
♧♧♧♧
Zara tersenyum membaca surat dari Darren itu. Entah sejak kapan Darren mulai menjadi romantis seperti ini.
Zara mengambil Dasi yang ia beli sudah lama sekali, saat ia belanja bersama Denia dan Emilia. Dasi yang ia belikan untuk Darren tapi belum ia berikan sama sekali.
▪▪▪
Pagi-pagi saat Darren sudah siap dengan pakaian kerjanya, ia berjalan ke dapur untuk sarapan. Dilihatnya bi Ijah sedang memasukan bunga yang semalam ia taruh di ranjang Zara ke dalam plastik sampah. Darren segera menghampiri bi Ijah.
"Bunganya mau dibuang kemana bi?"
bi Ijah menoleh ke Darren,"ah, ini tuan. Bunga nya mau di buang ke tong di luar, sayang banget cantik-cantik begini di buang ke tempat sampah,"ucap Bi Ijah menyayangkan hal itu.
Darren merasa kecewa dan buruk hatinya,"semarah itukah kamu? sampai bunga yang aku berikan kamu buang ke tempat sampah!!" keluh Darren di hatinya.
Darren langsung teringat bagaimana ia berjuang untuk membeli bunga itu.
Darren berhenti di toko bunga dan ia sangat ilfil sekali. Benar-benar tak menyangka demi seorang Zara ia harus datang ke tempat yang tidak ia sukai.
Darren memakai syal dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya agar tak dikenali orang. Darren keliling toko, melihat bunga yang cocok untuk ia berikan pada Zara.
Penjaga toko mendekati Darren,"ada yang bisa di bantu kak?"tanya penjaga itu.
Awalnya Darren ragu-ragu untuk bertanya tapi tak apalah demi Zara agar bisa memaafkannya apapun akan ia lakukan,"ekhem, bunga untuk minta maaf..?"
"Eh, maaf kak. Disini gak jual bunga minta maaf,"jawab pegawai itu yang tak mengerti maksud Darren. Yang Darren maksud adalah bunga yang bagus untuk permintaan maaf tapi pegawai itu salah mengerti.
Darren menarik napas kesal,"Huft,, bunga untuk permintaan maaf mba."
"Owh, maaf kak salah pengertian. Kalo bunga untuk permintaan maaf banyak kak ada; Tulip putih, Hyacinth, Mawar, Daffodil dan Anggrek putih. Kakak mau bunga yang mana."
"Mawar aja mba,"Jawab Darren yang semakin tak nyaman dan tidak betah di tempat itu.
"Owh, mau mawar putih atau mawar merah?"
"Mawar putih..!!"jawab Darren dengan kesal.
Wey, biasa aja kali kak jawabnya!! sewot kali lah, pikir si pegawai.
"Baiklah, mau pakai box atau di Buket bunganya?"pegawai itu masih terus menanyakan keinginan Darren pada bunganya yang tanpa pegawai itu ketahui kalau Darren sudah benar-benar kesal dan darahnya mulai naik karena pertanyaan-pertanyaan dari pegawai itu.
__ADS_1
"Di buket aja..!!"
"Baiklah kak,"
pegawai itu segera membuat rangkaian mawar putih itu dan dalam beberapa detik bunga mawar itu sudah tertata rapih dalam bulatan plastik cellophane.
"Silahkan kak bunganya,"ucap pegawai itu.
Darren segera mengambilnya dan membayar bunga itu. Darren segera meninggalkan tempat yang tak nyaman baginya itu.
Beralih ke rumah Darren saat Andrian sedang membantunya dalam pencarian informasi David. Sebelum Andrian pulang Darren meminta Andrian untuk memberinya ide kata-kata yang bagus untuk mengucapkan permintaan maaf.
"Permintaan maaf dalam hal apa nih?"
"Yah, masalah malam itulah."
"Malam yang mana?"
Darren menatap Andrian dingin,"otak mu gak pernah dicuci ya..!! Pelupa sekali, tentu saja malam saat penyelamatan Zara..!!"kata Darren dengan emosi yang sudah ia tahan-tahan sejak tadi.
