
Zara menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis sejadi-jadinya. Kalau saja Darren tidak berhenti pasti keperawanannya sudah hilang. Betapa Zara sangat menjaga keperawanan dengan sangat baik. Dan tentu saja ia ingin memberikan sesuatu paling berharga itu kepada lelaki yang mencintainya dan dicintainya.
Darren tidak berhak atas itu. Karena Zara bahkan tidak mencintainya, Memang Darren adalah suami sahnya tapi, Zara dipaksa menikahinya. Mana mungkin Zara rela memberikan sesuatu paling berharga pada Darren, itu tidak akan pernah terjadi.
Darren keluar menuju kolam ikan nya. Ia menarik napas berat ia menyesali perbuatan buruknya pada Zara.''Aku tidak boleh menyentuhnya sebelum aku tau semua kebenaran tentang ibu dan ayahnya. Jangan bodoh Darren, kamu pasti bisa mengendalikanya.''
Zara merendam tubuhnya di kamar mandi, ia menggosok-gosok tubuhnya yang tadi di sentuh Darren, ia tidak rela. Dan ia membencinya. Air matanya terus mengalir mengingat bagaimana Darren tadi berani menyentuhnya.
''Ibu, aku benci tubuhku ibu. Aku benci tubuhku yang disentuh laki-laki kejam itu ibu. Aku harus membersihkanya, Huu...''
Bi Ijah masuk ke kamar Zara untuk mengantarkan makanan padanya. Krena Darren yang meminta Bi Ijah. Di dalam kamar itu bi Ijah tidak melihat Zara di ranjangnya dan pintu kamar mandi tertutup rapat.
''Sepertinya nyonya sedang mandi,''Pikir Bi Ijah dan akan meninggalkan kamar itu. Tapi, langkahnya terhenti karena mendengar suara tangisan dari kamar mandi.
Bi Ijah mendekati pintu kamar mandi, dan benar saja. Suara tangisan itu berasal dari kamar mandi,''nyonya, nyonya baik-baik saja?''tanya Bi Ijah.
Tidak ada jawaban dari kamar mandi, hanya suara tangisan yang begitu sedu dan sedih. Karena mungkin Zara tidak mau di ganggu, bi Ijah memutuskan untuk kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya.
Darren mendapat kabar dari anak buahnya mengenai ayah Roy yang datang ke gedung penyiksaan.
''Aku akan kesana.''
Darren duduk berhadapan dengan ayah Roy.''saya tidak akan melepaskan anak anda. Dia sudah berani mencoba membunuh saya,''tegas Darren.
Ayah Roy menaruh map di atas meja di depanya,''ini kesepakatan kita, kau setujui ini dan aku pastikan anakku tidak mengganggumu lagi.''
Darren membuka map itu. Di dalamnya terdapat beberapa perjanjian yang menguntungkan untuk Darren. Perjanjian itu menyangkut saham perusahaan Roy dan juga anak buah genk mafia Elang Hitam. Pada perjanjian itu, jika Roy berani mengganggu genk mafia Darah Iblis maka, saham perusahaan mereka akan diserahkan langsung ke perusahaan biosock dan anak buah genk mafia mereka akan di berikan pada genk mafia Darah Iblis semua.
''Baiklah, aku setujui perjanjian ini.''ucap Darren menyetujui kesepakatan itu. Tentu saja, dengan pikiran yang matang dan baik yang ia ambil.
Roy di bebaskan dari gedung itu dan meninggalkan gedung dengan tangan yang masih belum di obati karena luka tembak itu.
''Aku pasti akan datang kembali untuk membalas perbuatan mu Darren!!'' geram Roy.
''Untuk sekarang tahan duku semua itu, kita harus cari strategi untuk mengalahkannya.''
''Sekarang aku tahu apa kelemahanya ayah.''
'' Apa kau dibohongi lagi oleh Budi.''
''Tidak, kali ini aku yakin. Dia menyebut namanya. dan wajah khawatirnya hari itu tidak bisa di lupakan. Ayah harus mencari tahu Wanita bernama Zara dan apa hubungannya dengan Darren.''
''Baiklah, ayah akan mencaritahu''
Darren menemui Budi yang masih terkurung di ruangan no 4. Keadaanya benar-benar memprihatinkan.
__ADS_1
''Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?''Tawar Darren.
''Kenapa kau tidak membunuhku saja, apa kau tidak tahu tentang pepatah ' jangan mempercayai musuh yang mengkhianati tuanya. Karena jika ia sudah berkhianat maka, ia pasti akan berkhianat lagi.''
''Tentu saja aku tau tentang itu. Tapi akan berbeda kalau, kesepakatan ini tidak akan pernah menyelamatkanmu. Kamu mencoba maka akan mati.''
Darren meminta anak buahnya masuk ke dalam ruangan. Anak buah Darren masuk dan membawa alat penyuntik chip tubuh.
