
Wijaya membuka matanya dan melihat sekeliling,''apa aku di rumah sakit?"
Wijaya mengambil posisi duduk, ada kain kasa berukuran kecil yang menutupi luka di jidatnya. Dan ada jarum infus di pergelangan tangannya, kepalanya terasa pusing dan Wijaya akan melepas infus di tangannya.
''Dia sudah boleh pulang kalau sudah sadar, hanya gegar otak ringan dan tidak terlalu parah,"jelas Dokter yang memeriksa Wijaya.
''Baik Dok, terima kasih,"
Gunawan kembali ke ruangan tempat wijaya di rawat, di lihatnya Wijaya sedang mencopot infus di tangannya,"hey, kapan loe bangun?"Gunawan segera menghampiri Wijaya.
Wijaya mengangkat wajahnya dan menatap Gunawan, ia hanya diam dan tak berkata apa-apa.
''Ah, tenang aja. Mereka gak akan ganggu kamu lagi kok. Kenalin, Gunawan."Gunawan mengulurkan tangannya.
Wijaya ragu-ragu menerima ukuran tangan itu.
Grep..
Karena respon Wijaya yang lama membuat Gunawan gemas. Jadi Gunawan langsung memegang tangan Wijaya untuk bersaliman dengannya.
''Wi.. ja.. yaa,"Wijaya terbata-bata karena malu.
Gunawan tertawa melihat Wijaya yang begitu pemalu.
Plak..
Gunawan memukul pundak Wijaya dengan keras,"jadi seorang laki-laki itu harus kuat dan berani. Kalau kita lemah, apa kita sanggup menjaga dan melindungi orang yang kita cintai?"
Perkataan itu begitu menusuk di hati, mengingat bagaimana Wijaya yang tidak bisa bela diri, apalagi memukul balas orang yang telah membully nya. Seakan perkataan itu membuatnya menjadi seorang pria yang tak berguna di dunia.
Wijaya menatap Gunawan dengan kesal karena perkataanya. Iapun melepas infus di tangannya lalu mengambil kaca mata di atas meja. Wijaya turun dari ranjang rumah sakit dan akan meninggalkan Gunawan.
Grep..
Gunawan kembali memegang tangan Wijaya untuk menghentikannya pergi tapi dengan kuat Wijaya langsung menangkis tangan Gunawan.
Pegangan Gunawan langsung terlepas, Gunawan tidak marah atau memukul Wijaya, sebaliknya Gunawan malah tertawa melihat Wijaya yang terlihat sedang marah itu.
__ADS_1
Wijaya meninggalkan rumah sakit dan Gunawan mengikutinya di belakang. Berkali-kali Wijaya melihat kebelakang untuk melihat Gunawan yang mengikutinya. Mengetahui kalau dirinya mengikuti Wijaya, Gunawan hanya tersenyum dan melambai saat Wijaya berbalik dan melihatnya.
''Tangkisanya sangat kuat, tapi kenapa dia sangat lemah. Dipukul orang tidak mau membalas."bisik Gunawan dan masih terus mengikuti Wijaya.
Wijaya menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan dengan tatapan tajam melihat Gunawan. Gunawan tidak pergi atau memukul Wijaya yang sedang menatapnya itu. Gunawan malah menghampiri Wijaya.
''Kenapa kau mengikuti aku!!''Tegur Wijaya.
''Ah, mana mungkin. Jangan salah paham? Kebetulan rumah aku ke arah sana juga.''Jawabnya dengan senyum di bibir.
Wijaya jadi malu dan salah tingkah,"Be.. benarkah?"
Gunawan menganggukkan kepalanya,"kau mau jalan bersamaku?"Ajak Gunawan.
''Huh, mana mungkin!''
Wijaya kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat meninggalkan Gunawan di belakang. Gunawan tetap santai mengikuti Wijaya di belakangnya.
Setelah Gunawan melihat dimana rumah Wijaya, ia kembali ke jalan berlawanan tadi, Karena rumah Gunawan tidak di arah yang sama dengan Wijaya. Gunawan hanya ingin tau dimana rumah Wijaya dan melindunginya kalau-kalau ada anak yang akan membulinya lagi.
Gunawan meninggalkan rumah Wijaya, dan tanpa sepengetahuannya, Wijaya kembali keluar dari rumah untuk melihatnya,"Katanya arah jalan yang sama dengan rumahku tapi, dia kembali ke jalan tadi. Dia benar-benar mengikuti aku,''
Duk... Duk.. Duk..
