
Di dalam kamar yang mewah dan luas, seorang lelaki sedang duduk di sofa sambil memangku laptop. Rambutnya yang kecokelatan dan sedikit memanjang, dibiarkan berjatuhan di antara telinga. Sementara matanya yang berwarna hazel tak lepas dari gambar wanita yang ada di layar laptop.
"Athana Morgan, keberanianmu sangat besar, sebanding dengan ambisimu yang tinggi. Tapi, kau sering tidak sadar jika ambisi bisa membuat lalai dan melakukan kecerobohan. Jika terus-menerus seperti itu, lama-lama kau akan celaka." Bibir sensual milik lelaki itu bergumam pelan, sekilas juga mengulum senyum saat memandangi wajah Athana yang tampak ketakutan.
Dia adalah Larry Cox. Lelaki bertubuh kekar dan berparas tampan. Dengan mata hazel dan hidung mancung, sangat serasi dengan rahangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Sepintas menatap, banyak kaum hawa yang terjatuh dalam pesonanya. Namun, jika tahu seperti apa sifat asli seorang Larry, kekagumannya akan berubah menjadi rasa takut.
Meski bukan pembunuh bayaran seperti Athana, juga bukan pemimpin organisasi gelap seperti Johan, tetapi Larry memiliki peran yang tak kalah mengerikan.
Sejak Mike dan Johan mengirim Athana ke dimensi lain, dia pun mulai melancarkan aksi. Dia meretas sistem keamanan di Red dan mencuri banyak informasi rahasia dalam organisasi itu. Tak terkecuali hari ini, dia sengaja mengacaukan jaringan komputer mereka, sehingga rekaman CCTV di lantai bawah hanya dapat diakses oleh dirinya seorang.
Ketika Larry masih asyik memandangi wajah Athana yang mulai pias, pintu ruangan diketuk dari luar. Larry menyuruhnya masuk, dan ternyata yang datang adalah Mir—tangan kanannya.
"Tuan Larry, pihak Red sudah menghubungi kita. Mereka akan membawa uang dan senjata seperti yang kita minta," ucap Mir.
"Bagus. Berikan saja alamat ini dan suruh Johan sendiri yang datang menemuiku," jawab Larry sambil tersenyum licik.
"Jika mereka menolak, Tuan?"
"Katakan saja, Jessy akan mati."
Usai mendapat jawaban dari sang atasan, Mir keluar ruangan dan menyampaikan pesan yang diterimanya. Sementara itu, Larry bangkit dari duduknya dan mengambil ponsel. Dia menelepon seseorang yang juga bekerja di Red.
"Halo, Larry, ada apa?" sapa seorang lelaki yang pernah menjadi kawan Larry.
"Mungkin tidak lama lagi akan ada peristiwa penting di sana. Aku minta bantuanmu, tolong lindungi Athana!" kata Larry dengan tegas.
Terdengar embusan napas kasar dari seberang sana, sedangkan jawaban tidak kunjung terucap meski Larry sudah menunggu lama.
"Kau tidak mau membantuku?" tebak Larry. Dari dulu kawannya memang berpihak pada Red, meskipun beberapa waktu lalu pernah sedikit berkhianat.
"Larry, sudah kukatakan berulang kali, aku tidak ingin ikut campur dalam masalahmu dengan Tuan Johan. Aku bekerja padanya, keluargaku hidup bahagia berkat dirinya. Bagimu dia memang jahat, tapi bagiku dia seperti malaikat. Cukup sekali saja aku membantumu, sebagai wujud simpatiku sebagai seorang teman. Sekarang, tolong jangan seret-seret aku lagi."
__ADS_1
Larry berdecak kesal saat mendengar jawaban yang sangat panjang, yang isinya sekadar penolakan.
"Baiklah jika seperti itu maumu, aku tidak memaksa lagi. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Kematian Athana tidak berpengaruh sedikit pun dalam rencanaku. Jika dia benar-benar mati, aku masih bisa menghancurkan Red dengan jalan kasar. Hanya saja ... aku tidak bisa menjamin kau akan tetap hidup jika hal itu benar-benar terjadi," ucap Larry dengan santainya.
"Larry, kamu___"
"Pilihan ada di tanganmu, Kawan," pungkas Larry.
"Katakan apa yang bisa kulakukan!"
Larry tersenyum saat mendengar jawaban kawannya. Lelaki itu memang menjadi tulang punggung keluarga, jadi pasti berpikir ulang untuk membahayakan nyawa. Bagaimana nasib keluarganya nanti jika dia mati?
