
"Sudah terlambat Zara, kaulah yang memulainya.''Ucapan Darren begitu dingin,ekspresi wajah tak menunjukan emosi, Dingin.
Darren melepaskan dasinya dan mengikat tangan Zara.
"Lepaskan, lepaskan aku!! apa yang kamu lakukan?"Teriak Zara meronta-ronta.
Darren menggendong tubuh Zara di pundaknya. Bi ijah tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya, karena bi Ijah sudah menanda tangani kontrak perjanjian kalau ia tidak diperbolehkan ikut campur dalam masalah keluarga Darren atau jika ikut campur sedikit saja akan berimbas dengan keluarganya. Bi ijah hanya bisa melihat, Darren memasukan Zara ke dalam mobil, dan mearasa bersalah karena telah meminjamkan hp pada Zara.
Zara terus meronta dan memohon untuk dilepaskan tapi Darren sudah terlalu marah dan kesal.
Darren membawa Zara ke gedung penyiksaan milik ayahnya, di sebut gedung penyiksaan karena gedung ini khusus dibuat untuk menyiksa para musuh ayah Darren yang berani melawan dan mengkhianatinya. Gedung yang berada di tengah hutan belantara, untuk yang mencoba kabur, kemungkinan bisa lolos dan keluar hidup-hidup sangat kecil. Karena di hutan itu banyak sekali binatang buas yang tinggal. Suara gonggongan serigala dan harimau terdengar sangat jelas.
Di dalam gedung ada 8 ruangan dan setiap ruangan memiliki alat-alat dan cara-cara penyiksaan yang berbeda, salah satunya adalah kandang singa. Di mana ruangan itu terdapat dua ruangan jeruji besi dan di satu ruangan ada satu ekor Singa buas jantan yang akan dibiarkan kelaparan dan siap memangsa orang- orang pengkianat itu, jika pengkhianat menyerah maka akan diloloskan tapi jika pengkhianat keras kepala maka penghubung ruangan akan di buka dan membiarkan Singa itu memangsa pengkhianat itu.
Zara dibawa keruangan itu dan di kunci di dalam jeruji itu. Zara terkejut melihat singa yang menatapnya dengan buas dengan siap memangsa Zara jika penghubung itu terbuka. Zara berlari ke ujung ruang jeruji. Tubuhnya terasa sangat lemas.
"Ini adalah hukuman atas kesalahanmu hari ini, kalau kau menyesal dan berjanji akan menuruti semua perkataanku, kamu akan bebas."
"Cuih, aku tidak akan menuruti kemauanmu. Lebih baik aku mati daripada harus menjadi mainanmu seumur hidup!!"
"Baiklah, itu adalah pilihanmu. Tapi jika kau berubah pikiran aku akan beri kesempatan."
Darren meninggalkan ruangan itu, dan mengawasi Zara dari ruang pemantau yang dimana terdapat banyak komputer berisi rekaman setiap ruangan penyiksaan, setiap ruangan di pasang CCTV dan pengeras suara. Ayah Darren datang dan menemui Darren diruang pemantau itu.
"Ayah, kenapa ayah disini?"
"Tadi ayah diberitahu kalau kamu membawa perempuan itu ke tempat ini jadi, ayah hanya ingin memeriksanya?"
Ayah Darren melihat Zara di ruang jeruji dan Singa disampingnya terus mengaung-ngaung karena menganggap Zara sebagai mangsanya, dan Zara terlihat sangat ketakutan sekali.
"Apa dia mencoba kabur?"
"Dia harus belajar dari kesalahan kecil yang dia buat."
Ayah Darren memukul pundak anaknya. melihat Darren begitu bersemangat. Darren cepat belajar darinya untuk membuat musuh tunduk dengan sendirinya dan tidak akan berani macam-macam lagi.
"Bagus Darren, kau memang anak ayah. Jika kau mau pergi bisa minta tolong anak buah untuk mengawasi wanita itu."
Darren mengangguk, ayahnya berpamitan dan meninggalkan tempat itu.
Malam telah tiba, Darren teringat dengan janjinya untuk menemui Bara, Darren menyuruh anak buahnya untuk memgawasi Zara selama dia pergi.
__ADS_1
Darren sedang menyetir mobilnya menuju rumah kakanya, dan ia menyetir sambil mengawasi Zara lewat tablet nya.
"Kau ini benar-benar keras kepala, kita lihat. siapa yang akan menyerah lebih dulu, kau atau aku?"
Darren sampai dirumah kakaknya, mendengar Darren datang, Bara langsung berlari menyambut paman kesayanganya itu, Darren lansung menggendong Bara,
"Om!! Kakak Zara mana?"
"Maaf yaa, kakak Zara nya ga bisa dateng soalnya lagi sakit.''
Bara langsung cemberut mendengar itu karena yang sangat ia tunggu adalah Zara dan mendengar penjelasan Darren tadi Bara jadi tidak semangat, ia langsung meminta Darren menurunkanya, setelah itu ia berlari ke ibunya.
"kamu ini, tau istri sakit kenapa ga bilang aja sama kakak. harusnya kamu jagain dia dirumah."
"Zara yang minta aku datang, katanya ga enak sama kakak klo ga datang."
"Owh begitu, ya udah masuk yuk.''
Mereka berkumpul di meja makan, Bara masih memasang muka masam karena kecewa dengan pamanya itu.
" Om juga kan ga bisa maksa kakak Zara, karena kaka Zara bener-bener sakit" Darren berusaha menjelaskan untuk mengembalikan wajah ceria Bara.
