana.
Sebenarnya, Athana ingin berontak saat Larry membawanya kembali ke ruangan yang tadi. Namun, rasa sakit di kaki membuatnya diam dan menurut saja, bahkan ketika Larry menyuruhnya berpegangan. Tanpa membantah, Athana langsung mengalungkan tangannya di leher Larry. Aroma woody pun menyeruak dalam hidungnya dan perlahan mengikis rasa cemasnya.
"Lain kali jangan keras kepala! Apa masih belum belajar dari kesalahan? Karena terlalu keras kepala dan berambisi tinggi, kau berakhir seperti ini!" omel Larry sembari membaringkan tubuh Athana. Tak lupa pula ia memasang kembali slang infus yang sempat terlepas. Gerakannya sangat lincah, seakan-akan ia juga berpengalaman dalam bidang medis.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja, kenapa dua hari ini tidak ke sini?" Athana malah balik bertanya.
"Apa pentingnya?"
"Jelas penting karena kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu siapa? Kenapa membantuku? Dan kenapa tahu banyak tentangku? Kenapa juga kamu bilang sudah lama mengenalku?" Athana menghujani Larry dengan banyak pertanyaan.
"Aku Larry Cox, adik Julia Cox, istri tuanmu. Aku punya dendam pribadi kepada Johan, jadi ... ini bukan murni membantumu, tapi ada kepentingan untuk diri sendiri juga. Aku sudah lama memasang alat pelacak di markas Red, juga masuk dalam jaringan mereka. Tapi, aku bisa mengendalikan ambisi, jadi semua ini tersusun rapi sampai Johan pun tidak menyadari. Sedangkan soal aku tahu tentangmu, itu dari dirimu sendiri. Kita memang sudah lama kenal, kau saja yang tidak sadar."
Jawaban Larry membuat Athana mengernyit heran. Pasalnya, berulang kali ia mengingat, otaknya selalu buntu dan gagal tahu siapa Larry baginya.
Melihat Athana kebingungan, Larry mulai menjelaskan siapa dirinya.
"Sewaktu kau pindah dimensi ke dunia novel, Mike sudah menjebakmu. Walaupun tidak mati, kau tidak akan bisa kembali ke dunia. Tapi, aku mengacaukan semuanya. Aku ikut pergi ke dimensi itu dan masuk dalam permainan Mike. Aku mengubah aturan dan membuatmu bisa kembali ke dunia dengan sebuah alat, yang tentunya berhubungan dengan diriku. Karena kita saling berhubungan, aku bisa menyadap pikiranmu saat kita sedang bersama. Dan kebetulan ... saat itu kamu sedang mengenang masa lalumu. Jadi, aku tahu banyak tentang itu," terangnya.
Athana menganga tak percaya, "Kamu ikut masuk ke novel itu?"
"Iya."
"Apa kamu Arvian?" tanya Athana.
"Arvian?" Larry menaikkan kedua alisnya. "Apa yang kau pikirkan hanya dia? Kau tahu sendiri kan Arvian itu adalah Alex?" sambungnya.
"Lalu ... kamu siapa?" Athana makin mengernyit.
Bersambung...
__ADS_1