
Darren berdiri di depan ruangan Zara dirawat. Ia mendengar suara tangis Zara yang begitu sesak. Membuat Darren sangat sedih dan menyesali perbuatanya.
"Maafkan aku Zara, aku tidak bermaksud melukaimu, aku sudah terlalu sering menyakitimu. Apa kamu bisa tetap bersamaku? Hidup menjadi sebuah keluarga sempurna bersama anak kita? Aku berat untuk meminta itu padamu, terlebih melihat reaksimu tadi, aku merasa tidak pantas berada di sisimu,"ucap Darren dalam hati. Ia menundukkan kepalanya dan merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan selama ini pada Zara.
Ayah Darren mendengar semua kejadian semalam dari anak buahnya, dan ia langsung menemui Roy dan ayahnya di gedung penyiksaan.
Keadaan Roy dan ayahnya sangat menyedihkan. Mereka diikat pada tiang besi dan badan yang telah tak berpakaian itu dipenuhi oleh luka-luka sabetan dari cambuk. Lebam, dan darah segar keluar dari luka cambuk yang parah itu.
Tubuh mereka terlihat tak bertenaga sama sekali, bahkan untuk mengangkat kepala saja, mereka tidak sanggup.
Wijaya duduk di kursi yang disiapkan di ruangan itu, ia tertawa sinis sambil melihat penderitaan dari 2 orang itu.
"Darren tidak bisa diremehkan, demi seorang wanita dia sampai mengotori tangannya dengan darah, sebelumnya ia tidak akan pernah mau melakukan ini dia memang pantas dijadikan penerus untuk genk mafiaku"ucap Wijaya.
"Tolong lepaskan ka..mi..!!"kata Roy dengan tenaga yang tersisa.
Wijaya berdiri dan menghampiri Roy ia lalu mencengkram dagu Roy dan mengangkat wajahnya.
"Aku tidak pernah memaafkan musuh yang mencoba melawanku,"ucap Wijaya dengan tatapan dingin dan menyeramkan. Membuat Roy yang melihat merasakan ketakutan didalam dirinya.
Wijaya melepaskan tangannya dari dagu Roy lalu berbalik dan berjalan akan meninggalkan ruangan itu.
"Habisi mereka!!"perintahnya pada anak buah yang berada disitu.
Wijaya lalu pergi meninggalkan ruangan itu. anak buahnya lalu mengarahkan pistol ke arah Roy dan ayahnya,"tolong.. biarkan kami hidup!!"ucap Roy memelas dengan putus asa. Sedang ayahnya yang sudah tak berdaya itu tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Dor..Dor..
Tembakan dilepaskan dan mengenai langsung tepat di jantung mereka membuat mereka meninggal seketika.
Darren meminta izin kepada Dr.Ivan untuk membawa Zara pulang dan dirawat dirumahnya. Karena Darren akan merasa aman jika Zara berada di rumah dan selalu ada dalam pantauan nya.
"Baiklah, aku mengizinkan Zara pulang. Tapi, dia akan menjalani rawat jalan karena kondisinya masih belum terlalu membaik."
"Oke, silahkan lakukan itu, yang terpenting Zara selalu dalam pemantauan aku."
Darren membawa Zara kerumahnya. Awalnya Zara menolak, tapi tidak ada gunanya ia terus bersikeras menolak kemauan Darren. karena Darren akan terus memaksanya.
Akhirnya dengan berat hati, Zara menerimanya walau suasana hatinya sedang buruk mengenai Darren. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Darren. Zara sama sekali tak berbicara atau melihat ke Darren, ia hanya diam dan terus menatap keluar mobil.
Sampai di rumah. Darren langsung memarkirkan mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Zara. Bi Ijah mendengar suara mobil Darren dan langsung keluar. Bi Ijah begitu senang saat melihat Zara kembali.
Darren menggendong Zara dan meminta bi Ijah untuk membawa kursi roda untuk Zara.
Keadaan Zara kurang baik akibat ulah Roy yang telah bermain-main dengan Zara. Dengan memukul Zara menggunakan sabuk pinggang dan juga mencoba untuk melecehkan Zara, sampai mengikat Zara dengan kawat yang begitu kecil dan membuat luka-luka sayatan pada tubuh Zara, untuk itu Zara yang masih syok dan keadaan psikologi nya yang kurang baik membuatnya untuk sementara duduk di kursi roda.
Dan juga karena perutnya yang masih terasa sakit untuk berdiri membuatnya untuk sementara duduk di kursi roda.
