
Athana tak mengalihkan pandangan, hatinya masih diusik rasa penasaran tentang siapa Larry dalam dimensi novel yang pernah ia datangi.
"Apa kau masih ingat ... bagaimana jalan kematian Laura?" Suara Larry memecah keheningan, yang dalam beberapa saat sempat tercipta.
"Kamu ... tetangga yang waktu itu?" tanya Athana.
Sewaktu dirinya berada di dunia novel, satu-satunya lelaki yang berhubungan dengannya selain Arvian, hanyalah tetangga sebelah rumah. Tetangga yang berpihak padanya dan mau membantunya meneror Laura.
"Iya."
Jawaban Larry belum mengikis habis rasa penasaran Athana. Pasalnya, tetangga itu tampak biasa saja. Tidak ada yang menonjol dalam dirinya, sekadar lelaki sederhana yang butuh uang untuk menyambung hidup.
"Saat terbaik untuk menyerang lawan adalah ketika dia terlena, dan cara terbaik untuk membuatnya terlena adalah ketidakberdayaan. Sejak dua tahun yang lalu aku kembali ke sini, memperhitungkan balas dendam terhadap Johan. Tapi, aku selalu menjaga ambisi. Aku berdiri jauh darinya tanpa menunjukkan kekuatan yang kupunya. Aku bisa masuk pelan-pelan tanpa membuatnya curiga." Ucapan Larry membuat Athana sedikit tersadar.
"Jadi ... waktu itu kamu juga sengaja? Pura-pura lemah agar aku tidak curiga?" tanya Athana.
"Benar, bahkan di saat kita bertemu di dunia nyata, aku masih berpura-pura. Sebelum kamu ada di sini, kau tak pernah curiga kan kalau aku ada maksud lain?" Ucapan Larry ditanggapi dengan gelengan oleh Athana.
Larry tersenyum, "Padahal, saat itu aku melakukan sesuatu yang sangat penting. Aku meletakkan alat pelacak di pintu mobilmu. Aku membuatnya setipis mungkin agar keberadaannya tidak kau sadari. Tapi, alat itu sangat canggih. Bahkan, dari sana aku bisa menyadap ponselmu. Aku tahu apa yang kau lakukan terhadap Jessy, dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak Johan. Sebenarnya, aku masih punya rencana yang lebih besar. Tapi, kau tidak sabaran."
Athana kesulitan menelan ludah. Entah sosok seperti apa Larry itu. Selama ini dirinya cukup hebat dalam dunia gelap. Bukan hanya membunuh, tetapi juga mengatur strategi dan menyembunyikan jati diri. Namun, dengan mudahnya Larry mematahkan kemampuan itu.
"Kenapa kau diam? Apa masih ada yang mengganjal di pikiranmu?" tanya Larry.
"Siapa kamu sebenarnya, kenapa bisa melakukan semua ini? Meski aku bukan orang terhebat, tapi aku juga bukan orang lemah. Sebelumnya, tidak ada yang bisa melakukan ini padaku. Tapi kamu, bukan hanya melakukanya padaku, melainkan pada Johan juga." Athana menatap Larry dengan lebih lekat.
"Sejatinya kau dan Johan itu sama, yaitu angkuh. Kau tidak pernah memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sekitarmu, kau selalu menganggap semua bisa teratasi dengan kemampuan yang ada. Tapi, tidak heran. Kau jadi seperti sekarang juga berkat Johan, wajar jika kalian punya kemiripan sifat."
__ADS_1
"Bukan aku yang tidak memperhatikan hal sekitar, tapi kamu yang terlalu rapi menyembunyikan rencana," sanggah Athana.
"Oh ya? Kalau begitu aku tanya satu hal, kenapa waktu itu Arvian bersikap baik padamu?" Larry membalas tatapan Athana sambil melipat tangan di dada.
"Karena Melati tidak lemah lagi. Mungkin sebelumnya dia merasa benci karena Melati terlalu lemah," jawab Athana.
"Untuk pemikiran orang biasa, itu cukup bagus. Tapi untuk orang seperti kamu, jawaban itu sangat buruk."
Athana membelalak. Ada kesal ketika Larry meremehkannya.
"Kau sudah tahu kan jika posisi Arvian digantikan oleh Alex? Dia bersikap baik dan seolah mencintaimu, itu adalah perasaan terdalamnya. Mike tidak pernah memberi tahu dia jika kau sudah dijebak lebih dulu. Di sana, Alex menemukan sosok dengan kepribadian yang sama sepertimu. Dan dia tidak bisa mengendalikan perasaan. Karena sejatinya, dia sangat mencintaimu."
Athana hanya mengernyit ketika mendengar penuturan Larry yang tidak masuk akal. Mana mungkin Alex menyimpan cinta, buktinya ia selingkuh dengan Jessy.
