
Malam tampak mendung tak selalu di temani bintang, kini hanya hembusan dingin yang menusuk kalbu..
Di dalam rumah sederhana nya, semua penghuni terlihat terpejam menggapai mimpi dan hanya ada keheningan. Namun sesaat kemudian Kresek.. Kresek.. terdengar suara parasut yang terbuka
Lalu tak lama Gruduk..!! suara jebolan pintu terdengar sedikit keras dan seketika alarm mobil pun berbunyi tit.. tit.. tit..
Fatih yang mendengar kegaduhan langsung membuka mata nya perlahan dan berjalan ke arah luar tapi sesaat sampai di teras rumah betapa tercengang nya dia.
"Maalliing.!!" Teriak Fatih yang melihat segerombolan orang bertopeng tengah berusaha membawa kabur mobil dan motornya.
"Heii Berhenti..!!" tanpa pikir panjang lagi Fatih pun sigap berlari dan mengejar kendaraan nya dengan sekuat tenaga tanpa menoleh ke kiri dan kanan.
Bahkan dia terlihat hingga ke tengah jalan raya namun Naas karena dia hanya seorang diri dan waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam sudah tentu tidak ada yang bisa membantunya.
Dan kini dua kendaraan nya pun sudah melaju jauh dan perlahan menghilang dari pandangan.
Hos.. Hos.. Hos.. Fatih jatuh terduduk di Aspal dengan nafas yang tersengal sengal bahkan bergemuruh.
"Ma..li..ng." gumam Fatih di sisa tenaga terakhir nya tapi semua sudah sia sia karena barang berharga nya sudah Raib di gondol pencuri dalam sekejap.
Setelah beberapa saat terdiam dan mengambil nafas panjang' akhir nya dia memutuskan kembali pulang dengan tangan kosong.
Di halaman rumah..
Dengan wajah cemas nya, Maya sudah berjalan ke sana kemari tanpa arah menunggu kepulangan suami nya di temani ibu mertua.
"Bu.. apa aku susul saja mas Fatih.?" tutur Maya yang sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu.
"Jangan nak.. kita tunggu di sini saja." cegah ibu yang tak mau menantu nya itu keluar seorang diri.
Dan benar saja orang yang di tunggu tunggu pun sudah menampakkan wajah nya dengan keadaan berantakan sekali bahkan tanpa memakai alas kaki.
"Mas kamu tidak apa apa.!" tanya Maya yang langsung memeriksa tubuh Fatih dari ujung rambut hingga kepala dan syukurlah semua nya terlihat baik baik saja.
"Apa perlu ibu ambilkan obat luka.." tawar ibu yang melihat sedikit luka lecet di sikut tangan nya.
"Ibu.. Maya.. kendaraan kita.." Fatih tak menggubris pertanyaan ibu dan istri nya, wajah nya masih tampak shock dengan kejadian yang sangat mendadak itu.
"Ssttt.. Iya mas.. iya.. sudah ya' lebih baik sekarang kita masuk." Maya merangkul suami nya itu dan segera membawa nya ke dalam rumah untuk menenangkan diri.
Bukan dia tak peduli dengan barang nya yang hilang tapi yang terpenting bagi diri nya adalah keselamatan Fatih.
"Tapi may.." Fatih masih terlihat ragu
"Tidak usah khawatir mas.. besok kita akan laporkan ini ke pihak berwajib jadi sekarang kamu istirahat saja ya."
********
Pagi hari..
Dalam sudut rumah nya, sejak tadi Fatih terlihat sudah sibuk menghubungi seseorang..
"Bagaimana pak Rino, apa saya sudah bisa melamar di perusahaan bapak sekarang.?" tanya Fatih pada teman sejawat nya yang kemarin memberi kabar ada tempat kosong untuk diri nya.
"Maaf sekali pak Fatih.. posisi itu kebetulan sudah di isi oleh kerabat istri saya jadi untuk sekarang sudah tidak ada lagi.?" sesal pak Rino
"Oh' seperti itu.. baiklah pak rino Assalamualaikum."
"Waalaikum salam.." tak lama sambungan pun terputus dan tubuh Fatih sudah melemas dengan wajah yang penuh kekalutan.
"Ya Allah.. kemana lagi aku akan mencari pekerjaan atau haruskah aku kembali mengajar di pesantren..?" gumam Fatih dengan perasaan bimbang nya sebab sudah pasti Maya tidak akan setuju dengan keputusan nya, karena itu berarti dia harus berurusan dengan Hanna kembali.
Di tengah sibuk dengan pikiran nya yang bercabang kemana mana tiba tiba saja terdengar suara gaduh dari dalam kamar.
