Di Paksa Menikahimu

Di Paksa Menikahimu
Season 1 Wijaya dan Gunawan


__ADS_3

Pagi inipun Darren tak melepaskan Zara begitu saja, Darren meminta Zara untuk menemaninya sarapan dan setelah itu ia meminta Zara untuk memasangkan dasi untuknya. Zara tak bisa melawan kemauan Daren sekarang, tidak baik untuknya melakukan itu. Sedikit kesalahan yang ia perbuat akan berakibat fatal padanya.


Dan sebelum berangkat ke kantor Darren meminta Zara untuk mengantarnya sampai ke depan pintu,''katakan! 'selamat bekerja sayang,''


"Ah, perkataan buruk apa itu? Kenapa aku harus melakukanya? Apa kepalanya terbentur saat di Singapura, sikapnya sangat aneh. Aku tak terbiasa."


"Kenapa diam? Ayo katakan!"


Zara tersenyum takut,"Selamat bekerja sayang,"


Darren tersenyum puas, dan ia kemudian menunjuk pipinya. Isyarat kalau Zara juga harus mencium pipinya.


"Apalagi ini? Apa aku juga harus mencium pipinya?Wah, dia memang pantas mendapat penghargaan oscar karena aktingnya sangat bagus sekali, setelah semalam melakukan aku dengan kasar. Ia coba menjadi suami yang manis!"


Cup..


Zara mencium pipi Darren dan Darren membalasnya dengan ciuman manis di kening Zara,"Tunggu aku pulang yaa, Maaf sudah kasar padamu semalam,"


Darren lalu melangkah pergi meninggalkan rumah, Zara masih mematung di tempat ia berdiri. Perasaanya bercampur aduk, senang, takut, kesal, gugup. Zara memegang dadanya yang sekarang berdebar sangat kencang.


"Ah, bisa gila aku. Hanya mendengar dia mengatakan maaf aku langsung melupakan semua perbuatannya padaku semalam. Wah, kau memang gila Zara,"Zara mengumpat dirinya.


Zara berbalik dan ia tau kalau Denia dan bi Ijah sudah menyaksikan kejadian mesra antara dia dan Darren dari awal.


Karena ketauan Deni dan Bi Ijah langsung balik badan,"Ekhem.. Ekhem..."


Denia langsung melangkah pergi,"sepertinya nyuci piring dulu lebih enak daripada nyapu dulu,"kata bi Ijah beralasan.


"Kaliaan!"Teriak Zara. Bi Ijah dan Denia langsung berlari karena takut di amuk oleh Zara.


*****


Brakk..


Darren membanting berkas dari Budi ke mejanya."Kau keluarlah dulu,"ucap Darren menyuruh Budi keluar dari ruangannya.


Budi keluar dari ruangan Darren dan ia berhenti di depan ruangan lalu melihat ke arah Darren sebelum menutup pintu ruangan itu,"Kau harus mulai melindunginya Darren,"kata Budi dengan penuh tanda tanya.


Darren duduk di kursinya dengan lemas, ia tidak menyangka kalau mengetahui kebenaran tentang ibunya dan ayah Zara itu semenyakitkan ini. Darren mengepalkan tangannya dan ia merasa sangat kecewa dengan ayahnya. Padahal ia sangat mempercayai sang ayah.


Darren ke rumah ayahnya dengan emosi memenuhi hatinya. Sampai disana para penjaga di rumah ayahnya melarang Darren untuk masuk ke dalam rumah,"Bos Besar melarang siapapun masuk ke dalam termasuk tuan. Karena sedang ada tamu penting,"


"Aku lebih penting dari tamu itu!! Kalian minggir!"Darren sangat marah sekarang dan jangan mencari masalah pada Darren yang sedang marah karena itu tidak akan baik untuk kamu.


Para penjaga itu tetap menghalangi Darren masuk ke rumah ayahnya.

__ADS_1


Buk.. Buk.. Tak..


Jurus silatnya langsung keluar dan membuat 3 penjaga hebat itu ambruk karena pukulan Darren."sudah aku peringatkan kan, jadi salahmu tak mau dengar,"


Para penjaga itu memegang pipi mereka yang memar karena pukulan Darren,"Kita hanya menjalankan tugas. Apa salah kita,"keluh mereka.


Brakk..


Darren membuka dengan kasar pintu rumah ayahnya. Di ruang tamunya ayahnya yang sedang berbincang dengan ke 2 orang tamunya terkejut begitu juga ibu Zara yang sedang menaruh minuman di meja mereka. 2 orang itu adalah Felicia dan seorang laki-laki yang seumuran dengan Wijaya.


Wijaya langsung berdiri dan meminta maaf kepada Felicia dan lelaki itu."sepertinya kita harus mengakhiri pembicaraan kita hari ini."ucap Wijaya.


