Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Teman Dove


__ADS_3

Setelah Anston, Sanny, dan Luis dijebloskan ke penjara, Athana fokus mengelola aset yang menjadi haknya. Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan dunia gelap dan lebih menekuni dunia bisnis.


Kini, sudah tiga tahun waktu berlalu sejak hari itu. Realita sangat sesuai dengan ekspetasi. Perusahaan miliknya dari hari ke hari terus berkembang, sudah tak terhitung pihak yang mau bekerja sama dengannya. Dibandingkan dengan waktu lalu ketika masih dalam kendali Anston, perusahaan yang sekarang jauh lebih baik.


Athana sangat puas dengan pencapaian itu. Tak jarang ia berbagi keberuntungannya dengan anak-anak yatim piatu, entah yang tinggal di panti asuhan atau yang berkeliaran di jalanan. Jika dulu dia sering merampas kehidupan seseorang, saat ini dia ingin membantu seseorang dalam menyambung hidup.


Selain keadaannya sendiri yang membaik, Athana juga merasa lega karena di kejauhan sana Dove berhasil mewujudkan angan-angannya—membangun rumah sakit besar dan menyediakan obat-obatan yang bisa didistribusikan ke berbagai negara. Dove juga menyediakan layanan gratis untuk orang-orang yang kurang mampu. Ibarat kata, dia ingin menebus kesalahan di masa lalu dengan membantu orang-orang yang membutuhkan.


"Aku punya kawan yang setahun ini berkecimpung dalam bisnis. Dia tertarik dengan bisnismu dan ingin menjalin kerja sama. Jika kamu bersedia, besok dia akan menemuimu," ucap Dove pada suatu pagi, ketika mereka terhubung dalam sambungan telepon.


"Sejauh ini, aku jarang menolak kerja sama dengan pihak lain. Terlebih jika dia adalah temanmu, kurasa aku bisa menerimanya, Dove," jawab Athana.


"Baguslah kalau begitu. Nanti akan kusampaikan padanya."


Tak lama setelah itu, telepon berakhir. Athana dan Dove kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di sela kesibukannya itu, Athana sempat berpikir, kawan mana yang dimaksud Dove. Tanpa tahu malu, ingatannya malah tertuju pada Larry. Lelaki dingin dan kejam yang mungkin sekarang sudah bahagia dengan Deschara, di masa lalu sana.

__ADS_1


"Ah, bisa-bisanya aku memikirkan dia. Sudah lama pergi, mana mungkin dia kembali. Di sana juga sudah bersama wanita yang dicintainya. Mungkin sekarang sudah menikah, hamil, punya anak." Athana mengembuskan napas panjang. "Kehidupan yang manis, entah kapan aku bisa merasakan itu," sambungnya dengan mata yang terpejam.


Sejak remaja, dia sudah dihadapkan pada pengkhianatan, hingga hidupnya berjalan dalam balutan dendam yang membara. Mulai dari Sanny, Anston, Johan, bahkan sampai Alex, semua berkhianat dan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa.


Meski kini dendam itu telah tuntas dan dirinya sudah meninggalkan sisi kelam, tetapi tetap saja, bayang-bayang itu sering muncul dan mengusik ketenangannya. Mungkin sampai nanti, dia tak akan sanggup melupakan semua hal yang telah terjadi, dan hidupnya pun tetap tidak sedamai mereka yang tak pernah masuk dalam dunia gelap.


"Entah kapan semua itu benar-benar hilang dari pikiranku," gumam Athana sambil tersenyum masam.


_____________


Keesokan harinya, Athana berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya, karena hari ini ada janji dengan seseorang yang katanya adalah teman Dove. Jauh-jauh dia terbang dari negara tetangga, tentu saja Athana akan menghargainya.


"Antar dia ke ruanganku!" perintah Athana.


"Baik, Nona."

__ADS_1


Setelah menaruh gagang telepon, pandangan Athana tak lepas dari daun pintu, yang kala itu masih tertutup rapat. Entah mengapa detak jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat, seakan-akan yang hendak datang adalah orang yang istimewa.


"Mungkin karena terlalu memforsir pekerjaan, jadi otakku lelah dan pikiran pun jadi ngawur," batin Athana dalam kesendiriannya.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu diiringi dengan panggilan dari salah satu karyawannya.


"Masuk!" teriak Athana tanpa mengalihkan pandangan.


Sesaat setelah itu, pintu ruangan terbuka lebar. Tampak di sana satu sosok lelaki dengan rambut kecokelatan dan sepasang mata hazel, sedang berdiri sambil mengulas senyum lebar.


Athana terkejut, sampai tak menghiraukan ucapan karyawan yang pamit undur diri. Dia terlalu terpaku, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya. Benar-benar nyata atau sekadar ilusi belaka?


Sampai akhirnya, satu suara merdu yang cukup familier membuatnya tersadar bahwa yang terjadi saat ini adalah nyata.


"Apa kabar, Athana?"

__ADS_1


Namun, lidah Athana masih kelu. Belum sanggup menjawab hingga beberapa detik lamanya.


Bersambung...


__ADS_2