Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Awal Hubungan


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 malam, Athana dan Larry sedang dalam perjalanan pulang. Mereka akan kembali ke rumah lama Larry, yang selama beberapa bulan terakhir ditinggalkan karena tuntutan pekerjaan—demi mengejar bisnis, ia lebih sering tinggal di negara lain, salah satunya negara tempat Athana.


"Larry, yang kamu katakan tadi ... apa itu benar?" tanya Athana memecah keheningan di antara mereka.


Meski tadi sudah bertukar ludah, tetapi keduanya belum membahas lagi keseriusan cinta yang sempat Larry ucapkan. Mereka menghabiskan waktunya dengan Dove, dan itu membuat Athana tak bisa bertanya langsung tentang perasaan Larry.


Larry tidak langsung menjawab, melainkan menepikan mobil dan kemudian menatap Athana secara intens.


"Apa aku pernah bercanda?" tanyanya.


Athana menggeleng. Lagi-lagi rasa gugup kembali menghampiri. Berhadapan dengan Larry membuatnya kehilangan keberanian, ah sial. Dia terlihat seperti wanita lemah.


"Kalau begitu kenapa masih kau tanyakan serius tidaknya?" Larry kembali bertanya.


"Kamu sangat mencintai Deschara. Jujur ... aku tidak percaya jika secepat itu kau mencintaiku," jawab Athana, menyuarakan apa yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


"Cepat? Bukannya sudah bertahun-tahun kita saling mengenal?"


"Iya, tapi___"


Larry mengembuskan napas panjang, lantas memungkas ucapan Athana, "Sudah kukatakan, aku telah berdamai dengan masa lalu. Artinya, sudah tidak ada dendam ataupun cinta dari masa itu. Deschara hanyalah kenangan, dan masa depanku adalah ... kau."

__ADS_1


"Kenapa aku?"


"Apakah cinta butuh alasan?" Larry balik bertanya. Meski terkesan dingin datar, tapi ternyata dia sangat pandai membalikkan omongan.


Namun, kali ini Athana tak menyerah lagi. Segugup apa pun dia, berusaha keras untuk menjawab setiap pertanyaan dan perkataan yang Larry lontarkan. Dia tak ingin menjalin hubungan yang hanya dilandasi pelarian atau semacamnya. Cukup dengan Alex ia gagal dan merasakan sakit, jangan sampai terulang kedua kali.


"Aku tahu cinta itu tidak butuh alasan. Tapi ... pasti ada awal mula dan pertimbangan sebelum kamu mengutarakannya padaku. Itu yang ingin tahu, Larry. Mungkin kamu tidak menerima penolakan, tapi aku juga tidak menerima paksaan. Aku ingin tahu dulu bagaimana kamu yakin jika itu cinta. Larry, kamu tahu aku pernah kecewa, kan? Jadi, tolong maklumi jika sekarang aku lebih berhati-hati," ujar Athana dengan panjang lebar.


Larry tersenyum tipis, tampak sangat menawan di mata Athana. Memang, segala sesuatu tentang Larry, kini terlihat sempurna baginya.


"Baiklah, akan kujelaskan dengan rinci. Tapi, kau harus berjanji tidak akan lagi membandingkan aku dengan bajingan itu." Larry menjeda kalimatnya, lantas membuka kaca mobil dan kemudian menyulut sebatang rokok.


Athana masih diam, berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Larry.


"Aku adalah Larry Cox. Sebaik apa pun aku menyelesaikan masalah di masa lalu, tidak menutup kemungkinan ada orang-orang seperti Johan di kemudian hari. Apalagi dengan posisiku sekarang, cukup berpengaruh dalam bisnis. Aku yakin di luar sana banyak yang membenci dan mengharapkan kehancuranku. Itu sebabnya, menjadi wanitaku tidak mudah. Ibarat kata selalu ada bahaya yang mengintainya. Aku tidak mau kecolongan untuk kedua kali, makanya jika wanita itu bukan kau, lebih baik kupendam saja. Aku tidak akan membahayakan orang yang kucintai lagi, aku tidak ingin kejadian yang menimpa Deschara terulang pada wanita lain. Tapi, karena itu kau, aku yakin sangat mampu berdiri di sampingku." Tatapan Larry makin lekat, dan jaraknya pun makin dekat. Sampai-sampai aroma nikotin itu tercium jelas di hidung Athana.


"Kamu benar ... tidak semua orang bisa bersanding dengan orang-orang seperti kita. Telanjur masuk dalam kehidupan yang gelap, mencoba berhenti pun, pasti masih ada resiko," ucap Athana.


"Athana, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sudah menerangkan rinci semua perasaanku. Sekarang, berikan jawabanmu." Larry mematikan rokok dan membuang puntungnya. Lantas, meraih pinggang Athana, hingga tak tersisa jarak di antara keduanya.


Athana tersenyum, "Jawaban apa lagi yang kamu mau? Kamu tidak menerima penolakan, kan?"

__ADS_1


"Tapi, kau juga tidak menerima paksaan," sanggah Larry.


Athana tersenyum makin lebar, "Anehnya saat ini aku tidak merasa terpaksa."


Senyuman tipis kembali terukir di bibir Larry, "Jadi kau juga mencintaiku? Sejak kapan?"


"Aku tidak tahu. Sejauh ini yang kumengerti hanya satu, aku sedih saat kamu kembali ke masa lalu, dan kemudian bahagia saat kamu kembali ke sini."


Tanpa basa-basi, Larry mendekap erat tubuh Athana dan menghirup habis aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. Cukup lama keduanya saling memeluk, menumpahkan rindu yang sekian waktu menyesakkan dada.


"Jika sekarang aku membicarakan pernikahan, apa menurutmu itu terlalu buru-buru?" tanya Larry.


"Kita sudah dewasa. Aku sudah menginjak kepala tiga dan kamu hampir kepala empat. Sudah begini, apa lagi yang perlu ditunggu?" Jawaban Athana membuat Larry menghela napas lega. Impiannya untuk menikahi Athana ternyata bersambut baik.


"Kau ingin menikah di mana?" tanya Larry kemudian.


"Tidak ada yang istimewa dari tempat asalku, selain kenangan-kenangan pahit. Mungkin ... akan lebih baik jika kita menikah di negara ini, tempat yang menjadi awal pertemuan kita," jawab Athana tanpa mengurai pelukan.


" Baik. Aku akan menyiapkan pesta pernikahan paling megah untukmu ... Sayang," bisik Larry, yang kemudian diakhiri dengan ciuman mesra.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2