"Mas Fatihh..! tolongg mas.!" Teriak Maya yang terdengar sangat keras sekali.
Fatih yang mendengar hal itu dengan secepat kilat langsung berlari ke arah sumber suara.
"Ada apa sayang.." tanya Fatih dengan wajah panik nya
"Ibu mas..!" terlihat Maya sudah memangku sang ibu di pangkuan nya
"Ibu kenapa.!!" wajah ibu sudah tampak pucat pasi dan tak sadarkan bahkan tubuh nya terasa sangat lemas sekali.
"Aku gak tau mas.. saat aku masuk ke dalam kamar, ibu sudah dalam keadaan seperti ini." jelas maya
"Bu.! Ibu.!" Fatih pun langsung menepuk nepuk pipi ibu nya mencoba untuk menyadarkan namun sayang tak ada jawaban sama sekali.
"Kita bawa ibu ke dokter saja mas.!" tutur Maya yang tak ingin terjadi sesuatu pada mertua nya itu
"Sebentar.. aku akan cari taksi dulu." tak mau menunggu lama Fatih langsung berlari keluar, menuju pangkalan taksi yang jaraknya berada tak jauh dari rumahnya.
Dan ketika sampai, dia langsung menghampiri salah satu mobil yang sudah dalam keadaan siap.
"Mas bisa tolong antar saya ke rumah sakit sekarang.." pinta Fatih pada supir paruh baya yang tengah terduduk di stir kemudi nya.
"Bisa mas.." jawab supir yang langsung menyalakan mesin kendaraan nya dan melaju pergi.
Selang beberapa lama Fatih pun sudah berhenti tepat di depan halaman rumah nya untuk menjemput ibu.
Brugh.. terdengar pintu mobil tertutup, Fatih berlari masuk ke dalam kamar dan keluar kembali sambil menggendong ibu yang masih betah memejamkan mata nya.
"Mas hati hati." ujar Maya saat Fatih memasukkan ibu ke dalam mobil.
"Baik sayang.."
"Ayo pak cepat.! kita ke rumah sakit terdekat." pinta Fatih pada si supir lalu setelahnya mereka pun berlalu dengan kecepatan tinggi karena ini keadaan darurat.
"ibu.! ibu.! sadar bu.. Fatih mohon sadarlah." Fatih terus berusaha membangunkan ibu nya, sungguh perasaan nya saat ini sangat Campur Aduk antara Cemas, Khawatir dan Gelisah menjadi satu Kesatuan.
"Mas tenangkan diri mu.. Insya Allah ibu akan baik baik saja." Maya sudah mengelus ngelus pundak Fatih memberi nya kenyamanan karena saat ini pasti suami nya membutuhkan hal itu.
Dan setelah dua puluh menit di perjalanan mereka pun sampai di gedung besar berlantai kan enam itu dengan petugas berseragam putih putih yang sudah datang menghampiri.
"Sus tolong ibu saya.!" dengan sigap Fatih memindahkan ibu ke atas brankar rumah sakit lalu mendorong nya masuk ke dalam.
"Iya baik pak.. silahkan bapak tunggu di luar dahulu biar dokter memeriksa keadaan pasien." pinta suster pada Fatih, dia pun langsung membawa ibu ke ruangan gawat darurat.
__ADS_1
"Baik sus.." jawab nya singkat
Fatih pun menunggu ibu di depan pintu ruangan dengan sangat cemas.
"Sebenar nya apa yang terjadi pada ibu.. kenapa bisa jadi seperti ini, Maafkan Fatih yang sudah lalai menjaga ibu."
"Ya Allah aku mohon.. selamatkan lah ibu." Fatih terus meracau sambil terus mondar mandir kesana kemari dengan panik karena ini adalah untuk pertama kali nya dia melihat keadaan ibu sangat lemah seperti tadi.
"Mas sudah.. jangan salahkan diri mu' lebih baik kita berdoa untuk kesehatan ibu." dengan lembut Maya memapah tubuh Fatih dan mendudukan nya di kursi tunggu.
"Tapi sayang.. ibu.." wajah Fatih masih terlihat tegang dan panik.
"Sstt.. iya mas aku tahu tapi kita tunggu hasil pemeriksaan dokter ya." Maya terus berusaha menenangkan sang suami bahkan dia terus menggenggam erat tangan Fatih tak mau melepaskan nya.
"Iya sayang.." perasaan takut Fatih sedikit terobati, dia sangat bersyukur di saat seperti ini masih punya istri yang setia menemani dan memberi dukungan pada nya.
