Di Paksa Menikahimu

Di Paksa Menikahimu
Season 1 Rahasia


__ADS_3

¤¤¤¤


Ketiga orang itu sampai di rumah Nadine. Rumahnya tak kalah besar dengan milik Darren, 11,12 lah. Mereka keluar dari mobil disambut baik oleh pembantu Nadine. Wildan sedang tidak di rumah karena ia mengurusi perusahaan Wijaya dan ia menjadi seorang dengan jabatan penting di sana.


Bara mengajak Zara ke kamarnya sedangkan Denia, ia sibuk mencari makanan di dapur Nadine.


Zara merasa iri dengan Kamar Bara. Itu hanya kamar tapi bisa membuat Zara iri dengan itu. Bagaimana tidak! Kamar yang dilihatnya sekarang punya ruangan yang sangat luas dari kamar Zara di rumah sebelumnya, 4 kali lipatnya.


Di ruangan itu tidak hanya ada sebuah ranjang dengan sprei lengkapnya bermotif doraemon tetapi juga ada sebuah lemari dengan tinggi se pinggang orang dewasa dan panjangnya 3 meter.


Di lemari itu penuh dengan mainan Bara, Dari mainan mobil sampai boneka pun ada. Sepertinya kalau mau di jual pun bisa menjadi satu buah toko mainan.


Bukan hanya itu saja, di ruangan itu terdapat ayunan yang berbentuk setengah cangkang telur, tidak bundar namun sedikit lonjong yang terbuat dari anyaman bambu. Ada juga sebuah perpustakaan mini dengan buku-buku cerita anak dari berbagai macam buku cerita. Di lengkapi dengan meja dan kursinya.


Zara melihat dengan miris ruangan itu. Tak seperti dirinya sewaktu kecil sejak ia sudah tinggal bersama ibunya. Untuk sekedar bermain ke taman bermain saja ia harus banting tulang dulu berjualan kue dengan ibunya. Itu saja masih tidak bisa membuatnya ke tempat menyenangkan itu.


Karena kebutuhan dia dan ibunya lebih penting dari hanya ingin bermain di taman bermain. bahkan sampai dewasa pun, Zara belum pernah merasakan bagaimana rasanya permainan-permainan di taman bermain itu. Waktunya tidak pernah luang, jika tidak membantu ibunya berjualan keliling maka Zara hanya akan terus belajar di rumah.


Bara menaruh Tasnya di ranjang dan Zara memilih untuk melihat-lihat perpustakaan mini milik Bara,''kakak, kemarin Bara beli mainan baru loh sama ayah?"


Zara menoleh dan tersenyum,"woouw, mainan apa?"


Bara berlari ke lemari mainan dan mencari mainan itu, karena saking banyaknya mainan yang dia punya Bara sampai lupa menaruh mainan barunya di mana. Bara sibuk mencari mainan barunya untuk di pamerkan ke Zara sedangkan Zara sibuk membaca cerita dongeng anak-anak di perpustakaan mini itu.


Beberapa menit sibuk mencari mainannya, akhirnya Bara menemukanya juga. Ternyata itu adalah mainan berbagai binatang Dinosaurus dengan jenis yang berbeda dan lengkap dengan miniatur hutan nya.


Bara menoleh ke arah Zara dan ia tidak jadi menunjukan mainan barunya itu pada Zara. Bara berjalan menghampiri Zara dan memegang bajunya.


Zara menundukkan kepalanya melihat ke arah Bara. Bara melihat kanan kiri memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya,"kakak mau tau rahasia engga?"


''Rahasia?"


''Iya, tapi kakak Zara jangan bilang ke siapa-siapa ya? Terutama Om Darren! kalo Om Darren tau nanti Om Darren marah."


Zara mengambil posisi jongkok dan mengelus rambut Bara,"kenapa Om Darren ga boleh liat tapi Kakak boleh liat?"lirih Zara.


"Em, soalnya Om Darren ga suka sama nenek Bara. Kalo Om Darren liat nanti Om Darren bakal marah."


