Di Paksa Menikahimu

Di Paksa Menikahimu
Season 1 Menguji


__ADS_3

Selesai berpakaian. Darren mengambil nampan yang berisi bubur tadi untuk dibawanya ke dapur dan memasakkan yang baru untuk Zara, tapi saat akan keluar, Zara menahannya.


"Biar aku makan dibawah aja."ucapnya.


Darren menjawab dengan anggukan mantap. Darren menaruh nampan kembali lalu menggendong Zara membawanya ke dapur.


Bi Ijah langsung menghampiri mereka dan menanyakan apa ada yang bisa dibantu olehnya.


"Tidak ada bi,"


"Baik tuan, kalau begitu bibi tinggal ke belakang."


Bi Ijah segera ke taman belakang mengerjakan pekerjaannya yang lain. Darren menduduki Zara di kursi meja makan.


"Aku akan memasakan bubur lagi untukmu."


Zara begitu kagum melihat Darren yang begitu perhatian padanya, tiba-tiba Zara terpikir untuk menguji kesabaran Darren.


"Aku gak mau bubur, bagaimana kalau masakin aku mie?"ucapnya dengan nada dingin tanpa ekspresi.


"Tidak boleh!!, mie sangat tidak baik untuk kesehatan, apalagi keadaanmu masih seperti ini, harus banyakin makan yang berprotein."


"Ya udah, kalau begitu aku tidak mau makan,"ucap Zara dan memanyunkan bibirnya.


Darren menyerah. Iya tidak boleh membuat Zara marah atau akan memperburuk kondisinya.


"Baiklah, aku akan memasak mie spaghetti untukmu."


Dengan lihai dan jagonya. Darren memasak mie spaghetti dan terlihat sangat mahir menggunakan pisau serta cara memasaknya, ditempat duduknya Zara melihatnya semakin terpesona dengan Darren, sudah tampan, perhatian, jago masak pula, benar-benar lelaki idaman.


Selesai memasak Darren segera menyiapkan nya di mangkuk keramik dan menyuguhkannya pada Zara. Zara segera mencicipinya.


Lidahnya benar-benar cocok dan nagih dengan rasa mie spaghetti buatan Darren.


Zara tersenyum. Darren yang melihatnya juga ikut tersenyum. Zara tersadar dan mengubah kembali ekspresi wajah senangnya itu menjadi biasa saja karena niatnya sekarang adalah menguji kesabaran Darren.


"Huh,. Makanan apa ini? biasa saja rasanya,"ucap Zara lalu menggeser mangkuk itu ke depannya,"sepertinya minum jus alpukat sangat segar di cuaca seperti ini,"lanjutnya.


"Kau mau jus alpukat, akan aku buatkan."


Dengan segera Darren membuatkan jus alpukat untuk Zara. Saat sedang sibuk membuat jus, Zara mempunyai ide untuk mengerjai Darren. Zara menggeser mangkuk berisi mie itu kepinggir meja.


Prang...


Mangkuknya jatuh dan pecah, membuat Darren seketika terkejut ia langsung berbalik dan melihat apa yang terjadi.


Darren melihat mangkuk keramik itu pecah dan mienya berhamburan kemana-mana.


Membuatnya panik takut ada yang terluka pada Zara.


Darren segera meninggalkan jus yang sedang dibuatnya dan menghampiri Zara. Zara menatap Darren tanpa ekspresi.


"Tanganku ga sengaja nyenggol piringnya,"ucapnya tanpa rasa bersalah.


Darren tidak marah ia melihat tangan Zara dan kakinya apakah ada yang terluka. Darren sangat khawatir karena teringat saat Zara di rumah sakit. Saat ia menginjak pecahan pot tajam itu dan membuat luka-luka dikakinya. Tapi untunglah tidak ada luka sedikitpun di tubuh Zara.


Bi Ijah yang mendengar suara benda jatuh itu langsung berlari ke dalam dan melihat apa yang terjadi.


"Tuan, nyonya, apa yang terjadi?"


Darren yang sedang membersihkan pecahan mangkuk dan mie itu menjawab pertanyaan bi Ijah dengan gelengan kepala.


"Aku tidak sengaja menyenggol mangkuknya bi,"jawab Zara lalu mengisyaratkan bi Ijah untuk mendekatkan telinganya dan Zara berbisik ke bi Ijah.


"Aku sedang menguji kesabaran tuan, aku mau lihat seberapa sabar dia padaku,"bisik Zara.


Darren menatapnya dengan curiga dan bi Ijah tersenyum saat mendengar bisikan Zara.


"Baiklah, bi Ijah mau lanjutin kerja bibi."


Zara mengangguk dan bi Ijah segera pergi.

__ADS_1


Darren selesai membersihkan mangkuk dan mie nya, ia melanjutkan lagi untuk membuat jus alpukat nya.