Dan setelah menunggu beberapa lama akhir nya pintu pun terdengar terbuka dan menampakan seorang dokter bersama suster nya.
"Dok bagaimana keadaan ibu saya." Fatih langsung beranjak dari duduk dan datang mendekat.
"Maaf pak sebelum nya.. tapi kami harus sampaikan bahwa terdapat tumor payudara pada bagian kanan pasien dan seperti nya benjolan ini belum lama terlihat." jelas dokter sambil memberikan hasil Rontgen dan pemeriksaan nya.
"Apa dok..!" Fatih terkaget bahkan tubuh nya sedikit terhuyung ke belakang mendengar kabar mengejutkan itu.
"Tapi bagaimana bisa dok.. selama ini ibu saya terlihat baik baik saja." Jantung Fatih seperti di tusuk tusuk jarum' rasa nya Sakiitt sekali mendengar perkataan dokter tentang keadaan orang yang paling dia sayangi.
"Itu karena pertumbuhan tumor ganas yang memang 2x lebih cepat pak, jadi tidak terdeteksi lebih awal bahkan terkadang pasien juga tidak menyadari nya." jelas dokter lagi.
"Lalu sekarang apa yang bisa di Lakukan untuk menyembuhkan ibu saya dok.." Air mata Fatih sudah mulai menggenang, Hati nya terasa begitu hancur sekali.
"Satu satu nya jalan untuk menghentikan tumor, kita harus segera melakukan tindakan operasi agar tidak menyebar dan menjalar ke organ lain nya." ujar dokter
"Baik dok.. lakukan apa pun yang terbaik untuk ibu saya." pinta Fatih.
"Baik pak.. kalau begitu kami akan melakukan operasi sekarang juga." setelah mengatakan nya dokter itu pun pergi berlalu meninggalkan Fatih yang diam termenung.
Melihat suami nya yang sangat terpukul seperti itu Maya langsung berjalan mendekat dan memeluk tubuh Fatih dari belakang.
"Mas aku yakin kamu kuat.. Insya Allah kita akan bisa melewati cobaan ini dengan baik."
"Dan kamu harus ingat.. kalau aku akan selalu ada untuk mu." tutur Maya dengan begitu teduh nya.
"terima kasih sayang.."
********
Masjid...
Di sinilah Fatih berada sekarang, tempat satu satu nya mengadu dan bercerita tentang semua kemelut di hatinya.
Dia pun duduk bersimpuh menghadap Sang Khalik dan menumpahkan segala Kepedihan yang tak tertahan kan.
"Hiks.. Hiks.. Ya Allah.. tolong ijinkan aku lebih lama lagi mengabdi pada ibu yang telah merawat dan membesarkan ku seorang diri dan Kuatkanlah aku dalam menjalani segala Ujian yang hadir dalam hidup ku." suara Fatih terdengar mulai terisak, dia sudah tak bisa membendung air mata nya lagi karena cobaan yang terus datang bertubi tubi dalam hidupnya.
"Dan berikan lah Keikhlasan pada diri ini untuk menerima semua Takdir yang telah kau Tuliskan pada ku."
Di depan ruang operasi..
Terlihat sudah ada Maya yang terduduk seorang diri dan setia menunggu dengan harap harap cemas.
"Kamu sudah kembali mas.." tanya Maya saat melihat kedatangan suami nya.
"Iya sayang.. bagaimana dengan ibu." Fatih pun ikut terduduk bersama istri nya.
"Operasi sudah di mulai sejak tadi mas."
"Ibu.. Fatih mohon bertahan lah' kami menunggu mu di sini." gumam Fatih yang begitu Rapuh tapi dia berusaha tetap Tegar.
"Insya Allah.. ibu akan baik baik saja mas." tutur Maya sambil bersandar di tubuh tegap itu.
Tak lupa Fatih langsung menengadah kan kedua tangan nya bermohon pada Sang Khalik Penguasa Alam.
"Allahumma rabban-nasi adzhibil-ba’sa isyfi antas-syafii laa syifaa-a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqama."
"Artinya : Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah, Engkau lah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”
Untaian doa meminta Kesembuhan sudah Fatih panjatkan dengan lancar dan fasih untuk ibu nya yang tengah berjuang melawan penyakit.
satu jam berlalu..
Setelah melewati detik demi detik dengan ketegangan dan hati cemas, serta rasa khawatir yang menusuk diri.
Akhirnya dokter pun keluar dengan pakaian operasi sambil berjalan ke arah pasangan suami istri di depan nya.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok.?" cicit Fatih yang langsung bertanya lebih dulu.