Zara tersenyum,''Bara yakin mau kasih tau kakak Zara?"


Bara mengangguk dengan mantap,"Kakak, bisa minta tolong ambilkan buku yang berwarna biru langit itu!"pinta Bara sembari menunjuk buku yang tempatnya lumayan tinggi dan Bara tidak sampai untuk meraihnya.


Zara berdiri dan mengambil buku yang di maksudkan oleh Bara. Di sampul buku itu terdapat foto keluarga Nadine dan di atas foto yang tertempel itu terdapat tulisan"Kisah Keluarga Bahagia"


Zara memberikan buku itu ke Bara.


Buku itu di buka oleh Bara dan ternyata di dalam buku itu tidak terdapat catatan apapun. Memang buku itu sedikit tebal tapi saat di buka itu hanya terdapat lubang tempat Flashdisk kecil dan juga DVD rekaman.


Bara mengambil flashdisk itu dan memberikannya ke Zara,"ini kak,"


Zara mengambilnya dengan ragu-ragu,"kamu yakin kakak boleh menerima ini?"

__ADS_1


Bara mengangguk dengan mantap,"disitu ada foto-foto Om Darren waktu kecil loh,"ucap Bara dengan senyum lebarnya.


Zara mengangkat alisnya. Entah apa yang dipikirkan Bara saat ini, apa maksud Bara mengatakan itu pada Zara. Jika di pikir-pikir karena perkataan Bara, Zara mulai penasaran juga.


***


Zara melambaikan tangannya dan mulai meninggalkan rumah Nadine karena Nadine dan wildan sudah kembali malam itu. Zara di minta menginap tapi karena Zara ingin menyelesaikan masalahnya dengan Darren malam ini juga jadi ia tidak bisa menginap. Tentu saja Zara tidak memberitahu kalau hubungan Zara dan Darren sedang tidak baik sekarang.


Untung nya Darren pulang ke rumah malam ini dan Zara yang sudah menunggunya di ruang tamu. Bi Ijah dan Denia sudah tertidur.


Darren memasuki rumahnya dan di hadang oleh Zara sebelum Darren sempat naik ke tangga menuju ruang kerjanya. Mereka saling bertatap.


"Bisa jelaskan padaku kenapa kau menghindar dariku 2 mingguan ini?"


"Apa itu penting? Apa keuntungan dari aku mengatakan alasan itu?"


Itu bukan jawaban yang Zara inginkan,"Oke, kamu memang benar? Memang siapa sih aku di sini? Aku hanya orang yang kau culik dari rumah dan di paksa nikah olehmu! Haha.. Apa sih yang aku lakukan!"ucap Zara dengan penyesalan di kata-kata yang ia lontarkan nya.


"Aku akan melepaskan mu!"Ucap Darren kemudian.


Deg!!!


Entah kenapa mendengar Darren mengatakan itu membuat Zara begitu sakit hatinya. Seharunya ia bahagia karena itu berarti ia bisa bebas dari Darren dan Wijaya dan ia bisa menjalani kehidupan normal seperti sebelumnya. Tapi ini terasa begitu menyakitkan bagi Zara, bagai makan buah tebu yang manis dan setelah sepah di buang. Itu yang Zara rasakan sekarang.


Setelah Darren mengambil hal paling berharga di hidupnya sekarang Darren mengatakan untuk melepaskan Zara.


Paakkk...


Tes... Tess...


Air mata itu tak sanggup Zara tahan, ia menetes begitu saja. Zara berbalik dan berlari ke kamarnya.


Zara menangis di kamarnya sembari menutupi kepalanya agar suara tangisnya tak terdengar keluar.


Darren berdiri di depan pintu kamar dan akan memegang gagang pintu kamar tapi selalu ia undurkan lagi tangannya. Darren ingin membuka pintu itu dan masuk ke kamar tapi perasaan dan perbuatanya tidak punya keputusan yang sama.


Akhirnya Darren meninggalkan kamar Zara dan masuk ke ruang kerjanya.


Tidak ada pembicaraan lebih lanjut malam itu, keduanya saling menyendiri di tempatnya masing-masing.


