
Aroma disinfektan tercium menyengat ketika Athana membuka mata. Tubuhnya terasa lemas dan sakit, bahkan untuk bergerak saja sedikit sulit.
"Ahh," rintih Athana ketika menggerakkan tangannya.
"Diamlah di sana! Masih ada peluru di bahumu," kata Dove yang saat itu sedang mempersiapkan peralatan operasi untuk mengeluarkan peluru di bahu Athana.
Athana memegangi bahunya sambil memejam, rasanya sangat sakit, tetapi ia mencoba tak acuh. Dia juga tak mengindahkan ucapan Dove yang menyuruhnya berbaring, malah langsung bangkit meski rasa sakit di bahunya cukup menyiksa.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Kamu___"
"Bagaimana keadaan Mike?" pungkas Athana dengan cepat.
"Seperti yang kamu inginkan, dia mati. Jadi, sekarang sudah tidak ada alasan untuk ke mana-mana. Tetaplah berbaring biar kuobati lukamu." Dove menjawab sambil mendekati Athana.
"Apa kamu orang yang sering mengirim pesan padaku?" tanya Athana dengan penuh selidik.
Dove mengernyit, "Pesan apa?"
Athana menarik napas panjang, sangat enggan untuk menjelaskan.
"Lalu kenapa kamu menolongku?" tanyanya.
Belum sempat Dove menjawab, tiba-tiba keduanya sudah dikejutkan oleh suara gedoran di pintu. Dove mengusap wajahnya dengan kasar, sedangkan Athana meliriknya penuh curiga.
__ADS_1
"Di depan ada masalah, kan?" tebak Athana. Pikirnya, tidak mungkin anggota Red diam saja saat melihat Mike meninggal, apalagi dirinyalah yang membunuh.
"Pintu itu cukup kuat, mereka tidak akan sanggup mendobrak. Tunggulah di sini dan jangan ke mana-mana. Nanti akan ada orang yang menolong kita," jawab Dove dengan suara yang tertahan. Sesungguhnya dia sangat berat berada dalam posisi ini. Namun, kenyataan telah memaksanya menjalani itu semua.
"Aku yang memulai, maka aku juga yang harus mengakhiri."
Athana tak peduli lagi dengan larangan Dove. Dia mencabut paksa slang infus yang menancap di punggung tangan. Lantas, dengan sedikit tertatih turun dari ranjang.
"Athana, jangan sembarangan mengambil tindakan atau kamu akan mati!" bentak Dove.
Di luar sana para anggota Red sudah murka dan siap menghabisi dirinya dan juga Athana. Entah akan jadi apa jika Athana keluar dengan tubuh yang terluka.
"Dengan berdiam diri di sini kita juga bisa mati. Mereka memang tidak bisa mendobrak pintu itu, tapi mereka bisa meledakkan tempat ini. Kau mau hancur berkeping-keping di sini?" Athana menyahut sambil menyambar dua pistol yang tergeletak di atas meja.
"Athana, tunggu!" Dove mencekal lengan Athana yang berdarah akibat slang infus yang dicabut paksa. "Sebentar lagi ada orang yang akan membantu kita. Tolong, jangan gegabah!" sambungnya.
"Aku tidak ingin bergantung pada orang lain," jawab Athana.
"Jangan keras kepala, Athana!" teriak Dove.
Akan tetapi, Athana tak peduli. Pengkhianatan Johan dan Alex sudah cukup membuatnya jera. Saat ini tak ada lagi orang yang dia percaya secara sempurna, tak ada tempat yang layak untuk bergantung selain diri sendiri.
"Atha___"
__ADS_1
"Jangan halangi aku!" Athana menatap tajam. "Kamu pasti tahu kenapa aku melakukan ini. Menurutmu, apa aku masih bisa percaya pada orang lain?" sambungnya.
Dove terdiam. Tatapan Athana yang semula tajam, perlahan meredup dan menyiratkan kekecewaan yang teramat besar. Dove menarik napas panjang, paham benar bagaimana perasaan Athana. Sebenarnya tidak salah jika wanita itu tak percaya lagi pada orang lain. Kejadian kemarin pasti sudah mengguncang jiwanya. Namun masalahnya, jika tetap keras kepala, maka nyawanya yang akan menjadi taruhan.
Selagi Dove masih bergeming memikirkan perasaan Athana, wanita itu sudah pergi meninggalkannya. Sekejap saja, dia sudah berdiri di depan sana dan membuka pintu ruangan dengan lebar. Umpatan dan caci maki terdengar bersahutan, beriringan dengan desing peluru yang siap menembus jantung lawan.
"Dasar keras kepala!" Dove pun turut mengumpat. "Aku tidak bisa diam saja, aku harus melakukan sesuatu," sambungnya.
Sementara itu, Athana terus berusaha melawan para anggota Red yang sudah berambisi untuk menghabisinya. Meski tangan kirinya masih sakit dan kini juga menjalar sampai ke dada, tetapi Athana tak menyerah. Dia kerahkan semua tenaganya untuk menyelesaikan kekacauan yang sudah dibuat.
Setelah beberapa menit berlalu dan Athana belum juga tumbang, malah beberapa anggota Red yang sudah bergelimpangan, salah seorang yang tersisa maju sambil membawa benda yang membuat Athana langsung terpana.
"Aku tidak akan membiarkan pengkhianat sepertimu berkeliaran di sini. Kau harus mati, tak peduli meski nyawaku yang jadi taruhan," ucap lelaki itu.
"Kau jangan gila! Aku punya alasan kenapa melakukan ini. Johan tidak sebaik yang kamu kira!" teriak Athana sambil melangkah mundur.
"Aku tidak peduli, yang jelas kau harus mati." Lelaki itu makin mendekat dan menyudutkan Athana di pintu ruangan.
Karena tak ada pilihan, Athana kembali masuk ke ruangan Dove dan berusaha menghentikan aksi lawan. Namun, gagal. Lelaki itu ikut masuk dan tetap melancarkan aksinya sambil tersenyum menyeringai.
"Hidupku sudah berakhir, pengkhianat."
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan lelaki itu, ledakan pun terjadi. Tidak hanya di ruangan Dove, melainkan juga merambat di ruangan lain yang ada di lantai tiga.
__ADS_1
Bersambung...