
Sepasang mata Athana terbuka perlahan seiring jemari tangan yang mulai bergerak. Satu hal yang pertama kali masuk dalam pandangan adalah langit-langit yang berwarna putih. Lantas, Athana melayangkan tatapan ke sekeliling. Sebuah ruangan yang lagi-lagi warna putih.
"Apa aku di rumah sakit?" batin Athana setelah melihat slang infus di tangannya.
Kemudian, dia memejam sesaat, berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum terjaga di tempat asing itu. Ledakan besar.
"Dia benar-benar nekat, bahkan rela ikut mati hanya demi membunuhku. Tapi ... siapa yang menyeretku melompat jendela?" batin Athana.
Sesaat sebelum ruangan itu meledak, tubuh Athana memang diseret dan keluar dari jendela. Dalam ingatan Athana, dia melihat ledakan yang cukup besar, yang sangat kontras dengan hawa dingin dan angin kencang yang menyergap tubuhnya. Kala itu Athana menatap ledakan ketika posisinya masih di awang-awang dan belum menyentuh tanah.
"Kau sudah sadar?"
Athana menoleh dan menatap ke sumber suara. Sosok lelaki berambut cokelat dengan mata hazel yang sangat menawan, berjalan ke arahnya sambil mengulas senyum tipis.
"Kamu siapa? Dan ... ini di mana?" tanya Athana dengan suara pelan.
"Aku Larry dan kau ada di rumahku."
Jawaban lelaki itu membuat Athana mengernyit. Bagaimana tidak, nama Larry sangat asing baginya. Hanya saja, setelah sekian detik memandang, Athana merasa familier dengan wajah itu. Namun, ia tak berhasil mengingat siapa gerangan.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Athana.
"Ingatanmu sangat bagus." Larry duduk di sebelah Athana. "Ya, kita pernah bertemu satu kali. Aku adalah lelaki yang pernah kau tabrak, mmm ralat, lelaki yang sengaja ingin kau tabrak," sambungnya lengkap dengan senyuman.
__ADS_1
Mendengar ucapan Larry, Athana langsung teringat dengan kejadian hari itu, ketika dirinya tak sengaja menabrak seorang pemotor. Akan tetapi, Athana belum bisa menebak apa maksud Larry melakukan itu.
"Keberanianmu cukup besar, tapi sayangnya ambisimu terlalu tinggi. Jika kau teruskan seperti itu, bisa-bisa kau celaka karena ambisimu sendiri." Larry kembali bicara.
"Apa maksudmu?" Athana makin penasaran karena Larry tampaknya sangat mengenal dirinya.
"Sudah kukatakan padamu, berhati-hatilah dan tunggu sampai mereka terlena. Tapi, kamu tidak sabar dan langsung beraksi ketika suasana masih panas," jawab Larry sedikit menyimpang dari pertanyaan. Namun, malah membuat Athana paham tentang peran Larry.
"Kamu pemilik nomor itu?" tanya Athana dengan cepat.
"Iya." Larry mengangguk, lantas beranjak sebelum Athana sempat menyahut. "Aku akan panggilkan Leon, dokter yang sudah mengobati lukamu," ucapnya sambil berjalan pergi.
"Ahh!"
"Apa yang kau lakukan? Tubuhmu masih terluka parah, jangan sembarangan bergerak!" Larry kembali mendekat dan membenarkan posisi Athana.
"Kakiku sakit." Athana masih merintih, keringatnya sampai membasahi wajah karena saking beratnya menahan sakit.
"Makanya jangan banyak bergerak. Kau baru jatuh dari ketinggian, masih untung bisa diselamatkan," ucap Larry sambil menatap lekat. Wajah pucat di hadapannya, tampak cantik meski sang pemilik sangat keras kepala dan payah dalam mengendalikan ambisi.
"Bagaimana keadaan Dove?" tanya Athana di sela-sela rasa sakitnya. Dia sekarang sudah yakin bahwa seseorang yang menolongnya adalah Dove.
Larry mengembuskan napas kasar, "Pikirkan saja kondisimu, jangan memikirkan orang lain."
__ADS_1
Usai berucap demikian, Larry membalikkan badan dan siap melangkah. Akan tetapi, Athana menahannya. Dengan susah payah ia gerakkan tangannya dan menggenggam lengan Larry.
"Katakan padaku, bagaimana kondisi Dove," ujar Athana.
"Kau sungguh ingin tahu?" Larry bertanya sembari membungkuk, sehingga wajahnya sedikit berdekatan dengan wajah Athana.
Athana mendadak gugup. Dalam jarak yang sedekat itu, kadar ketampanan Larry terlihat sempurna. Bahkan, bulu-bulu halus di rahang terlihat nyata dan memesona. Sungguh, sebentuk rupa yang sangat memikat.
"Tapi ... dia juga laki-laki. Hatinya tidak mungkin sebagus wajahnya," batin Athana sambil membuang pandangan.
Larry tersenyum, "Aku berbeda dengan Alex. Kau tidak boleh menyamakan aku dengannya."
"Apa maksudmu?" Athana menjawab dengan terbata-bata, tak menyangka jika Larry tahu apa yang ia pikirkan.
"Aku memang laki-laki, tapi aku tidak seperti mereka. Aku bukan Johan, bukan Alex, bukan pamanmu, bukan pula pria yang sudah merusakmu. Kau harus tahu, tidak semua lelaki seburuk itu."
"Kamu ... kamu tahu masa laluku?" Athana makin terbata-bata.
Larry menaikkan kedua alisnya, "Tentu saja. Karena ... aku sudah mengenalmu ... jauh sebelum ini."
Jawaban yang terlontar dari mulut Larry membuat Athana menganga tak percaya. Namun, ia hanya bisa menyimpan rasa penasaran karena Larry langsung pergi dan tak memberinya kesempatan untuk bertanya.
"Larry, siapa kamu sebenarnya?" gumam Athana.
__ADS_1
Bersambung...