Darren membaringkan Zara di ranjangnya, dan Zara langsung memiringkan tubuhnya memalingkan diri dari Darren. Darren mengerti Zara masih sangat marah padanya tapi Darren tidak bisa membiarkan itu berlangsung lama karena akan mempengaruhi kandungan didalam perut Zara.
Darren duduk di samping Zara lalu mengusap rambutnya dengan lembut dan pelan,"Aku tidak akan meminta kamu untuk memahami apa yang telah aku lakukan, aku hanya ingin kamu segera membaik dan ceria kembali,"ucapnya
darren lalu menyelimuti Zara.
"Aku akan membuatkan makanan untukmu."
Darren meninggalkan Zara dikamar dan menuju dapur membuatkan makanan untuk Zara.
"Tuan, biar bibi aja yang masak."
"Tidak bi, aku ingin memasak sendiri makanan untuk Zara, bi Ijah kerjakan yang lain saja, biar aku yang mengurus Zara."
__ADS_1
"Baik tuan."bi Ijah meninggalkan dapur ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai untuk menyiram tanaman dibelakang rumah Darren.
Darren kembali ke kamar dengan membawakan nampan yang berisi bubur dan air putih hangat, Darren menaruhnya di lemari samping ranjang dan ia lalu duduk disamping Zara. Zara masih marah padanya dan tidak mau melihat Darren.
"Zara, makanlah dulu, aku siapkan bubur hangat untukmu."
"Pergilah Darren, jangan pura-pura peduli padaku!"
"Kau ingin aku menyuapimu?"
"Kumohon pergilah!"teriak Zara.
"Sebelum aku melihat kamu makan buburnya, aku tidak akan pergi!!"
Zara menarik napas kesal ia menoleh ke Darren dengan wajah sebal, Darren membalasnya dengan senyuman.
Zara mengambil posisi duduk lalu mengambil nampan yang berisi semangkuk bubur ayam buatan Darren itu dan meletakkannya di pangkuan.
"Sekarang kau bisa pergi!"
"Aku belum melihat kamu melahap bubur itu?"
Dengan kesal Zara langsung menyendok bubur dan melahap tapi ia tidak sadar kalau bubur itu masih panas. Zara langsung mengeluarkan bubur dari mulutnya karena panas dan ia langsung meminum air hangat di gelas itu yang juga hangat bukanya mengurangi rasa sakit di lidahnya malah sebaliknya.
Darren jadi ikut panik dan langsung mengambil nampan dipangkuan Zara, menaruhnya kembali ke atas lemari.
"Kamu ini bagaimana, buburnya kan masih panas."
Zara membuka mulutnya sambil tangan kirinya mengibas-ibas didepan mulutnya untuk mengurangi rasa tidak enak di lidahnya.
Lidahnya terasa mati rasa karena bubur panas itu, dan wajahnya terlihat kesakitan. Darren melihat baju Zara yang kotor karena bubur yang dikeluarkan Zara tadi.
Darren berdiri dan langsung menggendong Zara, membuat Zara terkejut dengan apa yang dilakukan Darren.
"Membersihkan badanmu."
"Apa? cepat turunkan aku!!"
"Ga usah bawel."
Darren membawa Zara ke kamar mandi dan menaruhnya di bak mandi yang telah terisi penuh air.
Byuur..
Membuat baju Zara basah kuyup.
"Yaa!!"teriak Zara sambil mengelap wajahnya yang terkena cipratan air.
"Buka bajumu!"
Mendengar itu Zara langsung menaruh tangan kirinya di depan dada.
"Apa yang ingin kamu lakukan!"
"Bajumu kotor dan kamu juga perlu mandi, sudah 2 hari ini kamu belum mandi apa tidak risih, aku suamimu hanya ingin membantumu."
"Apa? tidak, kamu keluar saja aku akan mandi sendiri."
"Kamu ini! untuk apa malu di depanku, aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu apalagi yang harus ditutupi dariku?"
"Yaa!! tetep aja ini memalukan buat aku malu!!"
__ADS_1
Melihat zara yang begitu bersikeras membuat Darren tidak tega untuk memaksanya.
"Baiklah, aku akan mengambilkan baju untukmu."
Darren meninggalkan kamar mandi dan membiarkan Zara mandi sendiri.
Zara membuka bajunya dan ia merasakan sakit dari luka-lukanya karena tergesek oleh pakaian yang akan dilepaskannya,"aaw.." Zara berkali-kali merintih sakit di sekujur tubuhnya.
Darren mengambil baju Zara dari lemari dan tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Dr.Ivan kalau lukanya Zara jangan terkena air dulu, dan belum boleh mandi hanya boleh di lap saja. sontak saja, Darren langsung berlari ke kamar mandi dan melihat keadaan Zara.
