
¤¤¤¤
Zara dan ibunya mulai menaiki taksi dan meninggalkan rumah Darren, sedang Darren walau kepalanya terasa pusing dan mengantuk ia berhasil sampai ke mobilnya, ambisinya untuk menyusul Zara dan membawanya kembali sangat besar, Darren mengemudikan mobilnya dan membawanya dalam keadaan sedikit sadar, mobil berjalan dengan tidak stabil mengganggu pengguna jalan di jalan raya, sampai di persimpangan.
Braakk..
Sebuah mobil truk dari arah belokan menabrak mobil Darren dengan kuat dan membuat mobil Darren terguling, sedang Zara telah meninggalkannya jauh dan tidak mengetahui apa yang terjadi pada Darren.
Darren mengalami luka parah dikepalanya, mobilnya terbalik ditengah jalan, Darren keluar dari mobilnya dengan merangkak pandanganya mulai kabur dan tidak jelas, mobil-mobil dijalan raya berhenti dan beberapa orang menghampiri Darren untuk menolongnya.
"Za..raa..."ucap Darren dan kemudian semua pandangan gelap ia tak sadarkan diri.
Darren dibawa ke UGD dan segera mendapat perawatan, Dr.Ivan langsung menghubungi ayah Darren dan Nadine, mendengar itu Nadine dan Wijaya sangat terkejut. mereka langsung ke rumah sakit tempat Darren dirawat.
"Aku sudah ingat semuanya bu, semua kejadian 14 tahun yang lalu itu,"kata Zara sembari menangis.
Ibu Zara kaget dan langsung memeluk Zara untuk menenangkannya.
"Maafkan ibu, ini semua pasti berat buat kamu,"
Ibu Zara ikut menangis karena teringat kejadian masa lalu itu, kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
2 hari kemudian...
Darren membuka matanya, tangannya terpasang jarum infus dan di kepalanya terdapat perban juga kakinya yang mengalami sedikit retakan di gips, karena gegar otak membuat Darren tak sadarkan diri selama 2 hari, selain itu ia baik-baik saja. ingatan Darren langsung tertuju pada kejadian malam itu. Darren mendudukkan dirinya.
Ayahnya yang berada disamping Darren sangat senang saat melihat Darren telah sadar begitu juga dengan Felicia yang juga berada di ruangan itu.
"Zara, aku harus mencarinya,"ucap Darren.
Wijaya tidak senang saat mendengar ucapan Darren, bukanya khawatir dengan keadaanya malah yang pertama ada di pikirannya adalah Zara. Darren melepas infus di tangannya, dan akan turun dari ranjang pasien ia masih belum menyadari keberadaan ayahnya dan Felicia.
Pakk..
Wijaya menampar Darren,"sadar Darren!! Zara sudah pergi!!"bentak ayahnya.
Darren terdiam dan ia baru menyadari kalau ayahnya disampingnya, Darren menoleh ke Wijaya.
"Apa ayah sudah menemukan keberadaan Zara?"
Wijaya menarik napasnya dan menghembuskan nya kembali ia sangat kesal dengan Darren, tapi ia tidak mau melakukan hal gegabah yang bisa menyakiti Darren, ia harus menahan nya dan menghadapi sikap Darren dengan sabar.
"Percuma ayah berbicara keras padamu, kepalamu memang sangat keras, susah diberi tahu,"
"Ayah katakan dimana Zara?"
"Ayah tidak bisa menemukanya, sepertinya mereka berhasil bersembunyi dari kita,"
Darren langsung menjadi murung, dan ia kembali membaringkan badanya di ranjang.
"Kalian keluar lah, aku sedang ingin sendiri,"kata Darren.
"Baiklah, ayah akan memanggil Dr.Ivan untukmu."
Wijaya keluar dan memanggil Dr.Ivan sedang Felicia tetap berada di ruangan itu dan mendekati Darren.
"Syukurlah kamu sudah sadar, aku sangat khawatir dengan keadaanmu Darren."
"Keluar..!!"kata Darren singkat dan jelas.
"Tapi Darren aku.."
"Keluar!!"bentak Darren.
Felicia dengan langkah kesal dan terpaksa keluar dari ruangan Darren dirawat.
__ADS_1
Dr.Ivan masuk ke ruangan Darren dan memeriksa keadaanya, Keadaanya sudah membaik hanya perlu banyak istirahat untuk memulihkan kakinya.
"Hei bro, kenapa dengan wajahmu itu?"
"Kenapa dia melakukan ini padaku, padahal dia sudah berjanji padaku, apa selama ini ia hanya memanfaatkan aku untuk membebaskan ibunya?"kata Darren dengan begitu sedihnya .
Dr.Ivan duduk disamping ranjang Darren,"tanya pada hatimu, karena hati tidak pernah salah dalam menilai,"saran Dr.Ivan.
Darren menutup matanya dengan pergelangan tangan kananya, Dr.Ivan mengerti Darren sedang ingin sendiri untuk menenangkan dirinya.
Dr.Ivan meninggalkan ruangan Darren dan membiarkannya sendiri.