Denia dan ibu Zara datang ke rumah Darren karena pagi ini saat ia menjenguk Zara di rumah sakit, Zara sudah dibawa pulang kata Dr.Ivan. jadi, Denia dan ibu Zara langsung menuju rumah Darren untuk melihat keadaan Zara.


Sampai disana Denia melihat bi Ijah yang sedang mengintip ke dapur dengan serius, Denia muncul ide jahilnya ia berjalan perlahan mendekati bi Ijah.


Duaar..


Teriak Denia dan membuat bi Ijah terkejut dan langsung loncat, Denia sangat puas tertawanya saat melihat bi Ijah yang begitu terkejut dengan tingkah usilnya. Sedang ibu Zara hanya tersenyum melihat tingkah jahil Denia. bi Ijah langsung cemberut.


"Kamu ini!! untung bi Ijah ga punya serangan jantung klo engga bisa modar."


"Hehe, maaf bi, lagian bi Ijah serius banget ngintipnya, emang lagi ngintipin apaan sih?"


Bi Ijah melihat ibu Zara dan menyambutnya dengan senyuman. Kemudian bi Ijah menunjuk ke dalam bagian dapur dimana Zara sedang mengerjai Darren. dan Denia melihat kearah yang ditunjuk bi Ijah.


"Jus apa ini? terlalu manis ga enak!"ucap Zara yang padahal aslinya sudah pas sekali di lidahnya.


Tanpa komentar Darren mengambil jus itu dan membuat yang baru lagi.


Denia tertawa mendengar penjelasan bi Ijah tentang Rencana Zara. Dan Ibu Zara begitu senang saat melihat Zara yang terlihat baik-baik saja bersama Darren. Bahkan Darren memperlakukan Zara sangat baik.


"Bos seperti tuan, kadang perlu dikerjain juga,"ucap Denia dan tersenyum puas.


"Hambar".."pahit"..."terlalu encer"..."kental banget"..."kok ga manis"begitu banyak komplain keluar dari mulut Zara mengenai jus alpukat buatan Darren. Darren mulai kesal dan darahnya mulai naik, tapi karena ia memikirkan tentang kandungan Zara ia tidak ingin marah padanya dan ia terus mencoba lagi membuat jus alpukat nya.


Buah alpukat hanya tersisa satu, Darren menarik napasnya dan menghembuskan nya kembali untuk menenangkan hatinya. Zara tersenyum melihat Darren yang begitu sabar padanya.


"Sangat menggemaskan.."


Drrrrt..Drrrt..


Hp Darren berbunyi ada panggilan masuk dan ia segera melihat siapa yang memanggilnya, nama Budi tertera dilayar handphone nya.


Darren meninggalkan dapur


dan menuju ruang kerjanya untuk menerima telpon.


Darren :"ada apa?"


Darren :"apa?"


Darren terkejut mendengar perkataan Budi, kenapa ayahnya ikut campur dalam rencananya.


Budi :"iyaa bos, mereka tidak bisa mencegah karena ini perintah langsung dari ayah bos"


Darren :"baiklah, aku mengerti"


Budi :"dan juga dengan pencarian yang bos perintahkan pada saya, sudah selesai, kapan saya bisa mengantarnya pada bos?"


Darren :"antarkan malam ini juga, dan tugas baru untukmu cari tau kenapa bos besar tiba-tiba melakukan ini, cari tahu rencananya"


Budi :"baik bos."


"Maafkan aku Darren, aku tidak bisa memberitahu alasan bos besar melakukan ini padamu, jika rahasia besar ini terbongkar. Apa yang akan kau lakukan pada ayahmu?"ucap Budi.


Tuuut..


Darren menutup telponnya dan ia mengepalkan tangannya dengan kuat, ia sungguh marah pada ayahnya yang ikut campur dalam masalahnya.


Niat Darren ingin menyiksa Roy dan membuatnya menderita seumur hidup karena telah berani menyentuh Zara dan melukainya sekarang sudah pupus.


"Apa maksud ayah melakukan ini semua, apa ayah ingin membuatku memberontak!"ucap Darren penuh kemarahan didalam dirinya.


Denia, ibu Zara, dan bi Ijah menghampiri Zara. melihat ibunya datang membuat Zara sangat senang.


"Mamah?"


Ibu Zara segera menghampiri anak gadisnya itu. Melihat kondisi Zara yang tidak baik membuat Riana sedih. Riana segera memeluk anak gadisnya itu.


"Aaa,.."rintih Zara, karena tangannya terasa begitu nyeri.

__ADS_1


Mendengar Zara merintih, Riana langsung melepas pelukannya dan melihat perban di dalam baju Zara yang melingkar di pundaknya.


Riana khawatir,"ini kenapa?"tanya Riana panik.