"Operasi nya berjalan dengan lancar pak.. tapi kita masih pantau untuk perkembangan ke depan nya dan pemulihan pasien setelah ini." jawab dokter.
"Alhamdulillah ya Allah.." Fatih langsung bersujud mengucap syukur dengan wajah penuh haru.
"Alhamdulillah.." wajah Maya bahkan terlihat lega sekali mendengar kabar bahagia ini.
********
Beberapa hari kemudian..
Ibu tampak membaik walau tubuh nya masih terlihat sedikit lemas tapi keadaan nya sudah pulih pasca operasi, bahkan hari ini pun dokter sudah memperbolehkan nya pulang.
"Mas kamu sudah memesan taksi.." tanya Maya yang terlihat sudah memapah ibu untuk turun dari atas brankar.
"Iya sudah sayang.. supir nya sedang menunggu di depan." jawab Fatih yang terlihat masih sibuk dengan kegiatan mengemas pakaian ibu ke dalam tas nya.
Tapi karena terburu buru Fatih tak sengaja menjatuh kan secarik kertas tepat di hadapan ibu yang tengah melintas di depan nya.
"Baik lah mas.. aku akan membawa ibu ke mobil lebih dulu." Maya baru saja melangkah dan ingin membuka pintu tapi ibu langsung menahan nya.
"Tunggu nak.." ibu mengambil kertas yang terjatuh tadi dan betapa kaget nya ibu saat membaca tulisan yang tertera di sana bahkan mata nya langsung Terbelalak Lebar.
__ADS_1
"Astagfirullah 50 juta.. Ya Allah kenapa biaya nya sangat mahal sekali Nak." ibu tak menyangka kalau tagihan rumah sakit untuk operasi diri nya akan menguras duit sebanyak ini, apa lagi dia tahu Fatih sekarang sudah tidak bekerja.
"Ibu sayang.. dengar kan Fatih' itu semua tidak akan pernah sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan ibu selama ini yang sudah membesarkan Fatih seorang diri." dengan penuh kelembutan dan kehangatan Fatih mencium tangan ibu dan memeluk tubuh nya.
"Tapi nak.. keadaan kamu saat ini sedang sulit, dan ibu tak ingin membebani mu dengan keadaan ibu." Ibu merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan putra semata wayangnya itu.
"Sstt.. Fatih mohon' ibu jangan katakan hal itu lagi karena ibu adalah segala nya untuk Fatih dan Ibu harus harus tahu kalau Fatih sangat ikhlas dan ridho melakukan nya." Fatih menghentikan ucapan ibu nya dengan langsung mencium kening dan memeluk tubuh ibu penuh dengan kasih sayang.
Tapi sesaat kemudian terdengar suara isakan di tengah Kesyahduan ibu dan anak itu.
"Hiks.. Hiks.." terlihat Maya sudah sesenggukan mengeluarkan air mata nya.
"Kamu kenapa sayang..?" tanya Fatih yang Keheranan melihat tingkah istri nya yang tiba tiba saja menangis.
"Hiks.. Hiks.. kalian jahat.. masa aku gak di ajak.! aku kan juga mau di peluk." rengek Maya dengan manja nya.
"Wallah.. kirain kenapa nak." ibu sudah geleng geleng kepala melihat tingkah menantu kesayangan nya itu.
"Uhh.. Cep' Cep' Sini sayang.. dua bidadari kesayangan nya mas." Fatih langsung merapatkan tubuh Maya mendekat pada nya dan mereka bertiga pun bersama sama saling berpelukan berbagi kehangatan.
********
Pukul 11.00 tengah malam
Maya terlihat gusar dan gelisah di atas kasur, sejak tadi tubuh nya tak berhenti bergerak ke sana kemari bahkan mata nya tak mau terpejam sama sekali.
"Mas.. mas.." Maya menepuk nepuk pundak Fatih mencoba membangunkan suami nya.
"Ehmm.." singkat Fatih dengan mata tertutup.
"Mas bangun.. mas.." karena tak ada pergerakan akhir nya Maya mengoyak mengoyakan tubuh Fatih agar tersadar.
"apa sayangg.." mau tak mau Fatih terbangun sambil mengucek ngucek mata.
"Kita jalan jalan keluar yuk.." tak ada angin' tak ada hujan tiba tiba saja Maya meminta hal aneh dengan mengajak nya pergi di waktu seperti ini.
"Keluar kemana sayang.. ini sudah tengah malam." tolak Fatih dengan halus tapi hal itu malah membuat Maya mengeluarkan isakan nya.
"Hiks.. Hiks.. mas jahat, tidak sayang sama aku." air mata sudah mengalir deras di pipi mulus Maya dan tentu saja Fatih takkan Tega melihat nya.
