
Darren berjalan keluar kamar mandi tapi.
Bukk...
Zara melempar sabun dan mengenai belakang kepala Darren, Darren memegang belakang kepalanya yang terkena sabun mandi itu, ia merasa geram dengan kelakuan Zara yang tidak di duga-duganya.
Darren berbalik kembali menghampiri Zara,"baiklah, rupanya kau tidak ingin mandi sendirian."ucap Darren
dan melepaskan sepatunya, Zara jadi waspada.
"apa yang ingin kamu lakukan?"tanya Zara yang berpikir buruk tentang apa yang akan Darren lakukan padanya.
Darren lanjut melepas jas kantor dan kemeja kotak-kotak putihnya, terlihatlah badan yang kekar six pax dan indah itu, terawat dengan sangat baik, ia semakin terlihat gagah dan tampan. Darren masuk ke dalam bak mandi.
Zara semakin waspada dan menjaga tubunhya dengan menyilangkan kedua tanganya di depan dada, Darren berjongkok dan jarak mereka sangat dekat.
"Sekarang buka bajumu!! mari kita mandi bersama, atau kau mau aku yang membukanya?"ucap Darren sambil mendekatkan tanganya ke baju Zara.
"Jangan! jangan, baik. Aku minta maaf, aku akan mandi sekarang," ucap Zara ketakutan dan menyesali perbuatanya.
Darren berdiri dan keluar dari kamar mandi meninggalkan Zara. Di langkah nya keluar dari kamar mandi ia tersenyum penuh kemenangan karena puas menggoda Zara,"Suruh siapa kau keras kepala,"ungkapnya sembari tersenyum.
Di dalam kamar mandi Zara merasa kesal karena kalah dari permainan yang di buat Darren, tidak mudah untuk melawan Darren yang penuh siasat itu.
"Dia selalu bisa membuat aku menyerah, cara dia menyerang dengan cara itu, membuat aku tak berdaya dan takut."
Zara akhirnya mau tidak mau ia harus mandi karena badanya yang sudah basah kuyup karena ulah Darren, saat ia sudah selesai mandi ia kebingungan karena ia baru ingat ia tidak sempat membawa baju saat dibawa pergi oleh ayah Darren, dan ia tidak punya baju untuk ganti.
Sedangkan Darren yang telah membersihkan diri dan duduk diruang tamu telah menyuruh pembantunya untuk mengantarkan baju yang telah dibelinya saat pulang kerja tadi, ia tau Zara tidak membawa baju saat dibawa pergi jadi ia membelikan beberapa baju baru untuk Zara.
Dikamar mandi Zara berpikiran buruk tentang Darren, ia takut Darren akan melakukan sesuatu yang buruk jika hanya melihatnya memakai handuk.
Tok...Tok...
Pembantu Darren mengetuk pintu kamar mandi.
"jangan, jangan masuk!!"
"Nyonya, ini bi ijah. mengantarkan baju ganti untuk nyonya."
"Bi Ijah, sebentar bi!!" Zara membuka pintu dan mengambil baju dari tangan bi Ijah.
"Makasih bi,''
"Iya sama-sama non, tuan sudah menunggu dibawah, kalau sudah selesai. nyonya diminta untuk makan siang bareng tuan,"
Zara menjawab dengan anggukan kepala.
Rian sangat terkejut saat ayahnya menunjukan foto pernikahan Zara padanya, ia tidak percaya kalau Zara semudah itu melupakanya dan menikah dengan orang lain, ia langsung pergi ke mall tempat Zara bekerja. Yang ditemuinya hanya Emilia tidak dengan Zara.
"Em, mana Zara?"
"Gw gak tau Zara dimana?"
"Gak mungkin, loe kan sahabatnya. pasti dia ngundang loe kan ke pernikahanya!!"
Emilia terkejut dengan perkataan Rian,"pernikahan? loe ngaco yaa, Zara ga punya cowok selain loe., loe gila yaa?"
__ADS_1
Rian menunjukan foto Zara di pelaminan bersama Darren, Emilia memperhatikan wajah mempelai prianya,"Zara nikah sama orang ini, gw ga nyangka. terakhir gw liat Zara 2 hari yang lalu, dan orang ini yang bawa paksa Zara dan ibu," jelas Emilia menceritakan kejadian pada hari itu.
"Maksud loe Zara dipaksa nikah sama orang ini?"
