
♧♧♧♧
"Malam ini juga kamu pergi ke china. Cari informasi tentang orang ini..!!"Darren menunjuk ke foto seorang lelaki yang berumur sekitar 40 tahunan, orang yang sedang bersalaman dengan David di foto itu.
Andrian membelalakkan matanya tak percaya,"ke china?"
Darren mengangguk dengan mantap.
"Jadi ini hadiahku, akhirnya bisa liburan ke luar negri lagi,"ucap Andrian dengan tertawa bahagia penuh kesenangan.
"Siapa bilang kau kesana untuk liburan,!"ucap Darren dengan serius tanpa senyum sedikitpun.
"Lalu untuk apa?"
"Kerja!! Kalo gagal dapetin informasi tentang orang ini, jangan harap bisa balik ke indonesia..!!"ketus Darren.
Andrian menghela napas kesal,"kayaknya disini suasananya panas banget. Aduh gini nih, klo pemilik rumahnya lagi super gegana,"ucap Andrian pelan yang menyindir Darren karena sejak tadi wajahnya tak enak dilihat.
Andrian sudah berteman lama sama Darren. Jika Darren sedang kesal dan murung pasti orang di sekelilingnya akan terkena imbasnya.
"Udah bro, loe baikan sana sama istri loe.!! biar gue gak jadi bahan pelampiasan amarah loe,"saran Andrian.
"Jangan sok nasehatin,, loe pikirin aja gimana caranya bisa dapetin informasi tentang orang itu. Itu bukan pekerjaan mudah harus punya strategi."
"Yah baiklah, aku mah memang bukan apa-apa. Aku mah apa atuh."
Memang benar perkataan Andrian tentang Darren yang sedang kesal karena kejadian di kantor tadi dan juga tentang Zara yang masih mencemberuti dirinya, dan ia sedang melampiaskan kekesalannya pada Andrian.
Darren tak perduli dengan keluhan Andrian. Ia menyelipkan tangan kanan ke tangan kirinya sambil menatap serius pada foto itu, memikirkan sebuah rencana.
▪▪▪▪
Andrian telah berada di bandara dengan barang-barangnya yang berada di koper berukuran sedang. Ia menunggu seseorang yang akan membantunya mencari informasi tentang pengusaha china itu, Seseorang yang di kirim Darren tentunya.
Seorang wanita dengan pakaian hitam yang begitu mencolok dan menggoda. Rambut diikat dibelakang sehingga memperlihatkan bagian leher dan tulang selangka yang indah, Berkaca mata hitam. Berjalan ke arah Andrian sambil menyaking tas ransel bercorak army itu kebelakang.
__ADS_1
Andrian tak bisa mengedipkan matanya melihat sosok wanita cantik, seksi dan menggoda itu. Seakan-akan ia sedang syuting film aksi keren yang memperlihatkan pemeran wanita yang begitu waw.
Kaca mata itu dibuka dan mata mereka saling bertemu. Wanita itu berhenti di depan Andrian, yang ternyata adalah Denia.
Bukk..
Tas ransel milik Denia ia lemparkan ke Andrian, dengan sigap Andrian menangkapnya,"bawain barang gue..!!"kata Denia dan berlalu.
Andrian segera tersadar,"eh, maksudnya apaan ini! Bawa sendiri woy.!!"teriak Andrian tak terima dengan sikap Denia yang seenaknya, __sorry ya gue bukan pembantu'__pikir Andrian.
Denia menghentikan langkahnya dan berbalik sembari menatap tajam ke Andrian,"gak mau loe..!!"ucap Denia dengan dingin.
Andrian tersenyum,"enggak, lanjut aja. Bawa ginian doang mah gampang,"kata Andrian dengan sedikit manis.
Denia kembali melanjutkan langkahnya untuk ceking.
Andrian sibuk menarik koper dan tas ransel Denia sambil mulutnya terus mengomel,"galak banget sih ini cewek, ada salah apa gue sampe di perlakukan kayak gini. Gak ada harga dirinya sih loe!! Tapi kagak napa lah, dia cantik ini ga ada salahnya bantuin bawa barang. Anggap aja loe lelaki gentle yang ga akan membiarkan cewek bawa barang berat-berat, kamu gentle Andrian,"Andrian berusaha menghibur diri.
