
Hari demi hari..
Kini terasa berbeda sekali, keriuhan serta keriangan yang biasa tampak di rumah sederhana ini. Sekarang terlihat sangat lengang dan sepi.
Dari kejauhan, ibu terlihat berjalan menghampiri putra nya yang sedang terbaring lemas di atas tempat tidur nya.
"Nak kamu makan dan minum obat dulu ya." pinta ibu sambil membawa nampan di tangan nya.
"Nanti saja bu.. Fatih sedang tak berselera."
"Bukankah kamu ingin segera menemukan istri mu lagi.? tapi kalau kamu sakit seperti ini, bagaimana bisa mencari nya." tutur ibu dengan begitu teduh nya, dia pun langsung mengelus ngelus dengan lembut rambut putranya.
"Baik Bu.." Fatih pun menuruti nya, dia mengambil nampan berisi makanan dari tangan ibu dan sigap melahap nya dengan tak bersemangat. Tapi dia tetap memaksakan diri.
Selesai dengan makan nya, Fatih meminum obat dan kembali berbaring berniat untuk tidur.
Tapi sayang.. mata nya malah enggan sekali terpejam bahkan pikiran nya sudah semakin kalut dan tak karuan saja.
"Hufftt.." renguhan panjang sudah terdengar dari bibir Fatih, pertanda beban di hati nya yang terasa berat. Akhir nya ia pun lebih memilih beranjak dari kamar dan terduduk di pinggir kolam depan rumahnya, dan inilah tempat yang menjadi favorit sang istri.
"Sayang.. kamu ada di mana, Aku sangat merindukan mu." gumam Fatih dengan wajah sendu nya, rasa nya sungguh menyakitkan sekali kehilangan wanita itu untuk kedua kali nya. Terlebih lagi saat ini istri nya itu sedang mengandung buah cinta nya.
"Lalu.. bagaimana kabar anak kita sekarang..?"
"Apa kamu masih marah dengan ku.?" berbagai pertanyaan satu persatu sudah memenuhi isi kepala nya, namun tak ada satu pun yang bisa ia jawab sama sekali.
Di tengah kekalutan nya, tiba tiba terdengar suara ponsel dari dalam saku nya, Bipp.. Bipp.. dan terpampang lah nama sang papa yang dalam layar pesan nya.
"Datanglah ke rumah sekarang Fatih.."
Fatih yang sudah membaca itu, tanpa menunggu lama lagi langsung berjalan ke dalam rumah mengambil kunci mobil nya, Srett..
Lalu dengan secepat kilat dia masuk ke mobil dan melajukan kendaraan nya, tentu dengan perasaan super cemas dan gelisah nya.
Karena alasan apa yang akan dia berikan pada mertua nya itu.! kalau sampai mengetahui putri nya yang hilang. Padahal dia sudah berjanji untuk menjaga nya dengan baik.
Hingga beberapa saat berlalu,.
Mobil itu sudah sampai tepat di depan rumah super mewah itu. Tiin.. Tiin..
"Pak Karyo boleh minta tolong buka kan gerbang nya.?" panggil Fatih, pada security yang baru saja keluar sambil membawa beberapa barang di tangan nya.
"Eh' den Fatih, baik.. baik.. tunggu ya den, maaf tadi sedang membereskan gudang." dengan sergap pria paruh baya menaruh barang nya dan berjalan mendekat.
"Iya tidak apa apa..." senyum Fatih yang memaklumi, pak karyo pun segera membuka kunci gembok dan mendorong gerbang nya. Krekk..
"Silahkan den.."
"Terima kasih banyak ya pak." mobil pun melaju dan terparkir rapih di halaman luas itu. Lalu dengan segera bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui mertua nya.
Dari kejauhan Fatih sudah melihat sang papa, yang sudah rapi dengan setelan jas nya. Dia tengah berjalan menuruni tangga sambil memegangi tas kerja di tangan nya.
"Assalamualaikum pah..."
"waalaikumsalam."
"Kamu sudah datang.." ucap papa dengan wajah super datar nya dan tanpa senyum, Fatih yang melihat hal itu sudah semakin berdebar saja.
"Iya pah.."
"Silahkan duduk Fatih.." dalam sofa besar nya, papa sudah terduduk manis di sana. Tak lama Fatih menyusul di samping nya.
"Terima kasih pah."
"Kemarin kamu menghubungi papa..?"
"Iya benar pah.."
"Ada apa." tanya papa yang berpura pura tidak tahu, dia ingin tahu sejauh mana kejujuran menantu nya ini.
"ehm.. itu, ma-af, maafkan Fatih pah.. Maya menghilang pah." walau dengan terbata, tapi Fatih tetap memberikan kabar sebenar nya.
"Apa.!"
"Sekali lagi, tolong maafkan Fatih pah."
