Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Gugup


__ADS_3

Apa yang menjadi rencana Larry dan Athana berjalan dengan lancar. Kerja sama yang mereka jalin mampu mengantar keduanya dalam posisi yang tinggi. Baru satu tahun berlalu, perusahaan mereka sudah menjadi perusahaan besar yang menaungi banyak perusahaan lain. Dukungan datang dari mana-mana, dari waktu ke waktu bisnis mereka makin berkembang pesat, dan itu semua mereka dapatkan tanpa melakukan kecurangan.


Kini, untuk merayakan keberhasilan bisnis mereka, keduanya sepakat untuk mengunjungi Dove, yang makin hari makin sibuk dan hampir tak ada waktu untuk bersantai. Acara hari itu pun, entah sudah berapa lama ia agendakan. Namun, baru sekarang bisa terealisasi.


"Dove, tidak bisakah kau matikan sejenak ponselmu? Belum genap dua jam kita berkumpul, tapi kau sudah tiga kali menerima telepon," gerutu Larry sembari menyulut sebatang rokok.


Ia sedikit kesal melihat tingkah kawan lamanya, yang sedari tadi disibukkan dengan dering telepon. Padahal, Jarang-jarang mereka berkumpul seperti sekarang. Itu saja ia dan Athana sudah mengalah, ketiganya hanya berkumpul di VIP room, di salah satu restoran yang cukup dekat dengan rumah sakit milik Dove.


"Pekerjaanku menyangkut nyawa orang, tidak seperti kalian yang hanya berkaitan dengan uang dan saham. Aku tidak bisa mengabaikan tanggung jawabku sedetik pun," sahut Dove sambil mendaratkan kembali tubuhnya ke atas sofa.


"Oh, jadi yang telpon barusan pasien yang hampir mati?" Larry tidak membalas tatapan Dove, malah fokus dengan sebotol vodka yang baru saja dibuka.


"Heh, mulutmu dijaga! Sembarangan saja bicara. Pasienku harus sembuh, tidak boleh mati. Dan lagi, barusan yang telpon adalah bawahanku, bukan pasien." Dove melotot tajam, tetapi Larry tidak peduli. Ia terus sibuk menikmati rasa khas vodka yang mulai mengalir di tenggorokannya.


Tak jauh dari mereka, Athana tertawa renyah. Melihat interaksi Dove dan Larry yang tidak ada manis-manisnya, Athana merasa lucu, sekaligus bahagia. Dia tahu, di antara kata-kata kasar yang mereka lontarkan, terselip kepedulian yang tinggi. Sejatinya, mereka adalah sahabat yang dekat. Terbukti dari sikap Dove dulu, yang mau membantu Larry dan ikut andil dalam kehancuran Johan.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Larry sesaat kemudian.


"Aku merasa ... kamu dan Dove sangat cocok." Athana menjawab sambil meletakkan segelas mocktail yang baru diteguk sedikit. Sejak menjalani kehidupan normal, Athana memang menghindari minuman beralkohol.

__ADS_1


"Sepertinya matamu bermasalah, Athana. Ada baiknya datanglah ke rumah sakit, biar kuperiksa secara intens," sahut Dove, yang lantas membuat Larry menoleh cepat.


Akan tetapi, belum sempat Larry memprotes ucapan Dove, lelaki itu sudah bangkit dan melangkah pergi, karena lagi-lagi ada telepon masuk. Larry menatapnya dengan mata yang memicing.


"Dasar dokter sialan! Apa dia sudah jatuh miskin, jadi hanya bisa mempekerjakan orang-orang bodoh yang tahunya hanya menganggu atasan?" Larry bersungut-sungut.


Lagi-lagi Athana hanya menanggapinya dengan tawa.


Tanpa sadar, Athana memandangi wajah Larry dari samping, sangat memesona. Tidak hanya wajahnya yang tampan, tetapi juga kharisma dan wibawanya terpancar jelas. Orang asing pun akan tahu kalau dia bukan orang sembarangan.


"Larry," panggil Athana sesaat kemudian.


"Ada baiknya kurangi minum, demi kesehatanmu sendiri. Ingat, kamu adalah perokok berat. Sangat tidak baik jika terus dibarengi dengan alkohol," ujar Athana.


Larry tidak menjawab, hanya menoleh dan menatap penuh arti, hingga Athana salah tingkah dibuatnya.


"Sorry, aku tidak ada maksud untuk mengaturmu. Aku hanya peduli dengan kesehatanmu saja. Tapi, jika menurutmu saranku tidak bagus, lupakan saja." Athana tersenyum dan berusaha meralat ucapannya.


Larry masih tak mengatakan sepatah kata, tetapi langsung beringsut mendekat dan memangkas jarak antara dirinya dengan Athana.

__ADS_1


"Kamu hanya peduli dengan kesehatanku?" tanya Larry dengan tatapan yang lebih lekat dan tajam.


"Iya." Athana menjawab dengan terbata-bata.


Larry mendengkus kasar, "Lain kali tidak usah peduli."


Athana makin gugup. Alhasil, ia hanya mengangguk pelan. Kilatan dalam mata Larry membuat lidahnya kelu dan tak bisa mengucap kalimat. Di hadapan Larry, kemampuan dan keberaniannya memang luluh lantak.


Sesaat setelahnya, Larry kembali mengambil jarak. Lantas, ia menggoyang-goyangkan botol vodka yang masih tersisa setengah.


"Jika hanya peduli dengan kesehatanku, lupakan, itu sama sekali tidak berguna. Karena yang kubutuhkan ... bukan hanya itu," ucap Larry.


Athana termenung dalam waktu yang lama. Kalimat Larry terdengar ambigu, dan ia tak bisa menerka apa gerangan maksudnya.


"Kau tidak mau mengatakan sesuatu, Athana?" Lagi, Larry yang bicara. Ia melayangkan pertanyaan sulit, lengkap dengan tatapan tajamnya.


"Aku ... aku___"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2