Di Paksa Menikahimu

Di Paksa Menikahimu
Season 1 Perasaan Sebenarnya


__ADS_3

¤¤¤¤


Zara mendengar teriakan orang itu didalam pikiranya. Ia benar-benar ketakutan. Zara langsung menutup telinganya," pergi!! pergi, ibu!"


Dadanya mulai terasa sesak dan terasa sangat sakit, dikepalanya yang terus mendengar teriakan orang itu. Zara memegangi dadanNya, Ia pernah berada disituasi ini.


Saat SMP, teman-temanya mengerjainya dengan menguncinya dalam lemari. Saat itu temanya merasa ada yang tidak beres dengan Zara karena didalam lemari itu tiba-tiba menjadi sangat hening. Begitu mereka membukanya, Zara sudah tidak sadarkan diri, mereka ketakutan dan guru yang mengetahui itu langsung membawa Zara kerumah sakit dan Zara langsung mendapat perawatan medis sehingga masih tertolong.


20 menit kemudian...


Darren berjalan ke gudang untuk memeriksa keadaan Zara, tapi gudang begitu tenang dan sangat hening tidak terdengar suara tangis atau kata-kata Zara meminta dikeluarkan.


"Apa wanita ini sudah tertidur, benar-benar hebat."ucap darren.


Darren penasaran dan Darren membuka gudang itu,. Darren terkejut saat melihat Zara sudah meringkuk dan merintih, tanganya terlihat meremas kuat dadanya. Napasnya terdengar sangat berat, Darren langsung medekatinya dan mengangkat tubuh Zara.


"Saa.... saa... kit"rintih Zara dengar terbata-bata. dan kehilangan kesadaran.


Darren langsung membawanya ke kamar dan membaringkan diranjang. Ia lalu menelpon dokter kepercayaanya.


"Kesini dalam 5 menit kalau tidak mau terjadi hal buruk padamu!!"ucap Darren mengancam dokternya.


Kebetulan rumah dokter kepercayaan Darren tidak terlalu jauh dari rumahnya sehingga ia bisa datang tepat waktu kerumah Darren, ia langsung memeriksa keadaan Zara dan memasang alat bantu pernapasan pada mulut Zara.


Darren menunggu pemeriksaan dengan perasaan cemas takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, ia benar khawatir. Bagaimaa perasaan Darren terhadap Zara? Ia juga tidak paham, melihat Zara yang sangat kesakitan tadi. Perasaan cemas dan khawatir menyelimutinya, pikiranya jadi kacau sesaat.


Darren sebenarnya tak membenci Zara. Rasa kagum dan hangat Zara saat pertama kali bertemu membuatnya sedikit tidak senang dan ia menyukainya. Saat harus melakukan hal buruk pada Zara bahkan saat ia mengunci Zara di gudang tadi hatinya merasa tidak tenang.


Beberapa lama kemudian, Dokter Ivan selesai melakukan pertolongan pertama pada Zara.


"Bagaimana keadaanya?"


"Syukurlah, keadaanya mulai membaik. Apa yang terjadi?"


"Tidak ada, hanya hukuman kecil untuknya."


"Ayolah Darren, kalian baru menikah hari ini. Apa dia tidak mau melakukan itu denganmu sampai menghukumnya?"kata Dr. Ivan dengan senyum-senyum penasaran.


"Kau sudah selesaikan, kalau begitu kau bisa pulang sekarang."ucap Darren yang tidak mau memberi kejelasan dan malah mengusir Ivan.


"Huh, temperamen burukmu itu benar-benar harus diubah. ya sudah, aku tidak akan mengganggu kalian malam ini,"kata Dr. Ivan lagi sembari mengedipkan satu matanya.


Darren berdiri disamping ranjang tempat Zara terbaring. Darren memperhatikan wajah Zara yang dipenuh aura kesedihan, matanya terlihat sembab karena bekas tangisnya. tiba-tiba Zara teriak.


"Tidaaak.!!"


Tangan nya mencengkram selimut dengan kuat, badanya gemetar, tidurnya tidak tenang. Darren langsung menggenggam tangan Zara, Zara menggenggam tangan Darren dengan sangat kuat, Darren bisa merasakan kalau Zara sangat ketakutan. Tapi, ia tidak tau apa yang di takuti Zara. Darren naik keranjang dan tidur di samping Zara, memeluknya, Zara menangis ketakutan dalam tidurnya, Darren menepuk pundak Zara pelan untuk menenangkanya.


