Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Bahaya Mengintai


__ADS_3

Selepas kepergian Athana, Luis dan Anston sibuk mencari jalan keluar atas masalah barusan. Entah berapa persen kesempatan berhasilnya, tetapi mereka ingin berusaha. Tak ingin menyerah begitu saja dan membiarkan Athana mengambil semuanya. Meski seluruh aset dulunya milik orang tua Athana, tetapi Anston-lah yang mengembangkan hingga menjadi seperti sekarang.


"Pa, kita tidak punya jalan untuk mempertahankan aset selama dia masih ada," ucap Luis sembari menatap ayah mertuanya.


"Jadi maksudmu ... kita mencelakai Athana?" Anston mengernyitkan kening, tak habis pikir dengan ide gilanya Luis. Mana bisa mereka mencelakai Athana, sedangkan dia saja anggota Red.


Namun, dengan penuh percaya diri Luis mengangguk.


"Itu tidak masuk akal, Luis. Bagaimana bisa kita mencelakai dia, kekuatan kita tidak sebanding dengannya," protes Anston.


"Jika berhadapan langsung, kita memang kalah, Pa. Tapi, kita melawannya dari belakang. Ya, mungkin beresiko. Tapi, itu lebih baik dari pada kita diam dan menyerah. Itu juga jalan yang lebih mudah dari pada usaha ke sana kemari demi menjaga aset. Selama dia masih hidup, kita tidak akan bisa tenang. Dan kita juga belum tentu bisa mempertahankan itu, karena aku yakin dia punya trik licik dalam bisnis. Aku takut nanti kita malah masuk jebakannya, Pa." Luis mengutarakan pendapatnya dengan panjang lebar.


Kali ini Anston mengangguk-angguk, membenarkan penjabaran dari sang menantu. Namun, tak lama setelah itu keningnya kembali mengerut. Berpikir keras lagi untuk menyingkirkan Athana lewat belakang, bagaimana caranya?


"Jika Papa setuju, aku punya cara jitu." Ucapan Luis membuat Anston mendongak seketika.


"Apa itu?" tanya Anston.

__ADS_1


Luis menarik napas panjang, "Aku punya hubungan baik dengan beberapa pemilik hotel di kota ini. Aku bisa meminta bantuan mereka untuk mencari tahu keberadaan Athana. Jika itu gagal, aku akan menghubungi kawan lain yang menjabat sebagai marketer properti. Jika Athana sudah lama kembali dan memiliki satu hunian di kota ini, kawanku pasti tahu."


Anston sedikit lega. Banyak untungnya memiliki menantu yang tangkas dan cekatan. Sepak terjangnya di dunia bisnis tak diragukan lagi, pun dengan kecerdasan yang jauh di atasnya.


"Jika kita sudah menemukan keberadaannya, maka tinggal menyuruh mereka untuk menjebak Athana. Kita tidak perlu turun tangan, biar uang saja yang bicara. Dengan begitu, Athana tidak akan curiga dan kesempatan berhasil juga lebih tinggi," sambung Luis karena mertuanya masih diam.


Setelah berpikir sejenak, Anston setuju dengan saran Luis. Menurutnya, memang itu jalan keluar yang terbaik. Membiarkan Athana tetap hidup juga bukan pilihan yang bagus, karena sewaktu-waktu wanita itu bisa datang dan mengusik kehidupan mereka lagi.


"Papa setuju," ucap Anston. "Kamu selesaikan masalah ini, nanti Papa akan mengalihkan perhatiannya."


"Baik, Pa. Kita harus membuatnya percaya bahwa kita menyerah, dengan begitu dia akan menurunkan kewaspadaan," sahut Luis, sangat setuju dengan mertuanya.


Sementara Luis, dia berselancar di dunia maya, menghubungi rekan-rekannya demi mencari keberadaan Athana. Sampai akhirnya, bibirnya terangkat dan membentuk lengkung senyum. Salah satu dari rekannya, memberitahukan keberadaan Athana, yang kala itu sedang menginap di hotel miliknya.


"Kita rekan, aku tidak keberatan membantumu. Tapi, yang namanya bisnis tidak ada yang gratis. Langsung saja, berapa yang akan kamu tawarkan untuk jasaku ini?" ucap pemilik hotel itu ketika Luis mengajaknya bekerja sama menyingkirkan Athana.


"Sebutkan saja nominal yang kamu mau. Jika ini berhasil, aku pasti akan membayar sesuai nominal itu. Tapi ... dia bukan wanita sembarangan, berhati-hatilah! Jangan bermain-main, lebih cepat mati itu lebih baik."

__ADS_1


Mendengar jawaban Luis, lelaki di seberang sana tertawa. Lantas, menyatakan kesanggupannya. Tak lupa pula ia menyebutkan nominal yang fantastis. Namun, Luis tidak keberatan akan hal itu. Mengeluarkan sedikit harta yang dia punya demi ketenangan keluarga bukanlah sesuatu yang merugikan.


____________


Sebentuk tubuh sintal menggeliat dari balik selimut tebal di atas ranjang. Wajah cantik yang belum sepenuhnya terjaga, berulang kali mengembuskan napas panjang dalam tenangnya.


Wanita pemilik nama Athana, perlahan mengerjap dan membuka mata dengan sempurna. Lantas, mulai bangkit dan beranjak turun dari ranjang.


Dengan rambut yang masih kusut dan berantakan, Athana berjalan menuju jendela. Melihat suasana luar yang tampak hangat dalam naungan sang surya. Sesuatu yang rasanya kontrak dengan hidupnya. Dunia yang tertata indah dan damai, bertolak belakang dengan hidupnya yang penuh lika-liku.


"Setelah semua ini kembali ... sisi gelap itu akan kukubur jauh-jauh," gumam Athana sambil memejam, menikmati beragam rasa yang mendera hidupnya.


Tak ingin berlama-lama dalam kelemahan, Athana bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Dilanjut dengan memesan sarapan untuk memanjakan perutnya.


"Aku tidak tahu Ayah dan Ibu akan suka atau tidak dengan caraku kali ini. Tapi, aku tidak bisa diam saja dan membiarkan hak mereka diambil alih oleh orang-orang licik itu. Mereka yang lebih dulu berbuat, jadi sudah sewajarnya mereka bertanggung jawab," ujar Athana sembari menatap layar ponsel, yang menampilkan profil perusahaan milik mendiang orang tuanya, yang saat ini berada dalam genggaman Anston.


Selagi Athana masih sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Ternyata sarapannya sudah datang. Athana menerimanya dengan ramah, sama sekali tak menunjukkan sisi pembunuh dalam dirinya. Sampai ia tak sadar jika seseorang yang mengantarkan mengulas senyum licik, merasa berhasil karena makanan beracun sudah berada di tangan target.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2