***


Zara memasukan flashdisk pemberian Bara ke laptop Darren yang ia tinggal di ruang kerjanya. Darren memang jarang membawa laptopnya ke kantor karena ia sudah memiliki tablet yang terisi dokumen-dokumen penting miliknya.


Karena Darren juga tidak memberikan password di laptop nya jadi, Zara bisa membuka laptop itu.


Di dalam flashdisk itu berisi beberapa video dan foto-foto Darren dan nadine di waktu kecil. Darren saat berumur 7 tahun. Memang benar perkataan Bara kalau Bara sedikit mirip dengan pamannya itu. Darren begitu imut di foto kecilnya itu, senyumnya sangat manis. Zara mengingat-ingat senyuman Darren padanya.


"Pantas saja aku tidak bisa mengingat bagaimana ia tersenyum, Dia saja sepertinya tidak pernah tersenyum padaku,"tukas Zara.


Kulitnya putih dan begitu bersih. Zara membuka salah satu video di flashdisk itu.

__ADS_1


Video itu menunjukkan Darren dan Nadine yang sedang bermain pasir pantai membuat sebuah istana dan terdapat suara Wijaya yang begitu Zara kenal.


"Ayoo!! buat yang lebih besar lagi. Mari kita bangun istana besar.."ucap Wijaya.


"Siap ayah!!"jawab Nadine dan Darren dengan serempak.


Zara melihat itu dengan senyum-senyum sendiri Tapi, juga ada kesedihan di hatinya. Zara terdiam sejenak saat melihat Pak Wijaya menggandeng seorang wanita yang begitu Zara kenal.


Pak Wijaya masuk ke dalam video itu. Wijaya dan perempuan itu berjalan ke air lalu mengambil air dan menyiramkan air ke istana yang telah Nadine dan Darren buat sehingga membuat istana itu mulai hancur.


Awalnya Darren tidak terima tapi hanya sandiwaranya saja karena setelahnya ia ikut masuk ke pantai dan menyiramkan air itu ke Wijaya dan Perempuan itu.


Sett...


"Ayaah!!"


Sebuah ingatan singkat muncul di pikiran Zara setelah memperhatikan perempuan di video itu yang tidak lain adalah Sarah, Istri serta ibu dari Nadine dan Darren.


Zara memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Aaayaaah!!!!"


Teriakan itu muncul lagi di kepalanya,"AAAHH!!"Teriak Zara yang merasakan kalau kepalanya semakin terasa sakit.


Zara bangkit dari kursi kerja Darren dan berusaha keluar dari ruangan sambil memegangi kepalanya,"Aaw, Ugh,, sakiiit.. Bi.. Denia..,"panggil Zara dengar sekuat tenaganya.


Bi Ijah dan Denia tidak mendengarnya karena sedang sibuk mengobrol di belakang dekat kolam renang.


"Aaayaaaah!!! Tidaak!!"


Teriakan itu semakin sering muncul di pikirannya dan membuat Zara semakin pusing dan cairan merah keluar dari lubang hidungnya.


Tes... Tess... Tess..


Cairan merah yang merupakan darah itu menetes ke lantai dan baju Zara,"BII!!"Teriak Zara dengan kuat.


Ia berusaha menyentuh gagang pintu ruangan dengan usahanya yang mulai melemah.


Denia mendengar teriakan Zara dan ia langsung bangkit dari duduknya, ia segera berlari menuju ruang kerja Darren.


Kreaak..


pintu ruangan terbuka dengan keadaan Zara yang sangat memprihatinkan karena darah mimisan dari hidungnya masih terus keluar dan menodai baju berwarna putihnya.


"Nona Zara!!"Teriak Denia yang terkejut melihat Zara dengan keadaan seperti itu.


"De.. Deniaa..."lirih Zara dengan suara lemah.


Bruukkk...


Zara jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Denia menjadi sangat panik begitu juga Bi Ijah yang melihat Denia sedang berusaha menyadarkan Zara.

__ADS_1


***


__ADS_2