Bukanya kembali ceria, malah Bara semakin kesal. Ia membanting sendok ditanganya dan meninggalkan meja makan.
"Iya, mending kita makan dulu, biar kamu bisa cepet pulang dan nemenin Zara dirumah."kata suami Nadine, Wildan membantu istrinya memecah suasana.
Selesai makan. Nadine membungkuskan beberapa makanan untuk Zara, Darren pamit setelahnya.
Darren kembali kegedung penyiksaan dan makanan yang di bawanya ia berikan pada pengawal yang berjaga mengawasi Zara, Darren tidak mau memberi Zara makan karena ingin melihat bagaimana Zara memohon untuk melepaskanya karena kelaparan.
"Apa kau sudah menyesali perbuatanmu Zara?"kata Darren lewat pengeras suara.
Zara tak menghiraukan perkataan Darren, ia tidak ingin berteriak dan membuat Singa yang sudah tenang itu kembali mengaung-ngaung padanya.
''Jika mati lebih baik daripada hidup ditangamu, aku akan memilih mati.''
''Kau yakin? Kau tidak memikirkan ibumu, bagaimana perasaanya kalau tau kamu meninggalkan dia?"Ancaman menggunakkan ibu Zara akan mempan dan membuat Zara menyerah. Ide Darren.
"Ibu ku akan mengerti, karena kalau aku mati. Aku akan menghantui kamu dan membalas dendam padamu.''
''Hahaha... Kau ini lucu juga yaa, kalau orang sudah mati mana mungkin bisa menjadi hantu.''
Zara benar-benar kesal dengan ucapan Darren. Zara mulai paham bagaimana cara Darren mengancamnya.
"Kali aku tidak boleh kalah, Dia pasti hanya banyak omong. agar aku menyerah dan mau mengikuti perkataan. Tidak Darren, aku sudah tau trik mu,"ucap Zara dalam hati.
"Sepertinya, ancaman sudah tidak mempan lagi padamu. Baiklah, bagaimana kalau kita buat kesepakatan.''
__ADS_1
Tuk... Tuk...
Darren mengetuk meja dengan jari telunjuknya,"aku akan lepaskan kamu ke hutan. Kalau kamu bisa lolos dan keluar hidup-hidup, maka aku tidak akan mengganggu kamu dan ibumu lagi. Bagaimana?''
''Hutan? apa hutan itu berbahaya? Tapi aku harus mencobanya, ini kesempatan terakhirku,"pikir Zara.
"Baik, aku terima. Tapi kamu gak main-main kan dengan perkataanmu?"
''Tentu saja, perkataan Darren Wijaya bisa di percaya. Kalau aku mengkhianati kata-kataku, lakukan semaumu terhadapku.''
Ini adalah kesempatan baik untuk Zara. Tanpa pikir panjang dan demi sang ibu, Zara akan melakukan kesepakatan ini.
Pagi Hari...
Zara di bawa ke pintu belakang gedung yang begitu terbuka akan terlihat hamparan hutan lebat dan mengerikan. Hati Zara menjadi ragu.
''Kenapa? Kau takut?''tanya Darren.
Zara harus mempertahankan harga dirinya,''ini demi ibu, aku tidak boleh menyerah dengan mudah. Aku pasti bisa keluar dari sini hidup-hidup.''ucap Zara di hatinya.
''Haha.. hanya hutan. Apa yang ditakutkan?''ucap Zara menyepelekan apa yang ada di dalam hutan lebat itu. Padahal hatinya begitu takut.
''Baiklah, kau sudah boleh mulai berlari untuk pergi kesana dan keluar hidup-hidup.''
Zara mulai berlari ke dalam hutan tanpa ragu. Darren tersenyum melihat Zara yang begitu semangat untuk melewati hutan pembunuh itu. Di sebut sebagai hutan pembunuh karena binatang yang tinggal di hutan itu adalah binatang-binatang buas yang siap memangsa manusia tanpa ragu.
''Pantau lewat drone, dan ikuti dia tanpa tahu dia di ikuti,"perintah Darren kepada 6 anak buahnya yang berada disitu.
''Baik.''Ucap mereka dengan serempak.
Matahari sudah hampir berada di atas bayang-bayang. Zara sudah berlari sejauh 500 meter dari gedung penyiksaan itu. Badanya mulai lemas dan tenaganya sudah banyak terkuras. Sudah berhari-hari ia tidak mengisi perutnya dengan makanan.
Zara berhenti sebentar di bawah sebuah pohon besar,''aku pasti bisa keluar dari hutan ini,''ucap Zara mencoba tetap optimis.
Zara melihat ke depan nya. Tidak ada tanda jalan besar terlihat, yang terluhat hanya deretan pohon-pohon besar dan rumput-rumpung yang tinggi.
''Aauuuugg... aaauuug...''
Terdengar aungan serigala yang tidak jauh dari tempat Zara berdiri.
Brukk...
Zara menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Ia kenal dengan suara auman itu, suara auman serigala.
''Apa itu serigala?''
Zara mencari batang kayu besar untuk jaga-jaga,''Pasti serigala itu akan lari, klo aku pukul pake kayu ini. Manusia aja klo di pukul pake kayu sebesar ini pasti teler apalagi cuman serigala, gampang itu mah, Haha..''ucap Zara mencoba menghibur diri dengan membayangkan dia memukul Darren dengan kayu itu dan membuat Darren langsung berlutut dan memohon ampun pada Zara.
Darren tersenyum melihat Zara yang memperagakan diri sedang belajar memukul dengan kayu besar yang di pegangnya. Ia mengawasi lewat Drone yang merekam Zara.
__ADS_1