''Suntikan chip itu padanya!''
Anak buah Darren langsung melaksanakan perintah darren dan menyuntikkan sebuah chip kecil di belakang leher Budi.
''Aah..''Budi merintih menahan sakit.
''Chip itu akan meledakan kepalamu kapan saja, karena chip itu tidak bisa di keluarkan jika memaksanya maka, kepalamu akan hancur. Dia akan memberitahu di manapun kamu berada.''
''Kau benar-bena kejam Darren, Bahkan ayahmu tak sekejam ini.''
''Pepatah mengatakan 'Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari. Itu berarti klo sang anak bisa lebih kejam dari ayah yang kejam juga.''
''Baiklah, aku menyerah. Lepaskan aku dan aku akan melakukan apapun perintahmu.''
''Bagus, itu pilihan terbaik.''
Anak buah Darren melepaskan ikatan tangan Budi. Mereka lalu membuat sebuah kesepakatan dan Budi menjadi orang suruhan Darren.
''Kenapa bi Ijah ada disini?''
Bi Ijah dengan wajah cemas menghampiri Darren,''itu tuan, sudah 5 jam an, nyonya di dalam kamar mandi. Saya takut terjadi hal buruk pada nyonya tuan,''
''Apa? Zara dari tadi di kamar mandi?''
Bi Ijah mengangguk dengan rag-ragu.
''Siapakan baju hangat bi.''
''Baik tuan.''
Bi Ijah segera keluar kamar menuju tempat lemari baju yang berada di lantai bawah. Darren mendobrak pintu kamar mandi Zara.
Brakk..
Pintu kamar mandi rusak. Zara sudah sangat pucat, Bibirnya biru, dan badanya dingin sekali di dalam bak kamar mandi. Darren langsung mengambil handuk dan mengangkat Zara yang setengah sadar itu dari bak mandi.
Darren melepas baju Zara yang sudah basah kuyup dan melingkarkan 3 handuk ke tubuhnya.
__ADS_1
''Kau ini benar-benar bodoh!!''umpat Darren ke Zara.
Darren menaruh tubuh Zara di ranjang dan bi Ijah datang membawakan baju hangat. Dan selimut tebal.
''Biar aku saja yang memakaikan bajunya.''ucap Darren
''Baik tuan.''
Bi Ijah meninggalkan kamar Itu dan membiarkan Darren yang menggantikan baju Zara. Darren segera memakaikan baju hangat di tubuh Zara dan menyelimutinya dengan selimut tebal. Darren memeluk erat tubuh Zara untuk membuatnya hangat.
''Bodoh!! kenapa kau selalu membuat aku khawatir.''
''Ibu, Ibu, akhirnya kamu kembali ibu. Aku merindukanmu ibu.''lirih Zara yang masih setengah sadar dan memegang tangan Darren.
Darren menggenggam tangan Zara,''iya, aku disini.''
Zara membalas pelukan Darren. Darren mengelus rambut Zara dengan lembut.
Zara membuka matanya dan ia melihat wajah Darren begitu dekat dengan wajahnya. Ia bahkan bisa melihat pori-pori wajah Darren. Wajahnya terlihat begitu terawat tidak ada jerawat atau bekas jerawat yang tumbuh di wajahnya. Begitu bersih dan halus.
Tangan Darren masih memeluk tubuh Zara denga erat.''Kenapa dia memelukku, aku tidak ingat apa yang terjadi.''
Zara mengangkat tangan Darren dari tubuhnya dengan pelan dan ia melihat bajunya yang sudah diganti.
''AAAHH...''Zara teriak.
Teriakan keras itu langsung membangunkan Darren. Tangan Zara melayang ke arah wajah Darren, dengan cepat Darren menangkap tangan Zara yang akan menamparnya.
''Dasar mesum, kenapa kau mengganti bajuku. Apa yang kamu lakukan?''Ucap Zara dengan kesal dan penuh amarah.
''Memangnya kenapa kalau aku yang menggantikan bajumu, aku halalkan?''
''Darren!! Aku benci kamu. aku benci!!''
Darren melepaskan tangan Zara dan bangun dari tempat tidur.''Sepertinya kamu sudah sehat, karena punya kekuatan untuk memukulku.''
Darren meninggalkan kamar Zara.
''Apa maksudnya aku sehat? Aku memang sehat dari kemarin.'' Zara mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin.
Ia mulai ingat, kemarin karena perbuatan Darren padanya ia merendam diri di bak mandi dan saat ia akan tidur. Ia ingat ibunya tidur di sampingnya.
''Hah, gak mungkinkan orang yang aku peluk semalam itu Darren, hehe.., Ah, mana mungkin.''
Zara menghela napas kesal ia berpikir kalau semalam ia pasti memeluk Darren bukan ibunya.
__ADS_1
''Ah, bodoh!! Kenapa kamu harus berhalusinasi. Bodoh, bodoh!!''