"Bagaimana bisa hal itu terjadi.! kalau kamu berani berbuat kesalahan, berarti kamu juga harus berani bertanggung jawab."
"Tentu pah, Fatih akan terus mencari Maya dan akan secepat nya menemukan nya."
"Tidak cukup, hanya itu Fatih.!" sengit papa, yang sudah melirik tajam ke arah menantu semata wayang nya itu.
"Maksud papa..??" wajah tampan itu sudah menyerengitkan kening dan tampak bingung.
"Saya akan memberi Hukuman yang pantas untuk orang sudah berani membuat anak saya hilang." ancam papa. dan, Prok.! Prok.!
Papa sigap menepuk tangan nya lalu keluar lah dua orang pria berbadan tegap yang menyeramkan datang menghampiri.
"kalian, Cepat ikat tangan dan kaki pria ini." perintah papa pada para bodyguard nya. Sedang Fatih yang mendengar nya, sudah melebarkan mata nya.
"Pah tunggu, apa ini..."
__ADS_1
"Tidak ada, kata Tapi Fatih."
Kini dua bodyguard tadi sudah benar benar mengikat tangan dan kaki Fatih lalu menyumpal mulutnya dengan kain.
"hmmpp.." cicit Fatih yang tak jelas mulut nya sudah di bungkam.
"Sudah bos.." ucap dua bodyguard setelah selesai melaksanakan tugas nya.
"Sekarang cepat, taruh dia di bathtub kamar atas.!"
"Baik bos." dua bodyguard tadi langsung membopong tubuh Fatih seperti karung beras dan beranjak dari sana.
Setelah kepergian menantu nya.. bibir papa malah terlihat menyunggingkan senyum lebar nya
"Maafkan papa, sedikit mengerjai mu Fatih.." ucap papa sambil terkekeh geli.
Tak lama..
Deru suara mobil sudah terdengar dari luar rumah, dan masuk lah sang putri kesayangan nya yang baru saja pulang dari klinik kecantikan atas suruhan sang papa.
"Assalamualaikum pah.." salam Maya, dengan binar ceria dan wajah super fresh nya.
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana perawatan mu hari ini nak .?" tanya papa sambil mengelus ngelus rambut wanita muda di depan nya dengan penuh sayang.
"Wahh, rasanya segar sekali wajah dan badan ini pah." tangan Maya sudah menepuk nepuk pipinya yang terasa seperti lahir kembali.
"Baguslah kalau kamu menyukai nya.."
"Terima kasih ya pah.."
"Kalau begitu kamu pasti lelah, lebih baik sekarang istirahat lah nak, papa juga harus pergi keluar kota sekarang."
"Baik pah.. hati hati di jalan ya." rasa nya belakangan ini Maya sudah cukup puas berada bersama papa nya di sini, dan dia sangat tahu betul kalau banyak tugas pekerjaan yang sudah menanti nya.
"Iya sayang.." Maya pun mencium takzim tangan nya lalu tak lama papa pun pergi berlalu meninggalkan diri nya.
Setelah kepergian.. sesuai titah sang papa Maya langsung menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat. Ceklek.. pintu pun sudah terbuka lebar.
"Ahh.. enaknya.." tubuh Maya sudah terbaring di atas kasur sambil termenung menatap langit langit.
"Ehm.. apa kabar nya ibu dan mas Fatih di sana.?" lirih nya dengan wajah yang langsung berubah menjadi sendu. Karena tak dapat di pungkiri hati nya tentu tak bisa melupakan dua sosok itu sedetik pun
"Aku benar benar merindukan nya.." tanpa terasa air mata Maya mulai jatuh membasahi wajah nya.
"Argh.! tidak.. tidak.." sekuat mungkin, dia mencoba menepis pikiran nya itu.
dia mulai membuka satu persatu bajunya lalu berniat membuka tirai yang menutupi bathup, tapi hal itu ia urungkan.
"kenapa ada suara dan bayangan di balik tirai ini." maya curiga.
"jangan.. jangan.." maya langsung mengambil sapu yang ada di luar lalu membuka tirai nya.u
"maling.! maling.! maling.!" teriak maya sambil memukul mukul orang yang ada di balik tirai.
Namun betapa terkejutnya maya melihat sosok bayangan yang ada di balik tirai itu.
"Faa..ttiihh.!! Bagaimana bisa.??" mata maya membelalak sempurna.
Terlihat sang suami terikat tangan dan kaki nya dengan mulut tersumpal tengah terduduk di dalam bathup, maya pun segera membuka semua ikatan dan setelah terbebas.
"Aauuww.!!" teriak fatih kesakitan, seluruh badan nya terasa perih setelah dipukuli dengan Sapu oleh sang istri.
Lalu tak lama perhatian nya langsung tertuju pada sang istri.
"Mayyaa.!!! akhirnya aku menemukan mu."
