
Zara berguling kesana -lemari diranjangnya,''Bosan!!Ah, bosan..''keluhnya. Sudah semingguan Darren meninggalkan rumah. Tapi walaupun begitu Zara tak bisa bebas juga, karena ada Denia yang selalu mengawasi dan melarang apa yang ingin di lakukan oleh Zara.
Banyak alasan yang di buat Zara untuk setidaknya ia pergi dari rumah ini walau hanya sebentar.
"Wah, sudah masuk harinya nih. Aku akan pergi ke swalayan bentar untuk beli pembalut ah."Zara beralasan.
"Ah, kebetulan klo gitu nona. Aku mau pergi ke swalayan beli peralatan, nona titip aja ke saya,"Langsung di patahkan harapan Zara oleh Denia.
"Aduh, kok kepalaku pusing banget yaa. Harus cari obat nih, Ah, pusingnya. tapi gak apa-apalah keluar sebentar buat beli obat,"Alasan kedua di ajukan.
"Nona seringnya minum obat apa? Bodrexin, Bodrex, paracetamol, oskadon, salompas, penicilin. Biar aku aja yang cariin! nona Zara istirahat di rumah aja."di patahkan untuk kedua kalinya.
"Wah, bajuku benar-benar banyak sekali. Sekarang pake ini ,besok pake itu, besoknya lagi pake ini. Aku harus ke toko baju. Aku tidak bisa memakai baju ini lagi. Iya ga Bi?"Zara mencoba membawa masuk bi Ijah di dalamnya.
"Iya non, Kayaknya non perlu beli baju lagi."Bi Ijah memang terbaik karena setuju dengan alasan Zara. Setidaknya Zara punya dukungan.
"Gak usah keluar non klo cuman beli baju mah. Jaman udah canggih sekarang, Keluarin Hp, lihat-lihat baju di online, pesan, bayar , antar. Nona mau baju model apa biar aku pesenin. Kebetulan aku juga lagi cari celana."Denia mematahkan untuk ketiga lagi dan ada senyum mengejek yang diselipkan pada perkataanya. Seakan memberitahu Zara kalau setiap alasan yang di buat Zara ada beribu cara juga untuk membalas alasan itu.
Zara duduk di pinggir ranjang dan melihat ke arah balkon kamarnya, ia punya ide.''kalau tidak di izinkan, maka kabur adalah pilihan terbaik,Hahaha.''
****
Tok.. Tokk... Tokk..
Bi Ijah sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar Zara tapi, tak ada jawaban dan langkah kaki dari dalam kamar mendekati pintu.
Denia melihat bi Ijah yang sibuk teriak memanggil nama Zara dan terus mengetuk pintu kamarnya. Denia naik ke lantai atas dan menghampiri bi Ijah,"kenapa Bi?"
''Ini loh, gak biasanya nona Zara belum bangun jam segini?''
''Iya, biasanya nona Zara sudah di belakang kasih makan ikan mas.''
''Apa nona Zara sakit ya, terus pingsan di dalem.''perkataan bi Ijah membuat Denia menjadi cemas.
__ADS_1
''Bi Ijah geser, biar aku dobrak pintu kamarnya. Ini juga, gak biasanya pintu masih di kunci,"
Bi Ijah bergeser dan turun ke lantai bawah untuk mengambil kunci. Tak seperti bi Ijah yang menemukan ide cemerlang untuk membuka pintu, Denia sibuk mendobrak pintu kamar Zara dengan mendorong-dorongnya.
Dukk.. Dukk.. Dukk..
Dobrakan itu tak berhasil. Bi Ijah datang dengan kunci di tanganya,''Sini! biar bi Ijah aja yang buka,"
Denia membulatkan matanya karena terkejut dengan ide cemerlang bi Ijah, disaat ia harus cape-cape mendorong pintu yang tidak akan terbuka itu. Bi Ijah hanya tinggal turun ke lantai bawah dan mengambil kunci kamar yang di simpan di lemari khusus untuk menyimpan kunci.
Tek.. Kreak..