"Tenang Zara, ada aku disini."kata Darren.

__ADS_1


"Tidak!! ayah, Tidak!!"


Darren lalu mengelus kepala Zara dengan lembut untuk menenangakan Zara. Perlahan-lahan Zara mulai tenang dan kembali terlelap tidurnya.


Setelah Zara benar-benar sudah tenang, Darren bangkit dari ranjang dan sebelum pergi ia memandangi wajah Zara yang sangat tenang. Darren menatap bibir Zara yang merah merona dan tipis itu, membuat jantungnya berdegup kencang,pikiranya jadi kacau karena memikirkan hal yang tidak-tidak, Darren langsung berjalan pergi meninggalkan kamar itu.


"Ayaah!!"teriak Zara, seperti biasa. Mimpi buruk itu selalu merusak tidur nyenyaknya.


Keringat telah membasahi tubuh Zara. Zara membuka matanya dan memperhatikan sekeliling ruangan. Ia teringat kalau tadi malam ia berada di dalam gudang yang gelap tapi pagi ini ia bangun di kamar dan diatas ranjang yang empuk.


Ada jarum infus ditanganya dan bantuan pernafasan di mulutnya. Zara mengerti, sepertinya kejadian lama terulang kembali, ia jadi bingung apakah Darren yang menolongnya tapi kenapa? bukankah ia menginginkan Zara untuk menderita.


''Ya tentu saja, jika aku mati lebih dulu pasti dia tidak akan senang.'' pikir Zara lalu melepas alat bantu pernafasan dimulutnya.


"Ibu, bagaimana keadaan ibu sekarang?"ucap Zara yang teringat dengan ibunya. Setelah hari itu, Zara belum melihat ibunya lagi.


Zara melihat jam dinding dikamar Darren. Jam menunjukan pukul 09.30, Zara melepaskan jarum infus ditanganya dan ia akan bangun dari tempat tidur tapi tidak jadi, karena seorang ibu-ibu tua berumur sekitar 40 tahunan memasuki kamarnya dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air. Ibu itu menaruh nampannya di lemari samping ranjang yang lebih tinggi 10 cm dari ranjang.


"Tuan meminta saya untuk memberi bubur ini pada nyonya dan memastikan nyonya menghabiskan semua bubur ini,"kata ibu itu yang merupakan pembantu baru dirumah Darren dan baru datang pagi ini, Darren tidak bisa setiap hari mengawasi Zara karena ia banyak urusan yang harus dikerjakan. Jadi dia mengerjakan seorang pembantu untuk mengawasi Zara.


Ibu itu berdiri disamping Zara terus mengawasinya, Zara merasa tidak nyaman ia menoleh dan menatap ibu itu.


"Tolong tinggalkan saya sendiri,"


"Tidak nyonya, tuan mengatakan untuk melihat nyonya makan didepan mata saya sendiri. Jadi saya tidak bisa meninggalkan nyonya sebelum nyonya menghabiskan bubur ini!"


Zara menarik napas kesal ia tidak sudi memakan makanan dari orang yang menghancurkan hidupnya.


"Tapi nyonya, tuan.."belum selesai bicara Zara langsung memotongnya,"Jika tidak, aku tidak akan makan bubur ini!"ancam Zara.


Ibu itu tidak bisa membantah, ia menuruti perkataan Zara dan berjalan keluar.


"Tunggu.."panggil Zara, ibu itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke Zara.


"Apa tuan ada dirumah?"


"Tidak nyonya, tuan sudah pergi 1 jam yang lalu,"


"Owh begitu."


Pembantu Darren menunggu nampan diluar pintu kamar, Zara menepati janjinya. Dalam 5 menit ia mengembalikan nampan dan mangkuk serta gelas kosong ke pembantu itu, tanpa pikir panjang pembantu itu langsung membawa nampan itu ke dapur dan mengunci pintu kamar, karena Darren menyuruh nya untuk mengunci kamar jika dia tidak dirumah, tanpa sepengetahuan pembantu itu Zara membuang semua bubur dan air itu kedalam kloset kamar mandi.


Zara mencoba untuk keluar dari kamar tapi pintu dikunci dari luar kamar,"Bahkan sekarang aku dipenjara dalam kamar ini."kata Zara dengan kesal.