"Ternyata kamu bersembunyi di Sini." fatih langsung menghambur memeluk maya
"Lepaskan aku.!!" maya berusaha pergi tapi fatih menarik nya kembali dan duduk memeluk perut maya
"bagaimana kabar anak kita." fatih mengusap ngusap nya sayang.
"Alhamdulillah.. seperti nya dia baik baik saja." fatih menciumi perut maya.
"Lepasss.!!!" teriak maya, lalu berlari ke arah pintu.
"tidak akan ku lepas lagi.!!" fatih mencekal tangan maya erat lalu mengukung nya di tembok.
"maafkan aku maya.."
"cari lah wanita lain sana.!! itukan yang kamu mau.!!" lantang maya
"mas benar benar tidak sengaja mengatakan hal itu." jelas fatih
"aku sudah tak percaya lagi.!" sengit maya
"Cepat Lepaskan.!" maya berusaha berontak namun kukungan fatih terlalu kuat.
"Sayang.. aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi."
__ADS_1
"Tidakk.!!"
"Pukul aku sepuas mu lagi.! kalau memang itu bisa meredam amarah mu sayang."
"Tapi jangan pernah tinggalkan aku." pinta fatih
"Tidakk.!! Carilah rahim lain yang kau inginkan sana.!"
melihat istri nya yang sudah tidak mau mendengarkan nya akhirnya fatih menggunakan cara lain.
"Pukul aku maya.!" fatih mengambil sapu lalu memaksa maya untuk memegang nya.
"tidak.!!" maya menggeleng geleng kan kepala.
"Ayo, Pukul aku cepat.!"
"Brughh.."
"Brughh.."
"Brughh.."
Fatih langsung memukulkan diri nya sendiri dengan bertubi tubi, hingga banyak bekas merah di tubuh nya. Sedang Maya yang melihat hal itu, tentu merasa tak tega. Bahkan hati nya juga ikut terasa nyeri sekali karena orang yang di cintai nya terluka di depan nya mata.
"Hentikan.!!" akhir nya Maya ikut bertindak, dia sigap melempar sapu dari tangan Fatih dan segera memeriksa luka nya.
"Aku bersungguh sungguh sayang.. tolong maafkan kesalahan ku." Fatih mulai mendekat dan saling menempelkan kening mereka berdua.
Melihat kesungguhan Fatih.. hati wanita itu sedikit luluh dan teringat akan sesuatu hal.
"Redamlah keras kepala mu nak, jangan sampai kamu kehilangan berlian mu." tiba tiba potongan nasihat papa terngiang di kepala nya, seketika hal itu membuat hati maya berubah haluan.
"Sayang.. maafkan aku yang hanya manusia biasa yang tak sempurna seperti impian mu." ucap fatih
"Maaf.. Kesabaran ku yang tak seluas samudera."
"Maaf.. lisan ini masih banyak menyebabkan luka dihati mu."
"Sekarang apa kamu masih mau menerima manusia biasa yang penuh dengan kekurangan ini menjadi suami mu.??" pinta fatih
"Lalu bagaimana dengan mu apa masih mau menerima wanita yang masih jauh dari salihah ini.?"
"Bahkan jauh dari kelembutan ini, menjadi istri mu.??" pinta maya
setelah itu mereka pun saling tatap dan tersenyum satu sama lain lalu fatih mencium bibir ranum maya.
Tokk..
Tokk..
Tokk..
ketukan pintu terdengar, maya dan fatih langsung menghentikan kegiatan nya.
"aku harus membuka pintu mas." maya terkekeh geli.
"tapi sayang.."
"hanya sebentar." ucap maya melepaskan diri dari fatih dan langsung berjalan ke arah pintu.
Ceklek..
"pak Karyo."
"maaf non mengganggu tadi bapak menitipkan kunci ini sebelum pergi, katanya non harus segera ke kamar ini."
"Ohh.. baik terimakasih pak." maya pun langsung menutup pintu kembali.
"Sayang.." fatih langsung memeluk maya dari belakang sambil mengusap usap perut maya.
"ada apa pak karyo.?"
"papa menitipkan kunci ini untukku."
"kunci apa.?"
"ini kunci kamar tamu."
"aku harus segera ke sana pesan papa."
"Ayo mas antar." fatih langsung menggandeng maya keluar dan menuju kamar yang di maksud.
Ceklek..
"Wooww..!!." ucap maya
Terlihat kamar yang di hias sedemikian cantik dan romantis dengan di penuhi bunga mawar di dinding dan kasur nya bak Kamar pengantin baru.
di samping nya pun ada meja yang lengkap dengan makanan dan minuman di hiasi lilin lilin kecil dan 1 bucket bunga.
"Sayangg... seperti nya papa menginginkan kita tidak tidur malam ini."
__ADS_1