Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Bertemu Lagi


__ADS_3

Larry Cox, lelaki yang dalam saat-saat tertentu sering datang dalam ingatan, kini berdiri tepat di depan Athana, dengan wajah dan suara yang masih sama. Ah, bukan hanya itu, tatapannya pun masih sama—dingin, tajam, tetapi juga memikat.


"Larry, itu benar ... kamu? Kamu bisa kembali?" tanya Athana dengan sedikit terbata. Masih sulit baginya untuk menenangkan hati yang bergejolak tak karuan.


Larry tersenyum, lantas melangkah menuju kursi dan kemudian duduk di sana. Sembari mengangkat satu kaki, Larry menoleh ke arah Athana.


"Tempat kerjamu lumayan. Kau benar-benar menjalani kehidupan yang baik sekarang," ujar Larry, menyimpang dari pertanyaan Athana.


"Larry, kamu jangan mengalihkan pembicaraan!" Athana menyusul Larry dan duduk di hadapannya. "Jelaskan padaku kenapa kamu bisa kembali!" sambungnya.


Athana benar-benar bingung dengan kehadiran Larry. Bukankah dia sudah bahagia dengan Deschara, mengapa malah kembali? Dan lagi, begitu mudahnya dia melintasi waktu. Sehebat itukah Larry?


"Aku gagal ke masa lalu," ucap Larry sambil mengembuskan napas kasar.

__ADS_1


Athana terkejut, "Kamu ... gagal? Terus ... selama ini?"


Larry menyandarkan punggung, lantas melipat tangan di dada sambil tersenyum masam.


"Entahlah. Mesin waktu yang kubuat gagal total. Aku hanya terjebak di dalamnya, dan setelah berhasil keluar ... aku malah kembali ke masa sekarang." Larry mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya satu batang. "Tapi, dari situ aku belajar banyak hal," sambungnya.


Athana belum menyahut, sekadar menatap lekat dan menunggu kata demi kata lagi yang akan keluar dari mulut Larry.


"Seperti yang pernah kukatakan padamu, memperbaiki masa depan dengan belajar dari kesalahan masa lalu. Mungkin ... memang seperti itu yang harus dilakukan setiap manusia, termasuk aku." Larry mengisap rokok dalam-dalam usai menyelesaikan kalimatnya.


"Tidak apa-apa, aku sudah menerima semua ini. Setahun menenangkan diri, sudah cukup untuk merelakan apa pun yang ada di masa lalu."


Athana tersenyum, "Baguslah kalau begitu. Kuharap kamu juga bisa sepertiku. Lihat, aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku bisa menyelesaikan masa lalu dan menata langkah yang lebih baik lagi."

__ADS_1


"Ya, aku pun akan melakukan itu. Sudah ada agenda yang kurancang sejak kemarin, dan ... kedatanganku ke sini juga untuk membicarakan itu." Larry menjentikkan abu rokok ke dalam asbak, lantas menegakkan duduknya dan menatap Athana dengan intens. "Ayo bekerja sama! Kita kejar posisi tertinggi dalam dunia bisnis, seperti dulu Red menguasai dunia gelap," lanjutnya.


Mendengar itu, Athana tersenyum lebar. Ambisinya untuk menjadi yang terbaik kembali tergugah. Mungkin, memang itulah sisi gelap dalam dirinya—menjadi penguasa dan memegang kendali banyak orang.


"Tapi ... aku tidak mau mengotori tanganku lagi. Keluarga palsuku saja kujebloskan ke penjara, tidak kuhabisi sendiri," ucap Athana sesaat kemudian.


Larry mengangguk, "Aku paham, dan aku juga akan menghindari semua itu. Johan akan menjadi lelaki terakhir yang mati di tanganku. Athana, pengalaman kita cukup banyak. Tanpa membunuh pun, kita bisa melebarkan sayap ke mana-mana. Berkembang tidak harus menjatuhkan atau mencelakai pihak lain. Kita bisa menggunakan cara sehat dan legal."


Setelah terdiam sesaat, Athana mengulurkan tangannya ke arah Larry.


"Deal!" ucapnya.


Tanpa ragu, Larry langsung menjabat tangan itu sembari mengucap kata yang sama.

__ADS_1


Kemudian, mereka mulai membahas langkah-langkah yang akan diambil untuk menjalankan bisnis tersebut. Keduanya tampak kompak karena memiliki ambisi dan sifat yang sama.


Bersambung...


__ADS_2