Dendam Wanita Yang Tersakiti

Dendam Wanita Yang Tersakiti
Masuk Jebakan


__ADS_3

"Kau tidak akan bisa menang melawanku!" Johan tertawa.


Puas rasanya saat melihat Larry terhuyung-huyung dan nyaris jatuh. Lantas, Johan bangkit dan merapikan kembali kemeja yang kusut akibat pergulatan barusan. Setelah itu, Johan melangkah mendekati Larry yang membungkuk dan bertumpu di sandaran kursi.


"Kau___"


"Sayangnya tidak sesuai dengan harapanmu, Kakak," pungkas Larry sambil berdiri tegak.


Johan terkejut dibuatnya, dan Larry tertawa melihat itu. Beberapa detik yang lalu, dia sengaja berpura-pura kalah agar Johan merasa menang. Padahal, asap itu tidak berpengaruh sedikit pun padanya. Larry punya penawar yang jauh lebih unggul. Hidup menyendiri di dalam hutan telah membuatnya menemukan kemampuan yang cukup besar. Sebuah kemampuan yang melebihi Mike.


"Mungkin selama ini kamu bertanya-tanya kenapa Athana bisa keluar dari dimensi yang diciptakan Mike, padahal dia tidak dibekali alat yang bisa membuatnya kembali. Jawabannya adalah ... aku," ucap Larry.


Johan terpaku seketika. Larry yang ada di hadapannya kini, bukanlah Larry yang dulu.


"Kau menginginkan Athana, dan kau juga menginginkan Alex untuk menjadi pasangan putrimu. Demi keinginanmu sendiri, kau tega mengkhianati Athana. Apa kau lupa jika wanita itu sangat setia terhadap Red, sudah berapa banyak keuntungan yang kau dapatkan darinya? Kau tidak berubah, Johan, tetap serakah dan egois seperti dulu!" sambung Larry masih dengan intonasi tinggi.


"Bajingan! Kau bekerja sama dengan Athana?" Napas Johan kembali memburu. Emosi yang sempat reda karena melihat Larry hampir kalah, kini kembali meledak karena merasa dipermainkan.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya memanfaatkan emosinya saat tahu tentang pengkhianatan yang kau, Alex, dan anakmu lakukan. Aku juga ingin mengelabuhimu agar kau tidak tahu siapa yang sebenarnya bekerja sama denganku. Johan, kau adalah pengkhianat. Sudah seharusnya rekanmu juga berkhianat," jawab Larry dengan tawa yang makin keras.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku sangat jelas ... aku bekerja sama dengan orang yang kau percaya, yang punya peran penting di Red." Jawaban Larry membuat Johan kembali terpaku.


"Johan, menurutmu sangat lucu bukan jika senjata-senjata yang kau banggakan adalah sesuatu yang sudah kuanggap seperti mainan. Kau merasa kuat, padahal ... yang kau percaya adalah orangku. Keren sekali, kan?" ejek Larry.


Dia sengaja memancing Johan agar berasumsi bahwa Mike-lah yang bekerja sama dengannya. Selain untuk melindungi Dove, dia juga senang karena hal itu akan menyurutkan kepercaan diri Johan.


"Kau hanya asal bicara!" bentak Johan.


Johan makin murka. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyerang Larry. Dua pistol ia gunakan sekaligus untuk menembaki kepala Larry. Namun, belum ada satu pun yang tepat sasaran.


Kendati demikian, Johan sedikit tersenyum karena Larry terpukul mundur. Dia menganggap lelaki itu kewalahan dan berusaha kabur, padahal Larry sengaja memancingnya agar masuk dalam jebakan yang telah dipersiapkan.


"Matilah kau, Larry!" teriak Johan sambil menarik pelatuk pistol. Kala itu Larry sudah terpojok di sudut ruangan dan Johan siap menembaknya.

__ADS_1


Namun, belum sempat Johan menarik pelatuk dengan benar, tiba-tiba ubin yang dia pijak runtuh dan tubuhnya terjatuh dalam ruangan yang gelap. Johan berusaha keluar, tetapi gagal karena ada aroma menyengat yang membuat kesadarannya makin hilang. Sampai akhirnya, Johan tak tahu lagi apa yang terjadi.


Sementara itu, Larry tersenyum puas. Dia berdiri di dekat lubang yang menganga dengan mata yang memicing.


"Jessy, anak sialan yang membuat Kak Julia menderita. Kau berlebihan dalam menyayanginya, Johan. Sampai-sampai tidak sadar dengan jebakan yang menunggumu," gumam Larry.


Sebenarnya, jebakan yang dia buat cukup terlihat. Dalam ruangan yang luas itu, seluruh ubin berwarna putih, kecuali empat ubin yang berada di dekat sudut—berwana hitam pekat. Sesungguhnya, itu bukanlah ubin, melainkan kayu yang sengaja disamarkan, otomatis akan runtuh ketika menyangga beban berat.


Sebagai sesama mafia, seharusnya Johan memahami hal itu, karena setiap desain pasti mengandung arti tersendiri, termasuk perbedaan warna pada lantai atau dinding. Hanya saja, Johan melupakan itu karena terlalu emosi. Baginya, Jessy memang harta berharga yang tiada duanya.


"Nikmati dulu sisa-sisa hidupmu di dalam sana, Johan. Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum bertemu dengan Athana," batin Larry.


"Tuan, apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya salah seorang bawahan yang sejak tadi menyaksikan perseteruan antara Johan dan Larry.


"Pergilah ke markas Red! Bantu Athana menyelesaikan masalahnya, setelah itu bawa dia kemari!" perintah Larry.


"Baik, Tuan." Lelaki itu menunduk hormat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2