Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Athana dan Ketakutannya


__ADS_3

Sementara itu, Edward dan Athana dalam perjalanan menuju ruang bawah tanah. Mereka menapaki anak tangga yang curam dan pengap. Ruang bawah tanah memang bukan tempat yang layak, karena fungsi utamanya untuk mengurung tawanan.


"Kenapa Tuan Johan sampai mengirimmu ke sini?" tanya Edward ketika mereka menginjak anak tangga yang terakhir.


"Semalam Nona Jessy tidur di rumahku, dan apesnya pagi ini ada masalah. Aku tidak tahu masalah persisnya seperti apa, tapi yang jelas ... Tuan Johan mencurigaiku," jawab Athana.


Edward menatap Athana lekat-lekat. Ada rasa tak percaya ketika Johan memerintahnya membawa Athana ke ruang bawah tanah. Selama ini, Athana termasuk dalam jajaran pembunuh andalan Red. Meski pernah terluka, tetapi Athana tidak pernah gagal total dalam menyelesaikan misi. Dia adalah aset berharga di dalam Red.


"Kamu yakin tidak melakukan kesalahan lain?" tanya Edward sambil mendekati ruang jeruji dan membuka gemboknya.


"Seingatku tidak. Red adalah rumahku," jawab Athana.


Edward mengangguk-angguk, "Mungkin ini hanya kesalahpahaman. Bersabarlah sebentar di sini. Jika kamu tidak bersalah, Tuan Johan akan secepatnya membebaskanmu."


"Iya."


Athana tersenyum lebar. Bukan karena kalimat simpati dari Edward, melainkan karena teringat dengan asap kemerahan yang dia temukan di koper Jessy. Saat ini, barang aneh itu ada bersamanya. Athana penasaran dengan efek yang akan ditimbulkan.


"Entah akan membantuku atau tidak, tapi sepertinya ... Edward-lah yang akan menikmati asap ini," batin Athana.


Tangannya yang diborgol bergerak pelan dan mengambil botol kecil yang ia selipkan di balik baju. Dalam hatinya Athana mengejek Edward yang memborgolnya di depan. Andai saja tangannya dibawa ke belakang, maka tidak akan bisa melancarkan aksi.

__ADS_1


"Mungkin ini adalah hari apesmu, Edward." Athana membatin sambil menggenggam botol asap, lantas mengeluarkan dan membukanya dengan gerakan cepat.


"Athana___"


Edward gagal meneruskan ucapan, karena saat berbalik Athana langsung mendorongnya hingga membentur jeruji. Tanpa sempat Edward mengelak, Athana sudah membekap mulut dan hidungnya. Lantas, ada aroma aneh yang tiba-tiba menyeruak dan perlahan membuatnya kehilangan kesadaran.


"Edward!" panggil Athana dengan pelan.


Keningnya mengernyit saat menatap keadaan Edward saat ini. Tubuh lelaki itu tetap bugar, tetapi pandangannya tampak kosong.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Athana dan Edward menanggapinya dengan anggukan.


"Kamu tidak marah?" Athana kembali bertanya dan kali ini Edward menanggapinya dengan gelengan.


"Pergilah dari sini!"


Athana membelalak karena Edward langsung menuruti perintahnya. Sungguh aneh, pikir Athana.


"Berikan kunci borgol dan juga senjata yang kamu bawa!" Athana kembali memberi perintah, dan sesuai dugaan, tanpa ragu Edward menyerahkan benda yang dia minta.


"Benar apa kata orang yang mengirimiku pesan, Mike sangat mengerikan. Bahkan, dia bisa menciptakan alat sehebat ini. Tapi ... aku tidak yakin efeknya akan permanen. Jadi dari pada beresiko, lebih baik aku bereskan saja dia." Athana membatin sambil tetap menatap Edward.

__ADS_1


"Ayo ikut aku!" ajak Athana setelah melepas borgol di tangannya.


Dia menggandeng tangan Edward dan membawanya menuju ruangan yang paling ujung. Meski hanya beberapa kali datang ke tempat itu, tetapi Athana masih hafal jika di sana terdapat tumpukan jerami, yang biasa digunakan untuk alas tidur para tawanan.


Sesampainya di sana, Athana menyuruh Edward duduk di sudut ruangan, di antara jerami-jerami yang menumpuk tinggi.


"Athana, apa yang kamu lakukan?"


Bersamaan dengan teriakan Edward yang baru saja mendapatkan kesadarannya, Athana menarik pelatuk pistol tepat ke arah jantung. Dua detik kemudian, Edward terjatuh sambil memegangi dadanya yang mulai mengucurkan darah.


"Kamu ada di pihak Johan, jadi ... maaf," ucap Athana sambil melayangkan tembakan yang serupa.


Dalam hitungan detik, Edward sudah mengembuskan napas terakhirnya. Athana pun langsung menimbun tubuh itu dengan jerami, sampai tidak terlihat lagi.


Setelah selesai, Athana kembali ke ruangan yang diperuntukkan untuknya. Tak lupa ia kunci, seolah-olah dirinya memang dikurung. Athana juga kembali memasang borgol setelah menyimpan pistol dan kunci.


"Semoga ini bisa mengelabuhi mereka," gumam Athana sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Saat itu pula, matanya menatap sebuah benda yang sangat familier.


"Sejak kapan di sini ada CCTV?" gumam Athana dengan mata yang memelotot tajam.


Detak jantung yang semula sudah normal, kini kembali berdetak cepat. Terlebih lagi saat mendengar derap langkah sedang menuruni anak tangga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2