"Gw ga tau, waktu gw minta buat selidikin tentang penculikan Zara, besoknya gw dikabarin klo Zara udah ketemu dan keadaanya baik-baik aja bersama keluarganya, gw ga naruh curiga karena yang bilang kepala polisinya jadi gw ga nyari Zara lagi, ga taunya?"
Rian melihat wajah Emilia yang terlihat jujur dan tidak menutupi sesuatu apapun.
"Ya udah, nanti klo Zara nelpon loe atau dapet kabar dari dia kabarin gw!!"
"iyaa.."
Rian meninggalkan mall itu dan Emilia jadi kepikiran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Zara dan juga Riana.
Zara turun ke lantai bawah, Bi Ijah terpesona dengan penampilan Zara yang memakai baju kasual berwarna merah dengan corak bunga mawar cantik itu, bajunya sangat pas di badan dan sangat serasi dengan wajah nya yang polos dan rambut yang di kepang samping, bi Ijah memuji Darren di hatinya karena pintar membelikan baju bagus untuk istrinya walau tanpa mengajak sang istri.
"Nyonya cantik sekali, sangat cocok memakai baju itu."kata Bi Ijah agak keras agar Darren yang sedang sibuk itu mendengar dan melihat penampilan Zara, sesuai dugaanya Darren menoleh dan menatap Zara.
Darren menikmati pemandanganya itu, mata mereka bertemu keduanya jadi canggung, dan membuat Zara salah tingkah karena tatapan Darren. Dengan cepat Zara menghampiri bi Ijah yang sedang menyiapkan makan di meja makan.
"Sini bi, biar aku bantu."
"Ekhem..ekhem.."Darren mengalihkan pandanganya dan kembali memeriksa berkas kerjanya, pikiranya jadi tidak fokus karena terbayang-bayang dengan wajah Zara.
Buakk..
Darren membanting berkas dimejanya dengan kuat. Membuat Zara dan bi Ijah kaget. Darren lalu berdiri dan meninggalkan ruangan, ia berjalan ke belakang rumah menuju kolam ikan mas peliharaanya.
"Bibi salah ngomong apa ya non, tuan kelihatanya marah?"kata bi Ijah merasa bersalah.
"Sudah bi, jangan dipikirin, orangnya emang begitu bi, kasar."
"Kayaknya tuan marah karena liat nyonya bantuin Bibi, udah biar Bibi yang nyiapin makan. Nyonya nyantai aja, takut Bibi dimarahin tuan lagi."
''Memang orang kejam itu, tidak punya hati, menyesal aku pernah berpikir kalau dia orang yang baik, cih,''ucap Zara yang terus mengumpat Darren dalam hatinya, semua yang Zara pikirkan setelah Darren dan ayahnya berbuat buruk padanya dan ibunya, hanya pikiran negatif yang ada dalam pikiran Zara sekarang, tentang Darren.
"Ya udah, kalau begitu,(Zara berpikir sebentar) emm, bi boleh pinjem hp ga?"
"Buat apa non?"
"Aah itu, buat miscol aja soalnya hp saya ga tau nyelip dimana, lupa naro, hehe?"
"Owh.. gitu, ini non hp nya."
Bi Ijah memberikan hp miliknya, tanpa curiga dan juga karena bi Ijah tidak tau kalau Zara adalah tahanan Darren.
Zara senang karena akhirnya ia bisa menelpon. Walaupun ia harus berbohong ia tetap harus memikirkan cara untuk menyelamatkan ibunya, Zara berterima kasih pada bi Ijah dan segera berlari ke kamarnya, ia mengunci pintu dari dalam.
Zara langsung menelpon Emilia.
Emilia :"Selamat siang, maaf dengan siapa ini?"
Zara :"Em, ini gw Zara."
Emilia terkejut dan senang mendengar Zara menelponya.
Emilia :"Zara!! loe kemana aja Za?"
Zara :"Ceritanya panjang Em, gw butuh bantuan loe Em?"
Emilia :"Apa? bilang aja, gw pasti bantu."
Zara :"Bisa ga loe hubungin Rian dan bilang gw mau ngomong sesuatu sama dia."
__ADS_1
Emilia :"Iya Za, tadi.."
Zara mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamarnya, Zara dengan cepat mematikan telponya dan menyembunyikanya di bawah ranjang. Zara langsung berjalan ke pintu dan membuka kuncinya.