"Apa Jessy sudah mengatakan sesuatu, sehingga kau tidak percaya dengan ucapanku?"
"Wanita labil dan licik seperti Jessy, pasti mengatakan banyak kebohongan demi kepuasaan sesaat. Buktinya, dia tidak menggunakan senjata yang Mike persiapkan untuknya. Itu sudah menggambarkan sifatnya yang angkuh, yang ingin terlihat menang meski dalam keadaan kalah. Apa sebelum kau bunuh, dia mengaku hamil?" Larry menelisik wajah Athana.
"Tidak, tapi ... mengaku kerap melakukannya." Athana menunduk, meresapi rasa sakit yang masih tersisa dalam hatinya.
"Dan kau percaya?"
"Apa seharusnya aku tidak percaya?" Athana membalikkan pertanyaan Larry.
Larry tertawa, "Sepertinya tidak salah jika aku menyebutmu bodoh, Athana. Kau tahu Johan seperti apa, menurutmu ... apa dia akan diam saja saat putri kesayangannya dinodai oleh Alex? Jangan lupa, mereka baru kekasih, bukan suami istri."
Ucapan Larry seakan-akan menampar keras. Mengapa baru sekarang Athana menyadari itu semua.
__ADS_1
"Apa aku sudah salah menilai semua ini?" gumam Athana.
"Jelas salah. Soal apa yang dia lakukan dengan Alex, itu pasti bohong. Dia hanya ingin menyiksa batinmu di saat-saat terakhir. Itu sebabnya kau dibiarkan sadar dan tidak dilumpuhkan dengan asap itu. Dia memburu kepuasan tanpa berpikir panjang," sahut Larry.
"Jadi sebenarnya Alex tidak selingkuh?" tanya Athana dengan cepat.
"Dari informasi yang kudapatkan selama meretas jaringan Red dalam bulan-bulan terakhir, Alex memang selingkuh. Tapi, dia hanya mencari pelarian sesaat. Perasaan cinta yang sesungguhnya masih untukmu. Akan tetapi, dia ceroboh, mencari pelarian dengan menerima cintanya Jessy, seorang wanita yang punya kedudukan tinggi. Saat wanita itu berkata iya, tidak akan mudah bagi Alex untuk melepaskan diri. Di belakangmu, Johan pernah memberinya misi untuk membunuhmu, tapi Alex menolak. Dan pada akhirnya, Mike dan Johan menjebak Alex dalam dimensi itu. Dia diberi misi untuk membunuh tokoh jahat yang tak lain adalah Melati, yang kau perankan. Tapi, mereka tidak sadar jika cinta Alex terlalu kuat. Hingga akhirnya rencana itu gagal seperti sekarang," terang Larry dengan panjang lebar.
"Kau tahu banyak dengan rencana ini, bahkan jauh lebih awal dari yang kubayangkan. Tapi, kenapa kamu tidak memberitahuku? Andai begitu, aku bisa___"
"Bisa kabur dengan Alex, maksudmu?" pungkas Larry. "Perselingkuhan Alex memang sekedar main-main, tapi itu sudah cukup untuk menyebutnya lelaki bangsat. Kau bisa menebak kan kenapa dia mencari pelarian?"
"Karena ... kondisiku," jawab Athana dengan pelan.
"Benar. Sebagian lelaki sangat memuja keperawanan, dan sepertinya Alex juga termasuk. Hanya saja, dia tidak bisa mengendalikan hatinya. Dia tetap mencintaimu meski tahu bahwa keadaanmu tidak seperti harapannya. Lelaki semacam itu tidak pantas kau perjuangkan, Athana. Meski cinta masih ada, tapi suatu saat pasti akan mengungkit hal serupa. Jadi, lebih baik carilah lelaki lain." Larry mengembuskan napas kasar di ujung kalimatnya.
"Iya, kamu benar."
"Dan ... satu lagi yang membuatku merahasiakan hal ini. Sifatmu yang angkuh dan berambisi tinggi itu harus diubah. Jalanmu masih panjang, jika dua sifat itu tetap kau bawa, pada saatnya nanti kau akan hancur karenanya, seperti Johan sekarang. Itu sebabnya, aku sengaja membiarkanmu melalui semua ini. Kau harus punya pengalaman agar bisa mengubah diri. Athana ... kau dan Dove adalah pemilik Red selanjutnya," ujar Larry yang lantas membuat Athana tercengang.
"Kenapa aku?" tanya Athana.
"Karena setelah ini aku akan pergi. Kau cepat sembuh dan tuntaskan dendammu pada Johan. Aku sengaja membiarkannya hidup agar kau punya kesempatan untuk melampiaskan amarah," jawab Larry sambil beranjak dan pergi meninggalkan Athana.
Dalam perbincangan barusan, ada sesak yang teramat besar. Sebuah hal yang membuat mata Larry berkaca-kaca.
Bersambung...
__ADS_1