Darren menelpon Denia untuk menjemputnya di rumah sakit, mendengar suara Darren, Denia sangat senang karena Darren sudah sadar, dan tanpa pikir panjang ia langsung menjemput Darren di rumah sakit.
Darren tidak ingin berlama-lama di rumah sakit karena ia merasa sesak dan tidak nyaman, tanpa persetujuan dari ayahnya Darren memaksa dirinya yang belum lama sadar itu untuk pulang.
Wijaya melarang Darren untuk pulang tapi karena sifat keras kepala Darren, ayahnya tidak bisa membuat Darren menuruti perkataanya, Denia menuntun Darren ke mobil dan meninggalkan rumah sakit.
Di perjalanan Darren terus menatap ke luar ia memikirkan tentang Zara yang memutuskan untuk mengingkari janjinya untuk tidak meninggalkan Darren, atau sebenarnya dari awal Zara tidak sungguh-sungguh dengan janjinya, Zara melakukan itu agar Darren bisa menuruti permintaanya.
"Tapi kenapa kau melakukan itu?"dalam hati Darren terus bertanya-tanya tentang itu semua.
Darren teringat dengan perkataan Dr.Ivan tentang trauma Zara di masa lalu begitu juga tentang album foto yang dilihat Zara sebelum pingsan saat itu.
"Kita ke rumah kakakku terlebih dahulu..!!"
"Baik tuan."
Nadine terkejut saat melihat Darren datang kerumahnya, karena sore tadi saat Nadine menjenguk Darren ia masih tak sadar, dan begitu sadar Darren langsung keluar bahkan datang kerumahnya.
Nadine langsung menuntun Darren masuk kerumahnya, Wildan juga terkejut melihat Darren sudah sadar.
"Keadaan kamu masih seperti ini kenapa sudah keluar dari rumah sakit?"tanya Nadine yang khawatir dengan keadaan Darren.
"Sepertinya sangat penting sampai belain datang kesini dalam keadaan kayak gini?"
"Aku pengen melihat flashdisk yang dilihat Zara kemaren?"
Nadine terdiam,"maaf kakak menyembunyikannya dari kalian berdua karena kalau kalian tahu pasti kalian akan langsung membakarnya,"
"Aku tidak ingin membakarnya aku hanya ingin melihatnya kak."
"Baiklah.."
Nadine mengambilkan flashdisk dan Darren melihat isi flashdisk itu, Darren berhenti dan memandangi foto ibu dan ayahnya saat di pantai, melihat foto itu ingatan buruk tentang ibunya langsung muncul dalam ingatan nya.
Menurut Darren tidak ada yang salah dalam flashdisk itu, lalu apa yang membuat Zara tak sadarkan diri saat itu, apa ada hubungannya dengan ibu nya.
"Sepertinya dia sudah tau semuanya,"
Darren menutup album foto itu.
"Aku akan kembali ke rumah kak, terima kasih sudah mengizinkan aku melihat album ini."
"Tapi kamu ga apa-apa, keadaan kamu masih begitu apa ga lebih baik dirawat di rumah sakit dulu?"
Darren tersenyum, ,"tidak kak, aku merasa lebih nyaman di rumah, dadaku sesak klo lama-lama di rumah sakit."
"Ya sudah klo itu yang kamu mau, tapi tetep jaga badan biar ga ngedrop, dan juga selesaikan masalah kamu dengan Zara, kakak memang tidak tau apa masalah kalian, tapi kakak harap kamu bisa membawa Zara kembali,"
Mendengar itu Darren langsung menoleh ke arah Denia, mencurigai Denia kalau Denia telah menceritakan sesuatu tentang Zara.
Denia menggelengkan kepala, ia mengerti kenapa Darren menoleh padanya, pasti karena Darren mengira dialah yang telah menceritakan tentang kepergian Zara, padahal sebenarnya bi Ijah lah yang cerita ke Nadine.
Darren hanya menjawab dengan anggukkan kepala dan berpamitan ke Nadine untuk pulang, saat di jalan pulang,"apa kamu yang cerita ke Nadine tentang Zara?"
__ADS_1
"No, no, bukan aku tapi bi Ijah,"jawab Denia jujur.
"Apa yang bi Ijah ceritakan?"
"Kata bi Ijah, bi Ijah bilang ke kak Nadine kalau boss kecelakaan saat mengejar nona Zara, dan karena nona sedang salah paham jadi, kalian bertengkar dan berakhir dengan Zara yang kabur dari Rumah."
"Bi Ijah pandai juga berbohong,"
Nadine sangat sedih karena ia tau Darren sedang memikirkan Zara, Nadine tidak ingin bertanya tentang apa yang sedang terjadi pada mereka karena tidak ingin menambahkan rasa sedih Darren dan membuatnya ngedrop.
"Bagaimana penyelidikan kamu tentang kejadian itu apa sudah selesai?"tanya Darren pada Budi yang Darren panggil kerumahnya.
"Sudah bos, ini semua laporan nya."
Budi memberikan sebuah berkas yang berisi tentang kasus 14 tahun lalu.
"Kalau begitu aku beri tugas baru untukmu cari keberadaan Zarai?"
