
Hari telah menjelang pagi, matahari mulai muncul dari tempat persembunyiannya. Zara membuka matanya dan melihat Darren yang masih terlelap tidur di sofa kamar.
Zara bangkit dari kasur. Tangannya masih terasa nyeri dan sakit begitu juga dengan tubuhnya, luka-luka bekas kawat yang mengikat dia masih terasa sakit. Zara memaksakan diri untuk berjalan sendiri ia tidak mau Darren terus menggendongnya bolak-balik kesana kemari.
Kaki Zara mulai menapak di lantai.
"1...2...3.."Zara mencoba untuk berdiri.
Tangannya yang memegang pinggir ranjang segera terlepas dan Zara secara perlahan mulai melangkah dengan pelan dan hati-hati.
Darren membuka matanya. Pagi-pagi ia sudah dikejutkan oleh Zara yang sudah tidak ada di ranjangnya. Darren segera bangkit dengan panik ia memeriksa di dalam kamar mandi tapi tak melihat Zara.
"Zara, Zara!!"
Darren berlari keluar dan ia merasa lega saat melihat Zara sedang berbincang-bincang dengan Denia dan ibunya di samping kolam ikan.
Darren menghampiri mereka,"kamu gak bangunin aku?"ucap Darren.
Zara dan Denia juga ibu Zara menoleh ke arah Darren,"saya mah yakin tuan klo tidur pasti kayak kebo. di senggol bacok aja pasti gak bakal bangun,"ledek Denia.
Zara dan Ibu nya tersenyum mendengar perkataan Denia. Terkecuali Darren, ia langsung menatap Denia dengan dingin dan menakutkan,"bulan ini gak dapet gaji yaa!!"Darren langsung to the point dengan perkataanya yang tanpa ekspresi itu.
Denia melongo mendengar Darren berkata begitu padanya. Denia langsung berdiri dan mendekati Darren.
"Tuan, tuan mau saya semir sepatunya, owh, atau tuan mau saya masakin makanan kesukaan tuan," bujuk Denia yang ketakutan kalau Darren akan menahan gajinya bulan ini. Dan tentunya Denia pasti tak akan di bayar sepeserpun oleh Darren.
Zara dan ibunya menertawakan sikap Denia yang tiba-tiba menjadi sangat manis ke Darren. Darren tak menghiraukan perkataan Denia dan tanpa berkata-kata lagi Darren meninggalkan tempat itu dan kembali masuk ke rumah.
"Tuan, tuan!! jangan ambil gaji saya tuan,"kata Denia dengan nada sedihnya.
Ia tau benar sifat Darren kalau Darren berkata tidak, pasti jawabannya tidak!!
mampus gue, masa bulan ini gak digaji. Tuan baper banget sih, cuma di bilang gitu aja langsung guenya gak di gaji. Emang tuan nih keterlaluan!!! Denia khawatir.
Denia berbalik badan dan menatap Zara dengan senyuman yang penuh arti,"kenapa? kamu mau aku bujuk Darren?"kata Zara yang mengerti maksud dari senyuman Denia.
__ADS_1
Denia mengangguk dengan mantap. Zara menjawab anggukan Denia dengan gelengan kepala, yang berarti kalau Zara tak mau membantu Denia untuk membujuk Darren. Denia langsung memasang wajah cemberut.
"Ya, aku mah apa atuh, cuma bawahan biasa. Punya bos dingin istrinya juga tega.."Denia menyanyikan lagu aku mah apa atuh sambil berjalan masuk ke rumah dengan wajah murung. lagu yang dia ganti liriknya.
Zara memegang tangan ibunya sembari menatap penuh keseriusan.
"Mah, kenapa mamah tetep biarin aku tinggal sama Darren?"Ucap Zara penuh keseriusan.
Riana menatap Zara lalu memegang pipinya,"karena mamah merasa Darren bisa menjaga dan melindungi kamu, lebih dari mamah."
"Tapi, apa mamah lupa dengan apa yang telah ibunya lakuin sama papah,"mata Zara mulai berkaca-kaca. Hatinya benar-benar sakit mengingat apa yang terjadi padanya 13 tahun lalu, begitu menyakitkan.
"Sayang, Darren tidak ada hubungannya dengan kejadian itu. Jangan sampai yang tidak bersalah harus menjadi korban juga. Mamah inget banget waktu ayah kamu cerita tentang kehidupan Darren."
Flash Back...
Riana dan Gunawan sedang mengawasi Zara yang sedang asyik bermain perosotan dengan teman-temannya. Anak-anak tetangga Riana. Mereka sedang bermain di taman komplek.
"Aku senang melihat Zara bisa bebas bermain,"kata Gunawan.
"Benar, aku sedikit sedih melihat Darren."