Tatapan anak-anak di kelas Wijaya melihat ke arah luar kelas karena di belakang wali kelas mereka ada Gunawan yang mengikuti. Para wanita jatuh cinta pada pandangan pertama.
Wali kelas masuk ke dalam kelas dan diikuti Gunawan. Wijaya tidak mempercayai apa yang di lihatnya.
''Selamat pagi anak-anak,''
''Selamat pagi ibu guru,"
''Baiklah, Hari ini kalian kedatangan kawan baru. Silahkan perkenalkan diri.''
Gunawan melangkah satu langkah kedepan,''Perkenalkan, Nama saya Gunawan Putra Adijaksa. Saya pindahan dari Bina Bangsa Negri Bandung. Mohon kerja samanya.''
Wali kelas meminta Gunawan duduk di samping Wijaya karena hanya kusri itu yang masih kosong. 3 anak yang duduk di belakang Wijaya segera menutupi wajah mereka dengan tas, Karena tidak ingin di lihat oleh Gunawan. Mereka takut.
__ADS_1
Gunawan langsung duduk di kursi kosong itu sambil menatap Wijaya dengan senyum manisnya. Wijaya memalingkan wajahnya.
Sejak kepindahan Gunawan ke sekolah itu. Tidak ada lagi yang mengganggu Wijaya, entah apa yang membuat para tukang bully itu berhenti membully Wijaya. Justru sebaliknya, Gunawan yang sekarang mengganggu Wijaya. Kesana-kemari di ikuti dan bahkan Gunawan sering sekali membawakan Wijaya makanan ringan dan lain-lain.
Karena merasa kesal dengan sikap Gunawan padanya, dengan penuh keberanian Wijaya mengajak Gunawan bertemu di atap sekolah.
''Ada apa?''
''Berhenti mengganggu dan mengikuti ku!! Aku tidak nyaman,''ucap Wijaya tanpa menatap Gunawan, ia takut.
Gunawan menyeringai,"Aku melakukan itu tidak gratis kok."
Wijaya mengangkat wajahnya, menatap Gunawan dengan penuh tanda tanya"Mak.. maksudnya?''
''Ajari aku belajar! Aku sudah memperhatikanmu lama, dan kamu pandai dalam berbagai mata pelajaran.''
''Tapi,"
''Kalau kau tidak mau, Kembalikan semua uang yang telah aku keluarkan untuk membeli jajanan untukmu!''
Wijaya mengerutkan keningnya,"aku kan tidak memaksamu melakukan itu, kenapa aku harus bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan,"
''Karena uang yang dipakai untuk membeli barang-barang itu adalah uang jajanku sehari-hari, kalau di total sekitar 250 ribu rupiah. Bisa kembalikan sekarang!''
Wijaya dibuat melongo dengan permintaan Gunawan, tentu saja uang segitu tidak sedikit di jaman nya. Uang itu cukup besar kalau di bandingkan dengan mata uang sekarang mungkin sampai 1 juta.
''Aku tidak punya uang.''
''Kalau begitu hanya ada satu cara, ajari aku belajar!''
Wijaya berpikir sejenak,''Baiklah, aku akan mengajarimu,"
''Oke, pulang nanti aku tunggu di gerbang sekolah. Kita belajar di rumahku."
''Ba.. baiklah.''
Mulai saat itu mereka jadi dekat dan Wijaya di ajari bela diri oleh Gunawan dan ayah Gunawan. Wijaya menjadi orang yang benar-benar berbeda sejak bergaul dengan Gunawan. Karena ia sudah bisa bela diri ia tidak takut lagi dengan anak-anak yang membully nya dulu apalagi ada Gunawan yang siap menghajar mereka kalau mereka berani membully Wijaya.
__ADS_1
Wijaya mengajak Gunawan untuk membuat sebuah genk, Niatnya untuk membebaskan anak-anak yang lemah dan terbully di sekolah. Membuat para anak-anak itu berani seperti dirinya. Gunawan dengan senang hati mengikuti permintaan Wijaya.
Tidak sedikit yang bergabung dalam Genk Wijaya. Sebaliknya, banyak sekali anak-anak yang merasa tertantang dan ikut di Genk itu. Selain untuk merubah diri dan mencegah diri mereka menjadi bahan bullyan anak-anak nakal di sekolah mereka.