Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Kepergian Larry


__ADS_3

Malam sudah menyapa sejak beberapa saat yang lalu. Namun, Athana masih diam di dekat jendela. Belum ada keputusan yang dia ambil sampai saat ini. Bertahan di masa sekarang atau kembali ke masa lalu, sama-sama menyimpan kelebihan dan kekurangan.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Athana di antara tatapan kosongnya.


Di satu sisi dia ingin menghapus catatan hitam dalam hidupnya, tetapi di satu sisi dia takut catatan itu akan tertulis kembali dengan jalan yang berbeda.


Cukup lama Athana termenung dan menimang jalan hidupnya. Sampai kemudian, ia beranjak dan berjalan menuju ke tempat Larry. Meski masih bimbang dan ragu, tetapi ia akan memberikan jawaban, karena tidak mungkin menggantung lama-lama. Larry sudah tidak punya banyak waktu untuk kembali ke masa lalu.


Langkah demi langkah Athana lalui hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar Larry. Pelan-pelan ia ketuk dan mendapat sahutan dari dalam. Tak lama setelahnya, pintu terbuka dan menampilkan sosok Larry yang baru saja mandi. Wajahnya tampak segar dengan rambut yang masih basah.


"Athana," gumamnya pelan.


"Aku akan ... membahas soal tadi." Athana menjawab pelan, masih ada sedikit keraguan dalam hatinya.


"Masuk dan duduklah!" perintah Larry, tetapi tidak mendapat respon yang baik. Athana tetap bergeming di tempatnya. Tidak sedikit pun melangkah, dan malah memasang tampang bingung.

__ADS_1


"Kenapa?" Larry bertanya dengan kening yang mengernyit.


"Tidak bisakah kita bicara di luar saja?"


Larry tersenyum miring, "Kau andal menghabisi banyak nyawa dalam satu waktu. Tidak mungkin takut aku berbuat sesuatu, kan?"


Athana masih gugup. Setelah melihat sendiri kekejaman Larry, memang terselip pikiran bahwa dirinya tidak sebanding dengan lelaki itu.


"Pantang bagiku menyentuh wanita dengan paksaan, Athana," sambung Larry sambil berlalu. Ia makin jauh masuk ke dalam kamar dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


Karena tak ada pilihan lain, Athana juga mengikuti langkah Larry. Lantas, duduk di sebelah lelaki itu dengan mengambil sedikit jarak.


"Bagus."


"Tapi, aku tidak mau mengambil alih Red, apalagi sampai ikut andil memiliki aset yang ini. Aku tidak berhak."

__ADS_1


Larry menatap Athana dengan lekat, "Kau bersama Dove, jadi tidak sendirian. Dan apanya yang tak berhak? Aku sendiri yang mempercayakan ini padamu, jadi apalagi yang perlu diperhitungkan?"


"Aku tahu ini kamu sendiri yang mengamanatkan padaku. Tapi ... selain merasa tidak pantas, aku juga ... tidak ada waktu untuk itu. Aku akan pergi dari kota ini dan kembali ke tempat asalku. Aku ingin mengambil alih apa yang seharusnya menjadi hakku, dan kemudian aku akan hidup baik-baik di sana."


Mendengar penjelasan Athana, Larry mengangguk-angguk. Menurutnya pemikiran Athana cukup bijak. Jadi, ia pun tidak menghentikan niat itu.


"Baiklah, jika itu pilihanmu. Tapi sebelum kembali ke sana, jangan lupa bawa tanda keanggotaan Red. Itu bisa membantumu menghadapi orang tua palsumu," ucap Larry beberapa saat kemudian.


"Aku paham." Athana tersenyum. "Demi menghindari kekerasan, aku harus memanfaatkan kekuasaan," sambungnya.


"Cerdas. Baik-baiklah di sini." Larry membalas senyuman Athana sembari mengusap puncak kepalanya. Ada perasaan aneh yang menyeruak dalam benak Athana ketika Larry melakukan itu.


"Kamu juga, baik-baik di sana. Semoga bahagia bersama Deschara." Athana sedikit menunduk, entah dari mana datangnya tiba-tiba ada perasaan sesak yang mengimpit rongga napasnya.


Malam itu, dengan amat sangat terpaksa Athana melepas kepergian Larry kembali ke masa lalu. Lelaki yang hadir sekilas dalam hidupnya, ternyata memberikan kesan yang cukup dalam. Sayangnya, pertemuan mereka teramat singkat, hingga kemudian tercipta sekat yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuannya.

__ADS_1


"Rasanya aku tidak ingin dia pergi. Kenapa? Padahal ... jelas-jelas aku ngeri dengan kekejamannya," batin Athana ketika menikmati malam sendirian.


Bersambung...


__ADS_2