Darren meminta Denia untuk membantu Andrian karena Darren tau bagaimana sifat pengusaha itu. Dan Denia adalah orang yang sangat pintar merayu musuh jadi, Denia sangat dibutuhkan dalam rencananya kali ini.
▪▪▪▪
Darren menatap berkas yang beberapa hari lalu diterimanya dari budi. Tentang identitas menantu dan cucu Adijaksa, gurunya.
"Karena masalah Zara aku sampai lupa untuk memberikan berkas ini pada guruku. Besok aku akan memberikan ini padanya."
Zara sedang memandangi bintang-bintang di langit lewat balkon kamarnya.
"Aku pernah dengar, ada yang bilang kalau orang mati ia akan menjadi bintang di langit. Jika seseorang merindukan orang yang telah pergi itu maka orang yang telah mati itu akan Menjadi bintang paling terang. Menandakan kalau dia juga merindukan orang tersebut,"ucap Zara.
"Aku tau itu memang hanya mitos dan hanya pemikiran manusia tapi, untuk kali ini aku ingin mempercayainya, ayah."
Darren masuk ke dalam kamar Zara dan melihat Zara sedang serius memandangi langit malam. Darren membawa bunga mawar putih yang sangat cantik dan tersusun rapih pada plastik untuk rangkai bunga. Darren tak ingin Zara menyadari kehadirannya, ia berjalan pelan dan menaruh bunga mawar itu di ranjang.
Darren melakukan itu karena ia baca di internet, kalau wanita sangat suka dengan hal-hal yang romantis. Seperti suami yang membawakan nya bunga setiap pulang kerja. Dan Darren mengikuti saran di internet itu, ia sangat berharap Zara segera membaik dan kembali baik padanya.
__ADS_1
Darren segera keluar setelah menaruh bunga itu di tempat tidur Zara.
Sedang Zara asyik berbicara sendiri sambil menatap ke langit. Mencoba melampiaskan kerinduan pada sosok ayahnya, Gunawan.
"Ayah, hari ini aku melihat teman ku sangat ahli dalam renang dan aku langsung teringat dengan ayah, ayah inget kan dulu ayah sering ngajarin aku berenang. Terus kalo aku lagi males ayah bakal nyari seribu cara biar aku semangat lagi belajar berenangnya,"ucap Zara dengan senyuman sedih yang tersirat di bibirnya.
"Ayaaah, aku merindukanmu ayah,"Zara menutup matanya berusaha tegar dan menerima semua yang telah terjadi.
Zara kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu yang mengarah ke balkon.
"Huaaaciiih.... Huaaaciih.."Zara bersin-bersin karena mencium bunga mawar dari Darren itu. Ia memiliki alergi pada bunga.
"Siapa sih yang taruh bunga di sini! Huaaciih..."
Zara memegang bunga itu dan menjauhkannya dari hidungnya dan tangan kirinya sibuk menutup hidungnya.
"Huaaaciih... huaaciih.."
Zara berlari kebawah dengan cepat karena ia sudah tidak tahan dengan hidungnya yang terus-terusan bersin karena bunga itu.
Bukk..
Zara membuang bunga itu ke tong sampah. Dan ia menarik napas lega. Zara tersenyum dan kembali ke kamarnya.
Di Ranjangnya tertinggal sebuah amplop berwarna merah. Zara mengambilnya dan membuka, membaca isi surat itu.
__*Zara, aku tau kesalahan yang aku buat padamu tak mudah untuk di maafkan. Tapi, aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Malam itu tak ada cara lain yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkanmu.
Melihat kamu yang begitu terluka, betapa marahnya aku. Tapi jika aku gegabah malam itu maka aku akan kehilangan kamu, aku tak bisa Zara.
Aku tak meminta kamu untuk memaafkan aku tapi aku hanya ingin kamu bisa mengerti kalau aku benar-benar peduli padamu. Dan aku tidak ingin kamu lebih terluka.
Karena kamu adalah bagian dari aku. Kamu sakit maka aku juga akan sakit.
Dari Darren, lelaki yang mencintaimu*_ .
__ADS_1