
"Luis, aku sudah berhasil menyelesaikan tugas yang kau perintahkan. Athana sudah mati, kau bisa ke sini untuk melihat mayatnya."
Suara seseorang di seberang sana membuat Luis tersenyum lebar. Perasaan lega pun menghampiri, mengikis cemas yang sejak semalam sudah bersarang.
"Baik, aku dan Papa akan segera ke sana," jawab Luis, kemudian menutup sambungan telepon dan menyimpannya di dalam saku.
"Mas, bagaimana?" tanya Sanny dengan wajah yang tegang. Ia belum bisa tenang sebelum Athana dinyatakan mati.
Luis mendekat dan merangkul bahu Sanny dengan lembut, "Beres. Dia berhasil dan sekarang kita disuruh ke sana untuk melihat mayatnya."
"Serius, Mas?"
"Tentu saja, Sayang. Dari kemarin aku kan sudah berjanji, tidak akan membiarkan dia menyakiti keluarga ini, terlebih kamu," jawab Luis sambil mengusap gemas pipi mulus Sanny.
"Terima kasih banyak ya, Mas. Sangat beruntung aku menjadi istri kamu." Senyuman Sanny terulas lebar. Yang ia pikirkan hanya kebahagiaannya, tanpa mau tahu dengan nasib malang Athana. Sejak dulu sampai sekarang, selalu saja dicelakai.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo turun! Papa harus tahu kabar baik ini," ajak Luis, yang kemudian langsung disetujui oleh Sanny.
Kedua orang itu pun turun dan menemui Anston yang berada di lantai bawah. Anston lebar, lega dan bahagia setelah mendengar kematian Athana.
"Bagus sekali, memang lebih baik begini, mati dan tidak jadi pengganggu lagi. Seharusnya dari dulu saja begini, tapi tidak apa-apa. Yang penting sekarang juga mati. Kerja bagus, Luis," ucap Anston sambil menepuk pelan bahu Luis.
"Ternyata dia tidak sehebat yang kupikirkan. Ah, Athana ... apa pun yang dia pelajari dalam beberapa waktu terakhir, tidak akan ada gunanya. Karena dia tak beda jauh dengan ibunya, sama-sama bodoh." Sanny turut menyahut.
Di antara ketiga orang itu, dialah yang paling puas. Karena nanti setelah ayahnya pergi, semua aset akan menjadi hak miliknya. Namun, semua itu bisa kacau andai Athana tetap di sekitar dan menuntut pembagian aset, yang dari awal memang miliknya.
"Ya sudah, ayo segera ke sana. Aku sudah tak sabar melihatnya terkapar tak berdaya." Anston bicara sambil menyambar kunci mobil, siap berangkat menuju hotel tempat Athana berada.
"Di mana Athana?" tanya Luis ketika berhadapan dengan rekan yang sudah menghabisi nyawa Athana.
Sesaat, lelaki itu menunduk. Lantas, kembali mendongak dan berusaha bersikap santai ketika Luis menatapnya. Anston sempat menangkap gerak-geriknya, tetapi segera ditepis jauh. Pikirnya, mungkin karena wibawanya, jadi orang yang bertatap muka langsung gugup dan salah tingkah. Tidak aneh, sebagai orang besar dengan kekuasaan yang sangat berpengaruh, wajar jika tak semua orang mampu membalas tatapannya.
__ADS_1
"Mari, kuantar ke sana!"
Anston dan yang lainnya mengangguk tegas. Kemudian, mengikuti langkah lelaki itu dengan penuh semangat.
Sesaat setelah itu, mereka tiba di depan ruangan, yang sebelumnya menjadi tempat tidur Athana.
"Silakan masuk! Di sinilah Athana berada," ucap lelaki itu, yang kemudian ditanggapi dengan antusias.
Hanya dalam hitungan detik, pintu kamar sudah terbuka lebar. Anston, Luis, dan Sanny sama-sama masuk ke sana.
Awalnya, senyuman lebar tercetak jelas di bibir ketiganya. Namun, seketika langsung hilang setelah mendengar satu suara.
"Rupanya kalian ingin bermain-main denganku!"
Anston dan dua lainnya langsung menoleh, lalu mendapati sosok Athana sedang berdiri sambil melipat tangan di dada.
__ADS_1
Apa yang terjadi? Mengapa dia terlihat bugar, padahal orang suruhan Luis mengatakan jika dia sudah meninggal. Lantas, apa maksudnya ini?
Bersambung...