Kreak..
Zara membuka pintu dan melihat Darren sudah didepan pintunya, Zara jadi cemas dan takut kalau Darren mendengarnya tadi menelpon.
"Makananya sudah siap, cepat turun!!"kata Darren.
Ternyata pikiranya salah. Se0ertinya Darren tidak mendengarnya, Zara menjawab dengan anggukan kepala dan keluar dari kamar, Zara menoleh sebentar ke bawah ranjang.
"Em, aku harap kamu bisa bantu aku keluar dari tempat ini,''ucap Zara dalam hati ia sangat berharap Emilia bisa membantunya.
Emilia kembali menelpon Zara tapi, tidak diangkat olehnya, membuat Emilia khawatir dan cemas.
Di meja makan. Zara hanya memainkan makananya ia terus kepikiran jika Emilia menelponya balik, membuat Darren yang sedang makan jadi kesal karena sikap Zara yang tidak berselera makan.
"Kalau kau tidak mau makan, pergi dari meja makan ini, mengganggu saja!" Ucap Darren dengan dingin dan tegas.
Mendengar itu Zara dengan cepat meinggalkan meja makan, Darren benar-benar kesal melihatnya.
"Nanti malam kau ikut denganku, Bara ingin bertemu."ucapnya.
"Oke.."jawab nya dengan singkat dan lanjut berlari ke kamar.
Emilia kemudian melpon Rian dan menceritakan tentang Zara yang menelponya tadi, mendengar itu Rian langsung meminta nomor yang dipakai Zara.
Dan disaat yang sama Zara sedang memegang telpon bi Ijah, ada panggilan masuk dari Rian. Zara langsung mengangkatnya.
Zara :"Rian, tolong aku Rian."
Rian :"Zara, katakan apa yang harus aku lakukan?"
Zara :"Tolong selamatkan ibu ku, Pak Wijaya. Dia menculik ibuku dan aku ga tau dia menyekapnya dimana? tolong temukan ibuku dan selamatkan dia."
Rian :"Baik, aku akan mencari ibumu tapi katakan dulu sekarang kamu dimana?"
Diruang makan bi Ijah sedang membereskan piring bekas makan. Tapi bibirnya berkumat kamit dan wajahnya cemberut.
"Nyonya lama banget sih pinjem hp nya."ungkapnya.
Darren yang sedang mengelap mulutnya mendengar perkataan bi Ijah, Darren langsung memukul meja dengan keras dan menatap bi Ijah tajam, membuat bi Ijah ketakutan.
"Apa bi Ijah memberikan telpon pada nyonya?"tanya Darren dengan dingin.
"I..iyaa... tuan.. ta..di.."belum selesai bicara Darren langsung meninggalkan meja makan dan naik ke lantai dua ke kamar Zara.
"Owh tidak, sepertinya tuan marah besar."kata bi Ijah ketakutan.
Braaakk..
Darren menendang pintu kamar dan membuatnya seketika rusak, Zara terkejut dan reflek melempar hp ditanganya, Zara melihat Darren dengan tatapan marah yang terlihat jelas dimatanya, keringat dingin mulai membasahi tubuh Zara, ia benar-benar ketakutan, badan nya gemetar, jantungnya berdenyut dengan cepat dan tak beraturan.
Darren menghampiri Zara dan menyergap tangan Zara ke belakang tubuhnya dengan kuat.
"Sakit, Darren.. sakit.."rintihnya karena Darren mencengkram tangan Zara dengan kuat.
"Siapa yang kamu telpon?"tanya Darren dengan nada tinggi.
"Kenapa? kamu takut aku menelpon orang yang kamu takuti?"jawab Zara keras.
"Zara, Zara, kau masih belum belajar juga yaa? Kalau ada orang yang aku takuti, sampai sekarang kamu tidak akan terus berada disini, tidak ada orang yang berani berurusan dengan keluarga Wijaya, Polisi sekalipun."jelas Darren.
"Kamu benar-benar brengsek Darren!!"
__ADS_1
"Itulah sebabnya untuk tidak mencari masalah, kau lupa pada ibumu? Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu pada ibumu?"ancam Darren
"Jangan, jangan sakiti ibuku. aku mohon."pinta Zara ia selalu kalah kalau dengan ancaman Darren yang menggunakan ibunya.