Riana menatap Gunawan,"memangnya Darren kenapa?"
"Aku sudah memperhatikan dia sejak dia lahir ke dunia ini, kehidupannya yang tak di inginkan oleh Sarah."
"Maksudnya apa yang?"
"Sarah menikah dengan Wijaya bukan karena cinta tapi, karena Wijaya yang meminta ayahnya untuk menikahkan dia dengan Sarah,"cerita Gunawan.
"Wijaya sudah jatuh cinta pada Sarah sejak pertama bertemu, dan kebetulan itu terjadi. Ayah Sarah bangkrut karena ditipu oleh karyawan nya. Dan ayah Sarah berhutang banyak pada keluarga Wijaya, untuk membayar hutang itu Wijaya mengambil kesempatan dengan membuat Sarah menjadi istrinya. Tentu saja untuk membayar hutang ayahnya."
Riana dengan serius mendengar cerita Gunawan sambil matanya melirik-lirik Zara, mengawasinya.
"Dengan menjual Sarah pada Wijaya. Tentu saja itu tekanan besar buat Sarah. Dan sampai sekarang pun hanya Wijaya yang mencintai Sarah tanpa ada balasan atas perasaan Wijaya padanya. Untuk itulah saat anak-anak mereka lahir Sarah sama sekali tidak mau menyentuhnya."
__ADS_1
"Mungkin aku sedikit mengerti perasaan Sarah, Kalau aku berada diposisi Sarah. Aku juga akan merasa tertekan."
"Tapi, tidak seharusnya Sarah bersikap seperti itu. Aku sangat mengerti perasaan Wijaya pada Sarah ia sangat mencintainya dan Wijaya terus berjuang untuk cintanya pada Sarah. Kenapa Sarah tidak bisa menghargainya walau hanya sedikit saja."
"Aku tidak tau harus membela Sarah atau Wijaya, Keduanya punya kesalahan. Kesalahan Wijaya adalah ia memaksakan kalau orang yang ia cintai harus jadi milik dia, padahal kehidupan tak bisa se egois itu. Dan cinta itu tak selalu harus memilikinya,"Riana mulai mendebatkan cerita Gunawan.
"Okelah, Wijaya memang salah. Tapi bagaimana dengan Sarah? kebenciannya kenapa harus ia lampiaskan ke anak-anaknya. Di saat bayinya Nadine dan Darren apa pernah ia memberikan air susunya untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokan mereka. Menyentuh Pun tidak!! apa dia harus seperti itu,"Gunawan mulai kesal.
"Aku juga tidak bisa menyalahkan Sarah atas apa yang dia perbuat. Mungkin ia punya pemikirannya sendiri."
"Darren yang masih kecil itu terus menangis karena kehausan. Sedang rasa hausnya hanya di hilangkan dengan air susu orang lain itu kejam Riana, bahkan disaat dia tumbuh pun Sarah jarang memperhatikan dia."
Riana mulai kesal juga mendengar cerita Gunawan. Sarah memang benar-benar keterlaluan.
"Betapa inginnya Darren diperhatikan Sarah, sampai-sampai ia harus melakukan hal-hal diluar batas. Bertengkar dengan teman-temanya disekolah. Tujuan Nya cuma satu cuman untuk mendapat perhatian Sarah."
Riana menepuk pundak Gunawan. Gunawan terlihat agak emosi menceritakan tentang Sarah.
"Aku berusaha untuk memberi saran pada Sarah tapi hanya ia dengar tapi gak dilakuin sama dia Dia malah bilang.
"Biarkan saja dia, aku benar-benar tidak menyukai sifatnya, sifatnya sama kaya ayahnya selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan, sering aku mendapat telpon dari guru sekolah karena ia sering berkelahi dengan teman-temanya,"kata Sarah dengan nada kesal. Ingat Gunawan dengan perbincangannya dengan Sarah.
"Seandainya Sarah sedikit saja memberi perhatian pada Darren pasti Darren tidak akan melakukan itu."
"Kita harus bersyukur hidup dengan keluarga kita ini. Kita beruntung sayang bisa menikah dan memiliki Zara. Walaupun pernikahan kita yang tak direstui. Kita harus bersyukur karena cinta memenuhi kehidupan kelurga kita,"tutup Riana.
Zara kecil yang sudah lelah bermain langsung berlari ke Riana dan Gunawan. Gunawan segera membungkuk dengan posisi siap menangkap tubuh kecil Zara.
Zara dengan senangnya melihat Gunawan yang siap menangkapnya.
Grep..
Gunawan menangkap Tubuh kecil Zara dan menggendongnya. Mereka kembali pulang ke rumah dengan bercanda tawa.
"Keluarga yang baik dibangun dengan cinta, dimulai dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan"
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