
Tak jauh dari tempat Athana berdiri, Johan mengacak rambutnya dengan kasar. Lantas, tangan kekar itu terlihat mengepal dan dada tampak naik turun karena napas yang tak beraturan.
"Beraninya dia menantangku!" geram Johan.
Bawahan yang barusan membawa laporan hanya menunduk takut. Dia tak berani memberikan komentar apa pun.
Tak lama kemudian, Johan kembali menatap Athana, yang masih menunduk seperti sebelumnya.
"Serahkan ponselmu!" perintahnya lagi.
Karena tak ada pilihan lain, dengan terpaksa Athana merogoh saku depannya dan mengambil ponsel miliknya. Sembari menyodorkannya kepada Johan, Athana terus membatin, berharap agar tak ada pesan lagi selama ponsel itu ada di tangan Johan.
"Semua pesan yang mencurigakan sudah kuhapus, tapi ... bisa saja orang itu mengirim lagi. Rencanaku akan hancur jika itu benar-benar terjadi," batin Athana.
"Mulai dari semalam sampai sekarang, kau selalu membuatku curiga, Athana. Jadi, tetaplah di sini dengan patuh sampai Jessy kembali dengan selamat. Ingat, jangan coba-coba berkhianat!" Johan langsung pergi sebelum Athana menyahut ucapannya.
Dengan setengah berlari Johan menaiki anak tangga dan bergegas menuju ruangan Mike. Di sana, lelaki itu sedang duduk di depan komputer dengan raut wajah yang tampak lelah. Sejak dini hari dia belum istirahat. Awalnya menyelediki Athana yang bisa kembali dari dimensi dengan selamat, padahal dalam sistem yang sudah dia buat, Athana akan selamanya di sana. Namun, belum sempat ia menemukan titik terang masalah Athana, tiba-tiba sudah mendapat kabar tentang hilangnya Jessy. Alhasil, dia harus bekerja keras dan memeras otak sampai detik ini. Itu pun belum bisa dikatakan berhasil.
"Tuan Johan." Mike menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Bagaimana penyelidikanmu?" tanya Johan dengan posisi yang tetap berdiri.
Mike membuang napas kasar. Kesal dan kecewa bercampur menjadi satu dalam benaknya. Sebagai pria yang berperan sebagai otak Red, Mike merasa malu karena sejak beberapa hari kemarin pekerjannya berantakan. Semuanya gagal total. Belum ada satu pun misteri yang dapat ia pecahkan dengan sempurna, malah hari ini ia kecolongan, jaringan diretas orang tanpa bisa dicegah. Sungguu memalukan.
"Mike!"
"Saya belum bisa melacak identitas penculik Nona Jessy. Saya juga ... belum berhasil menormalkan jaringan. Jadi ... rekaman CCTV di bawah tadi masih belum bisa diakses," ungkap Mike dengan perasaan cemas.
__ADS_1
Tak jauh beda dengan Mike, Johan pun ikut kesal dan kecewa saat mengetahui hal itu. Sejak pertama kali Red berdiri, Mike adalah satu-satunya orang yang dia percaya. Selain sifatnya yang setia dan patuh, Mike juga sangat cerdas dan bisa diandalkan. Selama ini, Mike nyaris tak pernah gagal dalam menjalankan perintah. Namun, akhir-akhir ini semuanya berbeda. Sejak Athana kembali, banyak hal-hal tak terduga yang membuat mereka mati langkah. Yang entah berhubungan atau sekadar kebetulan.
"Cara kerja lawan kita kali ini sangat asing, Tuan. Dia selalu menghilangkan jejak, kekuatannya jauh di atas kita," sambung Mike.
"Tidak mungkin. Organisasi terkuat adalah milikku—Red. Kau hanya butuh waktu saja untuk melumpuhkannya, Mike," sahut Johan yang kemudian ditanggapi dengan anggukan pelan.
"Coba kau periksa ini!" Johan menyodorkan ponsel milik Athana. "Mana tahu ada petunjuk yang jelas," sambungnya.
"Baik, Tuan."
Mike meraih benda tersebut dan mulai mengotak-atiknya. Namun, tidak ada sedikit pun petunjuk seperti yang mereka harapkan. Satu-satunya hal yang terkesan janggal hanyalah privasinya. Ponsel Athana tidak bisa dilacak.
