Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Luka Dove


__ADS_3

Di atas ranjang dengan dominan warna putih, Dove terbaring tak berdaya di sana. Sebelah tangannya dipasangi slang infus, sedangkan yang sebelah lagi dipasang perban. Wajahnya terlihat pucat dan lebih kurus dari sebelumnya. Padahal, batu satu minggu Athana tak bertemu dengannya, tetapi sudah ada perbedaan. Sepertinya, luka yang diderita Dove jauh lebih parah dari pada dirinya.


"Dove, bagaimana keadaanmu?" Athana menghampiri Dove dan menilik setiap inci wajah rekannya itu. Ada rasa bersalah ketika melihatnya terluka. "Andai aku tidak keras kepala dan sabar menunggu saat yang tepat, Dove tidak akan seperti ini," batinnya dalam hati.


"Aku baik-baik saja, dan ... aku senang karena kamu juga baik-baik saja. Maaf, bantuanku waktu itu terlalu telat. Jadi, kamu sampai terluka." Dove tersenyum lebar saat menyambut kedatangan Athana.


Lelaki itu tahu betapa pahit masa lalu Athana, betapa besar pula cinta yang dia punya untuk Alex. Pengkhianatan yang terjadi kemarin, tentu saja mengguncang jiwanya. Dove hanya ingin membantu Athana melewati semua itu. Karena jika dipikir-pikir, kejahatan Johan sudah mencapai batas, dan sudah seharusnya berakhir sampai di sini. Sebelum semuanya bertambah fatal, karena alat yang diciptakan Mike sangat mengerikan. Sedangkan Mike bekerja pada Johan.


"Seharusnya aku yang minta maaf. Karena ambisiku ... kamu jadi mengalami semua ini." Athana menggigit bibir, merasa miris dengan keadaan Dove. Perban yang ada di tangan lelaki itu, Athana yakini karena patah.


"Dove mengalami patah tangan dan kaki, tapi ... Leon sudah memberikan penanganan yang maksimal. Sekarang tinggal pemulihan saja. Walaupun mungkin memerlukan waktu yang lama, tapi aku dan Leon akan mengusahakan yang terbaik untuknya."


Penjelasan yang dibeberkan oleh Larry membuat Athana makin merasa miris. Dia singkap dengan pelan selimut yang menutupi kaki Dove. Lantas, terpampanglah kaki Dove yang dibalut perban.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Athana dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Tak sanggup rasanya melihat keadaan Dove yang begitu parah, hanya karena menyelamatkannya.


"Tidak perlu minta maaf, aku baik-baik saja."


Athana memejam sesaat, kemudian menangkan hati yang terus bergejolak. Sampai akhirnya, ia kembali menyelimuti kaki Dove dan mengucap kalimat serius padanya.


"Aku akan mencari keadilan atas apa yang telah kita alami."


"Baiklah! Aku mengerti," jawab Athana diiringi embusan napas kasar.


Dari semua rekan yang pernah ia kenal, Dove adalah satu-satunya rekan yang punya hati. Mungkin karena profesinya sebagai dokter, yang selalu dituntut untuk menyelamatkan nyawa. Jadi, dia pun tak pernah menyimpan dendam atau berlaku sadis kepada lawan.


Setelah cukup lama melihat keadaan Dove, Larry membawa Athana ke ruang bawah tanah. Berbeda dengan markas Red yang harus melewati tangga curam dan pengap, di tempat Larry tangganya cukup terang dan terawat. Bahkan, ruangan di bawah sana pun terlihat seperti ruangan pada umumnya, mewah dan elegan. Orang tidak akan menyangka jika itu adalah tempat untuk menyembunyikan tawanan.

__ADS_1


"Kamu sangat kaya," ucap Athana ketika mereka tiba di ujung tangga.


"Biasa saja," sahut Larry sekenanya.


Sebenarnya, Athana masih penasaran dari mana datangnya harta tersebut, karena sebelumnya dia sudah ditipu Johan. Namun, Athana terpaksa mengurungkannya karena Larry sudah membuka satu ruangan, di mana Johan ada di sana.


"Johan! Lihatlah siapa yang kubawa!" kata Larry dengan intonasi yang sedikit tinggi.


Sementara di belakang Larry, Athana menganga tak percaya ketika melihat keadaan Johan.


"Larry ... dia lebih sadis dari yang kubayangkan," batinnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2