Darren memberikan foto Zara pada Budi.
"Baik bos..!!"
Budi meninggalkan rumah Darren, Darren melihat semua berkas tentang kejadian 14 tahun lalu dan ada sebuah tape rekaman ibu Zara 14 tahun lalu, Darren menyetel rekaman itu.
"Gunawan bukanlah pelakunya, dia tidak akan melakukan pembunuhan dan pembakaran itu karena yang meminta dia untuk mengantar Sarah pada hari itu adalah Saya, dan dia pergi bersama Zara, Gunawan sangat mencintai keluarganya dan rasa yang diberikan kepada Sarah bukan cinta tapi kepeduliannya karena Sarah adalah istri sahabat serta istri dari bosnya, Gunawan bukan pelakunya."
Darren juga melihat foto-foto Gunawan yang didapat dari handphone Sarah yang diambil secara sembunyi-sembunyi, dan rekaman CCTV dari toko dimana Sarah membeli bensin juga rekaman di restoran saat mereka bertiga sedang makan, dan juga rekaman dipabrik ayah Darren yang memperlihatkan Sarah sedang berbicara pada security dan setelah security pergi Sarah memasuki mobilnya. Disitu terlihat pada kursi samping mobil terdapat Gunawan yang tidak sadarkan diri, dan rekaman saat Sarah mengguyur dalam gedung pabrik dengan bensin.
"Bukti sejelas ini, tapi kenapa berita mengatakan sebaliknya? pasti ini semua perbuatan ayah, ayah dari awal sudah mengetahui kebenaranya tapi sengaja merencanakan ini untuk membuat perhitungan pada Gunawan, tapi kenapa? Gunawan adalah sahabatnya. apa sebegitu besarnya cinta ayah pada ibu sampai melakukan ini semua?" kata Darren.
Darren merasa kesal karena selama ini dia telah dibohongi oleh ayahnya dan dengan bodohnya ia percaya begitu saja tanpa mencari tahu kebenaranya terlebih dahulu.
Darren merasakan bagaimana perasaan Zara saat mengetahui semuanya, apalagi besar kemungkinan kalau Zara adalah saksi yang berada ditempat kejadian, dia pasti sangat marah dan kecewa pada Darren, apalagi Darren mencoba mempertahankan Zara disisinya.
Zara pasti selalu teringat dengan kejadian masa lalu itu saat bersama Darren.
"Kenapa aku begitu egois, aku selalu menyakitinya, maafkan aku Zara, kalau dengan kamu meninggalkanku bisa membuatmu bahagia maka aku akan melepaskan mu."
Air mata Darren mulai menetes,
Darren merasa hancur, hatinya sakit, karena ia harus melepaskan Zara yang begitu dicintainya ia merasa dunia ini tidak adil untuknya kenapa takdir seperti ini yang dia terima. Rasanya ingin sekali dia marah pada sang pencipta, ia hidup dengan keluarga yang begitu kejam, ia lahir dari seorang ibu yang bahkan tidak pernah mencintai dan menginginkannya, dan ia hidup di keluarga yang telah merenggut nyawa ayah dari wanita yang dicintainya, kenapa takdirnya seperti ini kenapa?.
Darren begitu putus asa dengan semua yang ada dipikirannya, kehadiran Zara yang telah memenuhi hatinya, kehadiran Zara yang telah mengisi hari harinya, bagaimana ia akan hidup tanpa kehadiran Zara disisinya apa Darren sanggup?.
3 hari berlalu dan Budi telah menemukan keberadaan Zara, Darren langsung menyuruh Denia pergi dan menjaga Zara, tanpa diketahui Zara kalau Darren yang mengirimnya.
Dengan mantap Denia langsung berangkat ke tempat Zara tinggal sekarang bersama ibunya.
Zara sedang memberi makan kucing peliharaanya didepan rumahnya.
"Makan yang banyak yaa."
"Nona Zara..."panggil Denia sambil berlari mendekati Zara.
Zara menoleh ke orang yang memanggilnya dan berdiri, Denia langsung memeluk Zara dan pura-pura menangis sedih sekali.
"Nona Zara hiks..hiks..tuan mengusir saya nona,"ucap Denia dengan akting bagusnya.
Zara menepuk pundak Denia dengan pelan untuk menenangkannya.
"Denia tenang yaa,"
Zara membawa masuk Denia ke rumah yang dikontrakinya, Zara hanya pergi tidak meninggalkan jakarta ia masih di jakarta tapi di daerah kumuh dan sempit, kontrakan yang ditinggali Zara juga tidak besar hanya terdapat 2 kamar, kamar mandi didalam dan dapur berdampingan, ruang depannya juga hanya luas 3×4 meter tidak memiliki ruang tengah.
Denia mengerti kenapa Darren membutuhkan waktu 3 hari hanya untuk mencari Zara, padahal saat mencari keberadaan musuh Darren hanya butuh waktu beberapa jam saja, karena tempat yang ditinggali Zara tidak terpantau CCTV juga Darren tidak pernah memeriksa orang di tempat seperti ini, saat mencari Zara.
__ADS_1