Sebelumnya, seluruh ponsel milik anggota Red dapat dilacak oleh pemimpin. Tujuannya demi keselamatan anggota. Di mana pun mereka terluka, sang pemimpin atau rekan yang lain akan mudah datang untuk memberikan bantuan.
"Ponselnya tidak bisa kita lacak, Tuan. Memang ... ada yang tidak beres dengan Athana," ucap Mike setelah memberikan penjelasan panjang.
"Apakah Athana seorang peretas?"
"Kau juga harus segera menyelesaikan masalah ini!"
"Baik, Tuan. Saya akan berusaha lebih keras lagi," jawab Mike.
"Bagus. Aku tunggu kabar baikmu!"
***
Di dalam dinginnya ruang jeruji, Athana duduk seorang diri. Banyak rencana yang tersusun dalam otaknya. Namun, seakan tak berguna karena gerakannya terbatas. Sejak tadi pagi hingga kini malam telah tiba, dia belum melakukan apa pun, kecuali membunuh Edward.
__ADS_1
"Ahh, sial!" geram Athana.
Ketika Athana masih larut dalam pikirannya, tiba-tiba ada derap langkah yang menuju ke arahnya. Ternyata, yang datang itu adalah Dove.
"Athana!"
"Iya, ada apa?" tanya Athana dengan kening yang mengerut. Dia sangat heran karena tiba-tiba Dove datang, padahal sejauh ini hubungan mereka tidak terlalu akrab.
"Aku ke sini membawakan ini." Dove menyodorkan botol kaca kecil yang berisi cairan. "Ini obat agar kesehatanmu tetap terjaga. Tuan Johan yang menyuruhku melakukan ini," sambungnya.
Meskipun bingung, tetapi Athana meraih obat tersebut. Dia tidak banyak bertanya. Namun, juga tidak langsung meminumnya. Obat itu hanya ditimang-timang sampai beberapa detik lamanya.
"Aku ke atas dulu, mau membantu Mike. Jaringan kita diretas orang dan Tuan Johan sedang tidak ada."
Usai berucap demikian, Dove langsung pergi meninggalkan Athana yang termenung seorang diri.
Sampai beberapa menit berlalu, Athana tersadar dan mulai mencerna dengan baik apa yang disampaikan Dove.
"Jaringan diretas, sangat masuk akal jika dihubungkan dengan kejadian tadi pagi. Johan sama sekali tidak tahu jika Edward sudah mati, artinya rekaman CCTV ini tidak bisa diakses. Jika benar begitu, maka malam ini adalah kesempatanku beraksi. Kebetulan Johan juga sedang tidak ada," gumam Athana sembari merogoh kunci dan membuka borgol di tangannya. Sedangkan obat yang Dove kasih, dia simpan dalam saku celana.
"Tapi, tunggu!" Gerakan Athana terhenti. "Untuk apa Dove memberitahuku? Apakah dia pemilik nomor tak dikenal yang mengirimiku pesan? Atau ... jangan-jangan ini rencana dia dan Johan untuk menjebakku. Bisa saja kan sebenarnya tidak ada yang meretas dan jejak CCTV ini terekam jelas. Hanya saja mereka pura-pura agar bisa memergokiku," sambungnya berusaha menebak-nebak.
Untuk sesaat, Athana hanya bergeming di tempat. Bingung harus mengambil sikap yang mana, berpura-pura diam atau melakukan tindakan.
"Jika aku diam di sini, aku tidak akan mendapatkan jawaban apa pun. Aku harus keluar. Apa pun yang menyambutku nanti, aku siap menghadapinya. Mati karena melawan tidak melukai harga diri, ini lebih baik dari pada diam dan menunggu Johan membongkar semuanya."
Setelah membulatkan tekad, Athana membuka ruang jeruji dan keluar dari sana. Dengan langkah yang mengendap-endap dia menaiki anak tangga. Sebelum tiba di atas, Athana terlebih dahulu menyiapkan pistol yang ia rampas dari Edward. Lantas, selangkah demi selangkah ia meninggalkan suasana gelap dan pengap di sepanjang tangga.
__ADS_1
"Aku datang," batin Athana sambil tersenyum menyeringai.
Bersambung...