"Sstt.. sudah' sudah' jangan menangis." Fatih mencoba menenangkan Maya dengan pikiran yang terus bertanya tanya, ada apa dengan istri nya satu ini' kenapa jadi Melankolis sekali.
"Dasar laki laki gak peka.. baik kalau ada mau nya saja.! gak sayang sama istri." gerutu Maya, sedang Fatih hanya bisa pasrah dan mengalah kalau kata kata andalan wanita nya sudah keluar.
"Hufftt.. iya.. iya baik.. memang nya kamu mau kemana, sekarang kita sudah tidak punya kendaraan lagi." tutur Fatih dengan nada selembut mungkin agar sang wanita tak merajuk lagi.
"Kamu alasan saja mas.. bilang saja kalau tidak mau, biar aku pergi sendiri saja." dengan wajah di tekuk Maya langsung beranjak dari tempat tidur dan ingin pergi keluar tapi Fatih langsung mencekal tangan nya karena ia tak mungkin membiarkan istri nya ini pergi seorang diri di tengah malam seperti ini.
"Oke.. oke.. jangan marah lagi' mas akan ikut." jawab Fatih yang sudah terlihat pasrah
Akhirnya..
Di malam yang terasa sangat dingin, Maya dan Fatih berjalan kaki menelusuri jalan raya yang sepi dan lengang itu sambil bergandengan tangan.
"Wahh.. aku benar benar Rindu dengan Dunia Malam mas." tanpa sadar Maya keceplosan mengatakan hal itu, Fatih pun langsung memicingkan mata nya.
"Apa maksud mu.." tanya Fatih, karena sang istri mengingat kehidupan nya dulu
"Ups.. salah.! maksudnya Angin Malam mas, bukan dunia malam hehe." ralat Maya dengan cengir kuda nya karena tersadar akan ucapan nya.
"Kamu ini.." Fatih hampir saja ingin memarahi istri nya itu.
"Aahh.. sejuk nya." Maya sudah menghirup udara dalam dalam dengan tangan terbentang nya.
Tak lama Maya melihat jajanan kaki lima yang berjejer rapi di jalanan dan berada tak jauh dari tempat mereka berada, Maya pun langsung berlari menghampiri.
"Mas.. mas.. aku mau nasi goreng itu, jagung bakar terus kwetiau dan martabak boleh.?" tanya Maya yang sudah menunjuk jenis makanan yang di jual.
"Kamu tidak salah.. nanti siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu." Fatih sudah terkaget mendengar permintaan istri nya
"Ya.. aku lah." jawab Maya dengan santai nya
"Tapi sayang.." Fatih baru saja ingin menolak nya tapi wajah Maya sudah terlihat menggenang kan air mata nya kembali, dan kalau sudah begini ya.. Fatih bisa apa lagi selain menuruti nya.
"Iya sayang.. baiklah.. baiklah.." Fatih sudah terlihat pasrah dan langsung memesan makanan sesuai keinginan ratu kecil nya.
"Yee.!! makasi mas." girang Maya, dia sudah seperti anak kecil yang baru saja di belikan mainan.
Setelah beberapa saat menunggu..
Akhirnya pesanan datang menghampiri dua sejoli yang sudah duduk tenang di kursi nya sambil terus bergenggaman tangan begitu mesra.
"Silahkan mba mas.." ucap pelayan yang menaruh makan dan minum di meja nya.
"Terima kasih mba.." jawab Maya dengan tatapan yang sudah fokus pada hidangan menggiurkan di depan nya.
Dan tanpa menunggu lama, Hap.. Hap.. Hap.. Maya pun langsung menyantap makanan nya satu satu dengan sangat lahap bahkan hingga tak bersisa.
Fatih yang melihat tingkah istri nya makan begitu rakus hanya bisa menggeleng geleng kan kepala tak percaya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sayang..??" tanya Fatih dengan wajah keheranan nya.
"Memang nya aku kenapa..?" Maya malah balik bertanya dan tak sadar dengan tingkah aneh nya.
"Apa kamu sedang ada masalah sayang.."
"Tidak mas.." jawab Maya datar
"Apa kamu tengah menyembunyikan sesuatu..?"
"Aish' Tidak mas..!" jawab Maya lagi, yang wajah nya sudah terlihat sebal.
"Tapi kenapa sikapmu belakangan ini aneh sekali.." Fatih sudah menyerengitkan kening dan mulai berfikir penyebab dari tingkah Ajaib istri nya.
"Atau jangan jangan kamu..??"
Deg.. Deg.. Deg.. Deg..
__ADS_1