"Tidak banyak, cukup lindungi Athana. Kau tahu kan sekarang Johan mulai curiga terhadap dirinya. Sekarang dia dikurung di ruang bawah tanah, dan Johan pasti mencari tahu tentangnya. Tugasmu adalah melindunginya dan membuat Johan yakin bahwa Athana tidak pernah berkhianat!" kata Larry yang langsung diluluskan oleh lawan bicaranya.
"Baik, akan aku lakukan. Mmm tapi, Larry ... Nona Jessy baik-baik saja, kan?"
Larry mengembuskan napas panjang, "Aku tidak terlibat dalam hilangnya Jessy."
"Aku tidak yakin. Kamu ingin balas dendam, kan? Pasti ini bagian dari rencanamu."
Sebenarnya, tidak seratus persen salah apa yang ia sampaikan. Kematian Jessy memang tidak ada hubungan dengannya. Dia sekadar memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak Johan, sekaligus menyelamatkan Athana.
"Terserah kamu saja. Aku hanya ingin mengingatkan, Jessy adalah orang penting bagi Tuan Johan. Jika kamu menyakitinya, akan terjadi hal buruk yang tidak pernah kamu bayangkan. Aku akui kamu memang hebat, tapi kamu sendirian, sedangkan anggota Red tidak terhitung jumlahnya. Kamu pikir benar-benar mampu melawan Tuan Johan? Larry, sebelum mengedepankan emosi, sekali-kali pikirkan dulu keadaanmu sendiri. Walaupun aku ada di pihak Tuan Johan, tapi aku juga tidak ingin kamu mengalami hal buruk."
"Aku paham. Kau tenang saja, tidak akan ada hal buruk yang menimpaku," jawab Larry sambil mengakhiri sambungan telepon.
"Walaupun teman, tapi kau ada di pihak lawan. Jadi maaf kalau banyak rahasia yang kusembunyikan darimu," gumam Larry.
Sementara itu, di ruang bawah tanah Athana meringkuk sambil menyandarkan punggung di jeruji besi. Derap langkah makin lama makin mendekat, dan Athana belum mendapatkan jalan untuk mengelak atau mungkin melawan.
"Apa yang harus aku lakukan," batin Athana. Pikirannya buntu akibat rasa takut yang teramat besar.
__ADS_1
"Di mana Edward?"
Meski masih diliputi rasa cemas, tetapi Athana memberanikan diri untuk bangkit saat mendengar suara tegas dan berat. Suara yang tak lain adalah milik Johan. Lelaki itu mendatanginya bersama dua orang bawahan.
Athana mengernyit sekilas. Dia heran mengapa Johan menanyakan keberadaan Edward, sedangkan CCTV terpasang jelas dan pasti menyimpan jejak kejadian tadi.
"Athana!"
"Maaf, Tuan. Tapi, bukankah Edward sudah naik?" Athana menunduk dan berusaha bicara tenang, meskipun dia tahu bahwa kebohongan itu akan mudah dibaca oleh Johan.
"Kamu yakin?" Johan kembali bertanya.
"Tentu saja, Tuan. Setelah mengunci pintu ini, dia pamit dan kembali ke atas."
Johan mengusap wajahnya dengan kasar. Meski jawaban Athana meragukan, tetapi saat melirik ke sana kemari ia tak mendapati sosok Edward. Selain itu, dia juga melihat borgol di tangan Athana. Dengan benda itu, mustahil dia bisa melawan Edward.
"Serahkan ponselmu!" perintah Johan.
Athana kesulitan menelan ludah. Untuk saat ini, dia harus menolak perintah Johan. Karena jika tidak, maka segalanya bisa terungkap. Nomor tak dikenal sering mengirim pesan pada waktu-waktu tertentu. Jika sampai terbaca Johan, maka habislah dia.
"Kamu tidak ingin menyerahkannya?" tanya Johan dengan tatapan tajamnya.
Selagi Athana masih terbatuk-batuk demi mengulur waktu untuk mencari alasan, seseorang datang dengan langkah yang tergesa. Dia setengah berlari menuruni anak tangga dan menghadap Johan.
"Tuan, penculik itu sudah menghubungi dan memberikan alamat jelas. Tapi ... mereka meminta Anda sendiri yang datang ke sana. Jika tidak, maka Nona Jessy akan mati."
Athana membelalak saat mendengar laporan bawahan Johan.
"Jessy akan mati. Tapi, dia kan sudah kubunuh?" batinnya.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih untuk kakak pembaca yang masih setia sampai bab ini. Ditunggu selalu dukungannya yah🥰🥰. Maaf kalau sebagian komentar belum dibalas, nanti akan kuusahakan secara bergantian.
BTW, kira-kira yang berteman dengan Larry siapa hayooww?