Sepertinya aku salah bertanya, memang? harimau yang sedang marah itu tak boleh gegabah menanganinya. Harus dengan hati-hati dan penuh ke waspadaan. ucap Andrian di dalam hatinya.
Andrian mulai menuliskan kata-kata yang menurutnya bagus.
Zara, amarahmu adalah luka bagiku. Hatiku terasa hampa saat kau marah dan tak mau memaafkan ku. Maafkan aku Zara sebelum aku pergi.
"Kau cari mati ya..! surat apa itu? menjijikan sekali."
Zara, Maafkan aku Zara. Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Kalau hal itu terjadi lagi maka aku siap mengorbankan nyawaku demi dirimu.
"Sepertinya otakmu harus di keluarkan dari kepalamu.. biar bisa aku asah..!!"
Andrian mulai kesal juga,kalo kamu lebih pintar menyusun kata-katanya..!! kenapa tidak buat sendiri..!! Umpat Andrian yang hanya berani ia lakukan dalam hatinya.
Andrian mengelus-elus dadanya, menenangkan diri yang mulai emosi.
Manusia itu tidak ada sempurna, semua orang pernah berbuat kesalahan. Tapi yang aku lakukan bukan kesalahan karena itu satu-satunya cara yang aku pikirkan saat itu.
Aku ini memang tak punya otak yang bagus dalam membuat sebuah rencana. Jadi, maafkanlah kesalahanku zara.
"Kau marah padaku..!! Kau kesal..!! Kau mau mengumpat ku..!!"Darren menatap tajam dan terlihat kemarahan dari sorot matanya.
__ADS_1
Andrian tersenyum takut,"tidak..!! mana aku berani melakukan itu..!!"
"Buat yang lain..!!"
"Baiklah, aku akan memikirkannya dulu."
Andrian berpikir keras tentang ucapan yang bagus yang akan ia tulis dalam surat itu. Tulisan yang membuat Darren puas dan tak terus memarahinya lagi.
Setelah berpikir lama, akhirnya Andrian menemukan kata yang pas dan Darren mengiyakanya. Andrian selamat dan masih bisa pulang dalan keadaan badan yang utuh tanpa luka sedikitpun.
▪▪▪
Darren memasang wajah murung melihat bunga mawar yang dibuang itu. Semangat pagi yang ia kumpulkan semaleman karena tidak sabar mendengar ucapan penerimaan maaf Zara padanya langsung pupus.
Darren tak jadi makan untuk sarapan, ia berbalik badan dan meninggalkan rumah untuk berangkat kerja. Bi Ijah yang tak tau apa-apa tentang wajah Darren yang berubah kusut itu tak berani bertanya.
Zara yang sedang turun tangga kebawah melihat Darren keluar dari rumah.
"Tumben tuan gak sarapan dulu?"tanya Zara ke bi Ijah.
"Iya non tumben, padahal tadi pas bibi lihat tuan baru keluar kamar, wajahnya seger-seger aja. Tapi, waktu ngeliat bunga ini wajah tuan langsung berubah kusut,"jelas bi Ijah.
"Bunga?"
Zara langsung teringat dengan kejadian semalam saat ia membuang bunga mawar yang Darren berikan padanya,"sepertinya ada salah paham disini."
"Iya non?"
"Ah, tidak bi. Itu bunganya aku yang buang soalnya aku alergi bi sama bunga. Serbuknya itu bikin aku bersin-bersin,"jelas Zara.
"Owalah, terus tuan tau klo non alergi bunga?"
Zara menggeleng, mana mungkin Darren tau kalau Zara alergi bunga. Zara saja tak pernah memberitahu Darren tentang alerginya itu.
Pantas saja, mukanya terlihat kusut saat berangkat tadi. Pikir Zara.
▪▪▪
Avenia de lisboa, Makau.
Denia dan Andrian turun dari dan keluar dari mobil BMW i8 coupe. BMW mewah yang harganya saja tak main-main. Denia dengan penampilannya yang sangat memukau memakai baju woman less evening dress warna merah hati dengan sepatu high hell panggung, tinggi 12 cm, warna serasi dengan gaunya.
__ADS_1