Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Pilihan Buruk


__ADS_3

Melihat lawannya terkejut saat menatap dirinya, Athana tersenyum miring. Lantas, dia teringat dengan beberapa saat yang lalu.


Hidangan sarapan yang tampak menggugah selera, diantar ke kamarnya oleh seseorang. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai akhirnya Athana mencium aroma yang berbeda dari makanan tersebut. Sebagai seseorang yang sering bergumul dengan racun dan senjata, Athana tak membutuhkan waktu lama untuk mengenali barang-barang tersebut.


"Apa yang kau taruh dalam makananku ini? Jawab!" bentak Athana sembari menarik kasar baju lelaki itu.


"Saya tidak___"


Tak mau lagi mendengar alasan yang tidak jelas, dengan cepat Athana mendorong tubuh lelaki itu hingga tersungkur di lantai. Lantas, menghajarnya sampai ia memohon untuk dilepaskan.


"Ceritakan dengan jujur, apa tujuanmu menaruh racun dalam makananku?" Suara Athana mulai merendah. Meski begitu, ia tidak melepaskan cengkeramannya.


"Maafkan saya, Nona, saya hanya orang suruhan."


Mendengar jawaban itu, Athana mengeratkan cengkeraman. Kemudian, menuntut penjelasan yang jelas tentang siapa yang ada di baliknya.


Sampai kemudian, Athana dipertemukan dengan pemilik hotel, yang tak lain adalah rekan Luis.


"Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya, dan terekam jelas di ponselku. Aku bisa menuntutmu dan membuatmu dipenjara, juga ... membuat hotel ini hancur perlahan-lahan." Athana menyeringai ketika melontarkan kalimat itu. Tatapannya pula tajam dan mematikan, mampu melumpuhkan lawan dengan sendirinya.


"Tolong jangan lakukan itu, aku akan berdiri di pihakmu." Pemilik hotel memutuskan untuk berkhianat pada Luis, demi keselamatan pribadi. Dan sekarang, sampailah pada detik ini. Luis dan Anston terjebak dalam permainan mereka sendiri.


"Kenapa kau masih hidup?" teriak Luis, menyadarkan kembali ingatan Athana pada kejadian beberapa saat yang lalu.


Athana melangkah mendekat, setelah sebelumnya menutup pintu dan menguncinya dengan rapat.

__ADS_1


"Kamu pikir aku akan mati semudah itu? Di tangan orang-orang licik seperti kalian?"


Anston gelagapan. Langkahnya makin mundur, tetapi Athana pun makin maju. Sampai kini ketiganya hampir merapat di sisi ranjang.


"Athana, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kita juga keluarga, kamu jangan seperti ini!" Anston berusaha membujuk.


Athana tertawa sumbang, "Keluarga? Apa kamu ingat itu saat menyakiti aku dan juga orang tuaku?"


"Soal itu memang aku yang salah. Aku serakah dan mengambil keuntungan dari kalian. Tapi ... kita tetap keluarga, Athana. Kita bisa memperbaiki semua ini dan memulai lagi dari awal," jawab Anston.


Sanny ikut menimpali, "Papa benar. Kita, kita keluarga ... bisa memperbaiki semua ini dari awal. Itu akan lebih baik."


"Maksudmu baik untuk kalian?" sahut Athana dengan cepat.


"Kita___"


Luis, Anston, dan Sanny sama-sama diam. Mereka ketakutan, bahkan untuk sedikit melawan saja tidak berani.


"Dari kemarin sudah kuperingatkan untuk tidak bermain-main, tapi kalian malah menggunakan permainan licik. Tidak bisa diajak bekerja sama. Kalian pantas mati!" bentak Athana sambil mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke arah mereka.


Selagi ketiganya masih terkejut, Athana sudah menarik pelatuk dan melepaskan satu tembakan. Bukan melukai bagian tubuh, melainkan menembak tas selempang yang digunakan Sanny.


"Ahh!" Sanny menjerit takut. Geser sedikit saja tembakan barusan, nyawanya yang akan melayang. Saking takutnya, lutut Sanny sampai lemas dan ia jatuh ke lantai.


Tak sampai di situ saja. Athana kembali melayangkan tembakan, tepat di dekat telinga Anston. Saking dekatnya, ia sampai bisa merasakan angin yang ditimbulkan. Hal itu juga tidak luput dari perhatian Luis. Ia melihat jelas bagaimana melesat di dekat mertuanya, dan kini membentur dinding hingga menyisakan lubang di sana.

__ADS_1


Wajah Luis dan Anston pucat seketika. Athana yang ada di hadapan mereka kini, bukanlah wanita biasa, tetapi wanita berdarah dingin yang tidak punya sisi lembut seperti wanita kebanyakan.


"Jangan kira aku tidak berani menghabisi kalian. Selama ini sudah banyak nyawa yang mati di tanganku, tanpa ada sanksi. Tapi, kalau kalian ragu, aku akan membuktikannya!" gertak Athana.


Meski aslinya dia sudah janji pada diri sendiri untuk tidak menjadi pembunuh lagi, tetapi tidak ada salahnya jika hanya mengancam agar mereka bersedia mengembalikan apa yang menjadi haknya.


"Sanny ... berterima kasihlah karena kau menjadi orang pertama yang kupilih," ucap Athana dengan ujung pistol yang mengarah tepat ke kepala Sanny.


"Tidak! Jangan bunuh aku, kumohon jangan!" Air mata Sanny berderaian, beringsut meundur dan bermaksud menghindari Athana meski itu mustahil.


"Tolong jangan sakiti dia! Aku akan melakukan apa pun, asal kau mau melepaskan kami!" kata Anston dengan penuh harap.


"Akui semua kesalahan kalian di hadapan hukum dan kembalikan semua aset yang menjadi hakku!" jawab Athana, sangat tegas.


"Tapi, tapi." Anston gelagapan. Ia dihadapkan pada pilihan sulit—mati di tangan Athana atau mengakui kesalahan dan dipenjara.


Satu tembakan kembali melesat, mengejutkan Anston yang masih bingung menentukan pilihan. Ketika dia menoleh, anaknya sudah menangis histeris. Tembakan barusan mengenai rambut panjang Sanny, beberapa helai patah dan jatuh ke lantai.


"Setelah ini aku tidak mau berbasa-basi lagi! Dia akan mati, begitu juga dengan kalian berdua. Pada akhirnya ... aset juga akan jatuh ke tanganku." Athana menyeringai, membuat Anston dan Luis makin tak punya nyali.


Sampai akhirnya, Anston menjatuhkan keputusan pada satu pilihan terbaik, di antara pilihan buruk.


"Baik, aku akan mengakui semua kesalahanku, tapi jangan sakiti Sanny dan Luis. Biarkan mereka hidup bebas tanpa membawa harta membawa sedikit pun. Bagaimana?"


Athana tersenyum, "Baik. Hanya kau yang berurusan denganku."

__ADS_1


Anston menunduk. Biarlah dia menanggung semua itu sendiri, asal putri kesayangannya bisa hidup tenang. Namun, benarkah Athana membebaskan mereka? Entahlah.


Bersambung...


__ADS_2