Zara tidak ingin memberitahu ibunya tentang luka pada pundak Zara itu. Karena ini adalah luka tembak yang dilakukan Darren padanya.


"Apa penculik itu yang melakukan ini?"tanya Riana lagi.


Terpaksa Zara harus berbohong. Zara menganggukkan kepala menyetujui pertanyaan ibunya. Denia geram mengetahui hal ini.


"Siapa yang menculik nona Zara!! Biarkan aku bertemu sama dia, aku kasih pelajaran. Beraninya dia ngelukain nona Zara!!"ucap Denia begitu murka.


"Aku gak kenal siapa orangnya, baru pertama kali liat,"


"Pertama kali liat, apa ini ada hubunganya sama tuan?"tanya Denia dalam hati.


"Maafkan mamah sayang, mamah gak bisa ngelindungin kamu?"


Ibu Zara mengelus rambut Zara. Perasaanya campur aduk dan begitu sedih. Zara melihat sang ibu. Dari wajahnya terlihat kalau ibunya merasa bersalah dengan apa yang terjadi padanya. " _Pasti ibu sedang menyalahkan diri"_ucap Zara dalam hati.


"Gak mah, ini bukan salah mamah, jangan nyalahin diri mamah ya,"lirih Zara sembari memegang wajah Riana.


Agar keadaan tidak menjadi terlalu canggung dan serius Zara meminta untuk mengobrol dibelakang dan Denia membantu Zara naik ke kursi rodanya lalu mendorongnya ke halaman belakang rumah.


"Denia, ada yang ingin kamu jelaskan padaku?"tanya Zara dengan wajah serius.


Denia terdiam dan merasa sedikit takut dengan tatapan Zara. Benar! Denia telah ketahuan berbohong pada Zara.


"Maaf nona sudah berbohong pada nona sebenernya tuan ga pernah usir, itu cuma akal-akalan aku biar bisa ngawasin nona."


Zara menghembuskan napasnya dan ia mengerti sekarang kenapa Darren bisa tau klo dia diculik, pasti Denia yang telah memberitahunya.


Zara tidak bisa menyalahkan Denia sepenuhnya karena berkat Denia, Zara bisa selamat dari penculikan itu.


"Aku maafkan, tapi lain kali jangan lakukan lagi."


"Baik nona, aku janji ga akan berbohong pada nona lagi.""


Darren keluar dari ruangan nya dan kembali ke dapur tapi tidak melihat Zara hanya bi Ijah yang sedang membereskan gelas gelas berisi jus alpukat itu.


"Zara kemana bi?"


"Nona Zara dibelakang lagi sama ibu dan Denia"jelas bi Ijah.


"Ibu?"


Darren berjalan kebelakang dan melihat Zara sedang asyik bercanda tawa bersama Denia dan ibunya, membuat Darren ikut senang melihat senyum tawa Zara lagi.


Budi segera menyerahkan berkas mengenai informasi tentang anak guru Adijaksa.


"Mungkin rahasia ini tidak akan bisa disembunyikan, pelan-pelan Darren akan mengetahui kebenaran dari semua masalah yang terjadi,"ucap Budi dalam hati ia menatap Darren dengan tatapan ambigu.


Setelah memberikan berkas itu Budi langsung meninggalkan rumah Darren dan melanjutkan tugas Darren untuk mencari tahu rencana ayahnya.


Darren menaruh berkas itu dilacinya.


"Aku akan memberikan ini pada guru besok.""ucapnya tanpa penasaran sedikitpun. Darren meninggalkan berkasnya begitu saja tersimpan dilacinya.


Darren berdiri di depan pintu kamar Zara,"dia masih sangat marah padaku apa malam ini aku diizinkan tidur disampingnya?"pikir Darren.


Zara melihat bayangan dari celah pintu kamarnya. dan ia tersenyum.


"Masuklah.."ucap Zara dengan keras agar didengar Darren.


Mendengar itu Darren langsung membuka pintu dan menghampiri Zara.


"Berhenti!! aku masih marah padamu jadi, tidurlah di sofa."


Rasa senang itu berubah seketika menjadi cemberut.


"Yaa baiklah,"jawab Darren ketus dan ia langsung menuju sofa dikamar itu dan membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Zara memejamkan matanya dan tersenyum senang betapa puasnya dia menggoda Darren, ini juga pelajaran buat Darren karena telah membuat Zara sakit hati. tapi melihat Darren yang begitu penurut membuat Zara sedikit luluh dan mulai mempercayainya lagi.


"Aku akan pergi jika saatnya tiba, maaf Darren. Aku tidak bisa hidup bersamamu. Terlalu menyakitkan buat aku. Aku belum bisa merelakan kekejaman yang telah ibumu lakukan pada ayahku. Maafkan aku Darren."ucap Zara dalam hatinya. Air matanya mulai menetes dan Zara segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


__ADS_2