Zara berjalan ke balkon rumah dimana pintu menuju balkon terbuat dari kaca yang besar, ia berdiri disamping pagar balkon dan melihat sekeliling rumah Darren. Rumah ini sangat besar dan halamanya juga sangat luas masih banyak pepohonan dan juga rumah-rumah tetangganya lebih kecil dari rumah Darren dan rumahnya biasa saja.



Halaman rumah dipenuhi dengan berbagai macam tanaman bunga yang terurus dengan baik sehingga membuat halamanya terlihat bagus dan indah, bahkan udaranya sangat sejuk.

__ADS_1



Darren sengaja memilih rumah ini karena rumah ini sebagai tempat tinggal juga sebagai mediasinya untuk menenangkan diri dari pikiran kacau dan suasana hati yang buruk, balkon rumah ini juga agak lebar ada kursi kayu ntuk berjemur juga meja santai. Bahkan bisa dibuat untuk tempat berkumpul yang menyenangkan sambil melihat pemandangan luar yang bagus dan segar.



Zara jadi kepikiran untuk kabur dari balkon ini ia hanya perlu mengikat selimut untuk turun kebawah, tapi ia tidak bisa kabur sekarang karena sang ibu masih ditangan ayah Darren. Zara tidak mau hal buruk terjadi pada ibunya.


"Aku harus menelpon orang yang bisa menolongku. siapa?"Zara berpikir keras hanya ada 1 nama yng muncul dipikiranya, Rian.


"Benar, Rian. Aku harus meminta bantuanya. Tapi apakah dia mau? Sedangkan aku dan dia sudah putus, tidak!! Aku harus mencobanya, tapi bagaimana aku menghubunginya? Hp ku saja tertinggal dirumah dan aku terkunci dikamar ini sekarang."


Zara menarik napas dan menghembuskanya kembali, ia sangat kesal membayangkan semua kejadian yang terjadi padanya.



Jam menunjukan pukul 10.00. Darren kembali kerumah. Dijalan memasuki halaman rumah ia melihat Zara berdiri di balkon dan sedang menatap kearahnya. Darren keluar dari mobil dan segera memasuki rumahnya, ia menanyakan ke pembantunya perihal bubur Zara pagi ini.


"Sudah tuan, nyonya telah menghabiskan buburnya tanpa sisa."


Darren naik ke lantai 2 dan memasuki kamar. Darren melihat Zara dari belakang, ia memandangnya sebentar.



Darren memperhatikan baju Zara yang belum diganti dan sudah dipakainya seharian ini, Darren juga orang yang mencintai kebersihan, melihat Zara yang belum berganti pakaian membuatnya risih dan tidak nyaman. Darren mengambil handuk dan menghampiri Zara.


"Bisakah kamu membersihkan badanmu itu?"kata Darren lalu melempar handuk ke Zara, tanpa melesat Zara menangkapnya.


"Aku tidak akan melakukan apa kemauanmu dan aku tidak sudi memakai barang milikmu yang kotor itu!!"kata Zara dengan tegas.


"Apa kau bilang, kotor?!! kau ini benar-benar, bukankah sekarang kamu yang terlihat kotor."kata Darren jadi kesal.


Zara balik melempar handuk itu ke Darren, Darren menangkisnya dan membuat handuk itu jatuh ke lantai.


"Jangan harap kamu melihat aku bersih. Aku bahkan tidak sudi disentuh oleh laki-laki seperti kamu!!" kata Zara dengan keras.


Darren menatap Zara dan menyeringai penuh arti, Zara menyadari ada yang salah. Darren berjalan cepat mendekati Zara. Zara ketakytan dan memegang pagar balkon dengan kuat.


Duk.. Duk...


Langkah Darren semakin dekat,"pikiranmu bisa kotor juga yaa,''


"Apa maksudmu?"


Darren langsung menggendong Zara ke pundaknya,"lepas.. turunin aku!!"teriak Zara sambil memukul-mukul pundak Darren, Darren tidak merasakan sakit karena pukulan Zara yang begitu lemah. Darren mengangkatnya ke kamar mandi dan menjatuhkan tubuh Zara ke bak mandi.


Byuuur..


Tubuh Zara basah kuyup,"kamu!!."Zara marah dan kesal.

__ADS_1


"Semakin kamu melawan, semakin aku ingin melakukan hal buruk padamu."


__ADS_2