DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ

DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ
Bersyukur


__ADS_3

"Tidakkk.. Mas Fatihh.!!" Maya sudah berteriak histeris dan meratapi tubuh yang ada tepat di hadapan nya


"Hiks.. Hiks.. mas Fatih, tidak mas, jangan tinggalkan aku.!!" di saat Maya terus saja sibuk dengan ratapan nya, dua orang suster di depan nya malah terlihat kebingungan.


"bu.. ibu..!" akhir nya salah satu perawat, langsung menepuk nepuk pundak Maya untuk menyadarkan nya.


"Hikss.. Hikss.. sekarang bagaimana nasib ku dan anak kita mas.!!." Maya masih saja sibuk dengan pikiran nya sendiri, tak memperdulikan panggilan suster itu.


"Ibu.. ibu.. bisa tolong berhenti sebentar." dua perawat itu mencoba memanggil Maya kembali. Tapi bukan nya berhenti atau menoleh, dia malah semakin menangis tak karuan.


"Kenapa Mas, kenapa kamu tega sekali meninggalkan aku.!!"


"Bagaimana ini.??" dua perawat itu sudah kebingungan dengan mata saling tatap nya, mereka tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan yang sebenar nya kalau keadaan nya seperti ini.


"Mas Fatihh.. aku mohon sadarlah mas.!" karena tak mau menunggu lebih lama lagi, salah satu perawat langsung mengambil alih Maya dan mendongakkan wajah nya.


"Ibu, tolong dengarkan saya ya.." cicit salah satu suster dengan wajah serius nya.


"Hiks.. hiks.. tapi Suami saya sus."


"Ibu tenang dulu.."


"Hiks.. hiks.. bagaimana bisa tenang sus, kalau melihat keadaan suami saya seperti ini.!"


"Ibu tentu harus tenang.. karena pasien ini, bukan suami ibu.!" tegas si perawat dengan nada tegas nya. karena kalau tidak Maya akan terus menangis tanpa henti.


"Apa maksud suster.." otak Maya masih belum bisa mencerna nya dengan baik, dia hanya tampak terbengong tak mengerti.


"Suami ibu masih dalam ruang penanganan, sedangkan jenazah ini adalah orang lain." jelas perawat pada akhir nya yang mengatakan kebenaran


"Haa, jadi...??" mendengar itu malah membuat Maya semakin bingung dan linglung


"Iya Bu.. suami ibu selamat dan sedang kami tangani."


"be..na..rr ka..hh. itu sus.?" mata Maya sudah terbelalak lebar dan terbata tak percaya, dia pun sigap menyeka air mata nya yang sudah banjir


"Iya bu.."

__ADS_1


"Suster tidak bohong..??" bumil satu ini masih saja belum bisa mempercayai penuturan sang suster


"Tidak bu, suami ibu memang benar benar selamat."


"Hiks.. hiks.. hiks.. Alhamdulillah ya Allah, mas Fatih masih dalam perlindungan mu." rasa nya sungguh melegakan sekali, hingga tubuh Maya lemas dan merosot turun ke lantai sambil menangis sesenggukan. Tapi kali ini tangis bahagia lah yang dia rasakan


"Kalau begitu kami permisi dulu ya Bu.." dua perawat itu pun berlalu pergi meninggalkan Maya sambil membawa brankar yang berisi jenazah tadi.


Ayu yang sejak tadi melihat hal itu, hanya bisa geleng geleng kepala lalu datang menghampiri sahabat nya itu.


"Semprul banget si.! Suami sakit bukan di doain sembuh malah sebalik nya." omel Ayu, yang sudah sigap memapah Maya dan membawa nya untuk duduk di kursi.


"Hikss.. hikss.. habis gua kira tadi it.." Baru saja Maya berucap setengah jalan, Ayu sudah menyentil kening nya dengan keras, Tukk..


"Auww..." rintih Maya


"Udah, tuh otak lo ga usah traveling kemana mana.! ntar makin Ngaco aja lagi." omel Ayu yang mengingatkan sahabat nya itu.


Tak lama setelah drama panjang itu..


"Dokter bagaimana keadaan suami saya.??" tanya Maya yang langsung berjalan mendekat pada pria itu.


"Pasien mengalami sedikit luka bakar di bagian punggung nya, dan juga terlihat Shock pada kejadian yang menimpa nya, sedang yang lain nya hanya luka goresan luar saja.." jelas dokter


"Syukurlah keadaan nya tidak parah, lalu apa suami saya sekarang sudah sadar dok.?"


"Sudah Bu, baru saja."


"Alhamdulillah.."


"boleh saya melihat nya."


"Silahkan bu." tanpa berkata lagi Maya langsung berjalan masuk ke dalam ruangan suami nya.


Ceklekk..


Pintu terbuka dan terlihat lah Fatih dengan senyum lebar nya menyambut kedatangan sang istri dengan penampilan yang terlihat berantakan tak karuan.

__ADS_1


"Hiks.. Hiks.. mas syukurlah kamu selamat." tubuh itu sudah berlari dan menghambur memeluk nya sambil menangis tersedu


"Iya sayang.."


"Mas, aku kira kamu tadi sud.."


"Sssttt.. sudah jangan di teruskan." Fatih langsung menghentikan ucapan Maya dengan jarinya. Dia tak ingin membuat istri nya semakin larut menangis


"Hiks.. hiks.. aku takut sekali tadi mas."


"Sayangg.. jangan menangis lagi ya, kasihan anak kita juga akan ikut bersedih." tangan Fatih sigap mengusap air mata di wajah Maya yang sudah terlihat sembab dan bengkak itu.


"Hiks.. baik mas."


"Oya sayang.. bagaimana kamu membawa mas ke sini.?"


"Ayu dan suaminya yang membantu ku Mas.."


"Apa mereka juga baik baik saja..?"


"Iya mas.."


"Syukurlah.."


Tapi tak lama, suara tangis itu sudah terdengar kembali dari bibir Maya. Hiks.. hiks..


"Hei kenapa menangis lagi sayang..??"


"Akhirnya aku juga merasakan apa yang pernah kamu rasakan mas." ucap maya tiba tiba.


"Dan ternyata itu sakitt sekali, melihat orang yang kita cintai ada di depan kematian hiks.. hiks.." wanita si cengeng ini, sudah kembali menangis sesenggukan. Dia tak bisa membayangkan kalau sampai Fatih benar benar tak terselamatkan.


"Sayang.. Allah telah menakdirkan kita untuk sama sama merasakan nya sayang." dengan penuh senyuman Fatih langsung mengecup kening Maya sekilas.


"Dan itu, agar kita dapat mengerti betapa berharga nya waktu Kebersamaan sebelum datang nya Kepergian." penjelasan teduh Fatih membuat sejuk hati Maya, dia pun perlahan mengusap air mata Maya lalu memeluk nya erat.


Semua makhluk memang di ciptakan berpasang pasangan untuk saling melengkapi, siapa yang mengimani pasti percaya akan Kebesaran nya.

__ADS_1


__ADS_2