Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Dendam yang Kejam


__ADS_3

Tubuh Johan tidak menapak di atas lantai, melainkan mengambang sekitar satu meter. Kedua tangannya direntangkan dan digantung dengan besi berduri. Selain keringat yang membuat tubuhnya mengkilap, Athana juga melihat tetes-tetes darah yang keluar dari pergelangannya. Bukan itu saja, dada Johan yang dibiarkan telanjang terlihat naik turun mengatur napas yang tersengal-sengal, dan jika dipandang dengan jeli ada luka-luka kecil yang masih basah di sekujur tubuhnya.


Athana yang sebenarnya masih diliputi dendam, perlahan berpaling sambil menenangkan hatinya. Sebenci-bencinya dia terhadap Johan, tetapi masih tidak sanggup melihatnya semenderita itu.


"Berapa lama dia seperti ini?" tanya Athana dengan pelan.


"Sejak malam itu. Tapi, aku masih punya hati kok. Setiap pagi aku menyuruh seseorang untuk melepasnya, rutin aku memberinya sarapan." Jawaban Larry diiringi tatapan sinis, juga seringaian licik. Athana mulai berpikir lain, yang dimaksud melepas dan memberi sarapan, pasti hanyalah kiasan untuk siksaan lainnya.


"Bajingan! Cepat bunuh aku!"


Teriakan Johan bergetar dan menggema di ruangan itu. Athana pun menoleh dan lagi-lagi disuguhi dada yang penuh keringat dan luka. Tanpa dipinta, Athana kembali mengingat kenangan lalu. Di mana dia terpuruk dan nyaris bunuh diri, sosok itulah yang datang membantu. Meskipun dia membawanya ke jalan yang salah, tetapi setidaknya cara itu bisa membuatnya bertahan hidup. Membuatnya tahu cara melawan keras dunia. Andai tidak ada uluran tangan Johan, pasti sekarang dirinya tinggal tulang belulang.


"Kenapa? Kamu kasihan melihat dia?" tanya Larry.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia bertahan selama satu minggu dalam keadaan yang seperti ini?" Athana balik bertanya, suaranya pelan dan nyaris seperti bisikan.


"Dia pria yang kuat. Selain karena sering berlatih dengan maut, dia juga sering mengonsumsi obat dari Mike. Tapi, sekarang tubuh yang kuat itu malah jadi boomerang untuk dirinya sendiri." Larry tersenyum licik, sangat menikmati penderitaan Johan. Menurutnya, itu sangat sepadan dengan apa yang ia lakukan terhadap Julia dan Deschara.


"Kamu saja yang membunuhnya! Aku akan menunggu di atas!" Athana menyerahkan pistol yang ia bawa kepada Larry, lalu berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu.


Johan menatapnya dengan sorot mata sayu, terselip rasa bersalah pada wanita yang selama bertahun-tahun ini berjasa besar bagi bisnisnya.


"Andai aku tidak memanjakan Jessy, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ah, salah. Andai aku tidak berambisi dan bernafsu tinggi, semuanya akan berjalan normal seperti waktu lalu. Tidak akan ada dendam yang sebesar ini. Tapi, apa mungkin ini juga karmaku. Selama memegang kendali Red, sudah ribuan nyawa yang mati dalam kendaliku. Mungkin mereka sesakit ini sebelum mati, dan seputus asa ini ketika kehilangan orang yang disayangi. Seharusnya dari dulu aku menyadari semua ini," batin Johan sembari menahan sesak di dada.


Sejak dulu Larry memang tegas, harusnya ia paham bahwa pribadi yamg seperti itu akan berubah menjadi iblis jika dilukai. Sekarang semuanya sudah telanjur, dendam sudah tak bisa dipadamkan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima detik-detik kematiannya. Entah akan sesakit apa, harus ia terima.


"Kau lihat bagaimana Athana? Dia pergi dan tidak tega melihatmu, padahal kau sudah mengkhianatinya dan bahkan menginginkan kematiannya. Heh, orang lain bisa bersikap seperti itu padamu, tapi kau ... aku dan Kak Julia tidak pernah mengabaikanmu, tapi balasanmu terhadap kami sangat menjijikkan. Kau kejam, Johan!" teriak Larry dengan lantang.

__ADS_1


"Bunuh aku!"


Larry tertawa, "Kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak manjamu itu, iya?"


"Seminggu ini sudah cukup untuk menebus kesalahanku," sahut Johan.


"Tidak! Kau sudah membunuh kakak dan juga kekasihku. Mati pun kamu, kesalahan belum bisa ditebus, karena mereka tidak akan pernah kembali." Larry masih memasang wajah yang penuh amarah.


"Kamu memang bisa membohongiku, tapi tidak dengan diri sendiri. Kamu sudah punya jawaban atas kepergian mereka, jangan memperkeruh keadaan hanya demi dendam. Kamu tidak ingin, kan, rencanamu untuk kembali bersama mereka gagal total?" kata Johan, tenang tetapi berhasil menampar hati Larry.


"Kau!"


"Red sudah kembali padamu, mesin waktu sudah siap membawamu kembali ke masa lalu, dan Athana pun ... sudah menyerahkan kematianku padamu. Jadi, apalagi yang menahanmu, Larry?" ujar Johan.

__ADS_1


"Jangan bicara lagi!" Larry menodongkan pistol ke arah Johan, dan telunjuknya pun siap menarik pelatuk.


Bersambung...


__ADS_2