"Aaaaa.."teriak Zara saat melihat Darren yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi dan Zara sedang tidak berpakaian sekarang, Darren langsung berbalik badan.
"Maaf.."
"Kenapa kamu masuk lagi!!"
"Aku lupa memberitahu kalau lukanya belum boleh kena air."
Zara terdiam mendengar perkataan Darren ia benar-benar dibuat kesal olehnya, pantas saja seluruh lukanya semakin terasa sakit. Zara menarik napas lalu menghembuskan nya kembali, ia harus melanjutkan mandinya karena pakaian dan tubuhnya sudah terlanjur basah kuyup.
"Aku akan ambilkan handuk untukmu,"ucap Darren dan akan melangkahkan kakinya keluar.
"Tunggu!!.."
Darren tidak jadi melangkahkan kakinya keluar. Zara karena tidak bisa melakukanya sendiri dengan terpaksa meminta bantuan Darren.
"Bantu aku melepas perban di pundakku.. tapi!! lakukan dengan menutup matamu!!"
"Baiklah.."
Darren berbalik dan menutup matanya. Ia duduk dan meraba-raba untuk menemukan perban ditubuh Zara. Zara membantunya dengan memegang tangan Darren dan menaruhnya di perban yang melingkar pada bagian pundaknya.
Tangan kanan Zara masih sangat sakit untuk digerakkan karena luka tembak itu membuat tangannya sulit untuk digerakkan dan akan menyebabkan sakit yang luar biasa jika dipaksa untuk bergerak.
Darren membuka perban nya dan melepaskan ikatan perban itu, tapi saat tangannya tak sengaja menyentuh tangan kanan Zara, Zara langsung merintih kesakitan.
"Boleh aku membuka mata, aku tidak bisa melakukanya kalau mataku tertutup."
Zara berpikir sejenak dan ia tidak bisa membiarkan Darren semakin membuat tangan nya sakit dan Zara Pun tidak bisa melakukanya sendiri.
Dengan pertimbangan matangnya, Zara memutuskan untuk membiarkan Darren melihat tubuhnya, buat apa dia malu lagian Darren juga sudah melihatnya.
"Baiklah.."jawabnya dengan ragu-ragu.
Darren membuka matanya dan melihat tubuh Zara yang putih bersih itu, walau sudah melihatnya tetap saja Darren terpesona dengannya, Darren melanjutkan membuka perban ditubuh Zara dan membantu Zara mengelap tubuhnya.
Selesai mandi. Darren mengambil handuk dan mengangkat Zara lalu menutupi tubuhnya, wajah Zara terlihat merah karena malu dan tidak berani melihat wajah Darren ia terus menundukkan kepalanya.
Darren menaruh Zara di ranjang, Darren mengambil kotak P3K untuk mengobati luka-luka Zara. dengan lembut dan pelan Darren mengobati luka Zara, membuat Zara sedikit berpikir kalau pemikirannya tentang Darren yang tidak peduli padanya mungkin salah, yang dikatakan Darren mengenai pilihan untuk menyelamatkannya mungkin benar.
Zara memang tidak tau bagaimana kehidupan yang telah Darren hadapi selama ini, tapi setelah melihat langsung bagaimana perbuatan Roy dan ayahnya, Zara berpikir kalau kehidupan Darren begitu keras dan mengerikan, membunuh terlihat sangat mudah bagi mereka. Zara merasa iba dengan Darren, bagaimana selama ini ia melewati kehidupannya yang begitu keras dan mengerikan ini?.
Zara menatap Darren yang sedang mengoleskan salep pada luka di tangannya, Zara ingin sekali menyentuh kepalanya dan mengusapnya, memberikan perhatian padanya.
Zara bersyukur karena selama ini ia bisa menjalani hidup dengan baik karena lupa ingatannya, kalau saja ingatan buruk itu tidak pernah hilang. Mungkin selama ini ia tidak akan pernah merasakan apa yang namanya kebahagiaan, dan kehidupan sehari-harinya akan terus dibayang bayangi oleh kejadian mengerikan itu, lalu apakah ia bisa hidup seperti orang normal jika itu terjadi,
"Kamu pasti sangat menderita selama ini,"ucap Zara tanpa sadar keluar dari mulutnya.
Darren menghentikan olesannya pada luka Zara dan ia mengangkat wajahnya menatap Zara. Zara tersadar dan dengan cepat langsung memalingkan pandanganya.
"Lakukan dengan cepat!"ucapnya.
__ADS_1
kemudian Darren melanjutkan olesanya, setelah itu ia membantu Zara berpakaian.