Pintu kamar terbuka dan Denia, bi Ijah langsung masuk ke kamar Zara. Tapi, mereka tidak melihat Zara terbaring di ranjangnya. Denia melihat ke arah balkon, ada kain yang terikat di pagar balkon. Denia segera berlari dan melihat kain apa yang terikat di pagar itu.
Benar saja. Kain itu adalah 2 selimut yang di ikat ke pagar balkon untuk Zara bisa turun ke bawah dan kabur,''Nona ZARAA!!!''Teriak Denia setelah tau kalau Zara kabur lewat balkon itu.
''Bi, kalau tuan nelpon dan nanya nona Zara, bilang aja lagi tidur ya bi. Jangan kasih tau tuan klo nona Zara kabur.''
''Iya,"jawab bi Ijah singkat.
Bi Ijah tak heran melihat Zara yang sampai kabur dengan selimut yang di ikat di pagar balkon itu. Denia saja yang tidak peka kalau Zara dari hari-hari sebelumnya ingin keluar dari rumah sebentar. Tapi, Denia terus melarang Zara untuk keluar dari rumah.
Zara terus berlari karena tidak ingin Denia sampai menemukanya dan membawa Zara kembali.
Set.. Ckittt..
Sebuah mobil sedan mewah berhenti mendadak di depan Zara dan hampir membuat Zara terjatuh karena sangat terkejut.
''Apa Denia berhasil menemukan aku?"pikir Zara.
Zara berbalik badan dan berlari kembali. Orang yang di dalam mobil keluar,''Zara!!''Panggilnya.
Zara mengenal suara itu. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik, benarlah dugaannya kalau orang yang memanggilnya adalah,''Rian,''
__ADS_1
Zara berlari kembali menghampiri mobil itu dan menggenggam tangan Rian,''Cepat! Kita harus pergi duku dari sini!''Kata Zara dan menarik Rian masuk ke dalam mobil.
''Baiklah, aku juga ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengamu,''
Mereka segera meninggalkan tempat itu dan hanya berbeda beberapa detik saja, Denia juga sampai di tempat itu. Tapi, ia terlambat karena Zara telah lebih dulu pergi dengan mobil Rian.
''Bagaimana ini, bisa gawat klo tuang minta foto nona Zara. Apa aku harus jujur saja,''
***
''Aku tau di mana ibumu!''Rian begitu semangat memberi kabar baik untuk Zara.
Zara begitu senang mendengar kabar bagus dari Rian itu. Hatinya begitu gugup karena sangat senang,"kau yakin?''
Rian mengangguk,''ibumu ada di rumah pak wijaya.''
''Benarkah? Apa dia baik-baik saja?''
''Ibumu baik-baik saja. Pak wijaya menjadikan ibumu sebagai pembantu di rumahnya.''
Rian memberikan beberapa foto yang diambil dari jarak jauh. Di foto itu terlihat ibu Zara yang sedang bersih-bersih rumah Wijaya.''
Zara begitu kesal melihat foto itu,''Setelah membawa ibu dan aku pergi dengan paksa. Sekarang dia menjadikan ibu sebagai pembantu di rumahnya. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan perbuatan mereka pada kami.''tukas Zara begitu geram dan penuh amarah.
Zara bangkit dari tempat duduknya,''Aku harus kesana dan membawa ibu pergi.''
Rian memegang tangan Zara, menahanya.''Jangan buru-buru Zara, Wijaya bukan tandinganmu. Dia memerintahkan beberapa penjaga terbaiknya untuk menjaga rumah. Hanya dengan beberapa pukulan mereka bisa mematahkan tulang-tulangmu.''
Zara kembali duduk dan takut setelah mendengar perkataan Rian. Zara tau betul bagaimana kekuatan para pengawal Wijaya itu. Ia teringat saat para pengawal itu memegangnya dan memaksa Zara masuk ke dalam mobil hari itu.
''Lalu bagaimana caranya membawa ibu pergi,''
''Kita harus punya Strategi Zara,''
__ADS_1
Zara memikirkan tentang strategi yang akan di buatnya,''Membiarkan anak itu terlibat, boleh juga.''Zara yakin dengan pemikirannya dan menyeringai penuh arti.