"Baiklah, kita lanjutkan lain waktu. Anakmu terlihat sangat marah. Tapi aku tidak akan ikut campur dalam permasalahan kalian."Jawab lelaki itu.


"Ayah, kenapa kita tidak menunggu saja,"ucap Felicia sambil merangkul tangan lelaki yang ia panggil Ayah.


"Tidak Felis, Bukan saatnya kita mengganggu mereka."


Felicia mengangguk dan mengikuti ayahnya keluar dari rumah Wijaya.


Wijaya meminta Darren ke kamarnya untuk bicara empat mata dengan nya,"ada apa?"


"Kenapa ayah berbohong padaku tentang ayah Zara? Bukan dia yang mengajak ibu untuk bunuh diri kan?"


"Kau paling tau bagaimana sikap ayah terhadap orang yang telah mengkhianati ayah. Mereka tidak akan bebas dari jeratan ayah, dan penderitaan pantas untuk di berikan pada mereka Darren,"


"Suatu saat kau akan mengerti Darren, jangan hanya karena emosimu sesaat kamu membuat kesalahan besar!"


"Cukup ayah!! Aku tak perlu nasehat dari ayah. Aku tau yang terbaik tentang apa yang aku lakukan! Dan aku akan membawa ibu Zara dari sini,,"


Wijaya menatap Darren dan tak mengatakan apa-apa atau melarangnya.


Darren keluar dari ruangan ayahnya dan menghampiri ibu Zara yang sedang mencuci piring.


Grep...


Darren memegang tangan nya,"Ayo pergi dari tempat ini dan temui Zara!"


Pakk..


Entah apa yang salah dari perbuatan Darren, bukqnya mendapat respon baik dari ibu Zara tapi malah sebaliknya. Darren mendapat tamparan dari ibu Zara.


"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini! Tidak akan pernah! lebih baik kamu pulang dan jaga Zara baik-baik."


"Tapi,"Darren tak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


Riana melepas tangan Darren dari genggamannya. Riana mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya dan memberikan itu pada Darren,"Lihatlah video ini dan kamu akan mengerti, untuk sekarang aku tidak bisa menemui Zara. Ini yang terbaik untuknya. Pergilah!!"


Darren menatap mata ibu Zara, tidak ada keraguan di matanya,"Baiklah jika itu kemauan ibu,"


Darren meninggalkan rumah Wijaya, Riana menangis setelah kepergian Darren,"Maaf sayang, ini yang terbaik untuk kita sekarang,"


Wijaya duduk di kursinya dengan kepala tertunduk karena teringat dengan masa lalu,"Gunawan, kau puas sekarang!! Tidak ada kepercayaan lagi di matanya untukku,"


Flashback...


34 Tahun yang lalu..


"Dasar anak culun!! Culun, culun!!"ejek anak-anak laki-laki sekelasnya ke Wijaya.


Wijaya masih berumur 17 tahun saat ini dan sekolah tingkat 2 Menengah Atas. Karena ia si kutu buku dengan kaca mata bulatnya dan bajunya yang kebesaran, celana ada robekan membuatnya di ejek oleh teman-temanya sebagai anak culun.


Wijaya yang berasal dari keluarga miskin membuatnya di jauhi teman-temanya karena ia sekolah di tempat orang-orang punya. Wijaya di terima karena ia pintar dalam pelajaran.


Hari saat Wijaya sedang di bully oleh teman sekelasnya itu menjadi hari pertama Gunawan pindah ke sekolah itu. Melihat Wijaya yang sedang dibully dan di pukuli oleh teman sekelasnya membuat Gunawan geram. Ia tipe orang yang tidak suka melihat orang lemah di tindas.


"Hey! Kalian!"teriak Gunawan kepada anak-anak yang membully Wijaya.


Mereka berhenti memukuli Wijaya dan menoleh ke arah Gunawan,"Kenapa? Mau sok jadi pahlawan kesiangan loe?"


Gunawan menyeringai,"Kalian ini sok jago ya!! Bagaimana kalau kita taruhan, 3 lawan 1. Kalian bertiga langsung serang gue dan klo gue menang? Tinggalin anak itu dan jangan loe bully lagi. Gimana?"Tawar Gunawan.


Mereka bertiga menertawakan tawaran Gunawan dan meremehkannya. Sudah jelas bukan siapa yang akan menjadi pemenang, Mereka tiga orang dan Gunawan hanya sendiri.


"Oke, Kau juga tidak akan menang melawan kami,"


"Kita lihat saja,"


Pertarungan di mulai dan ke tiga orang itu langsung menyerang Gunawan.


Set.. Set..


Buk.. Buk..


Gunawan berhasil menangkis semua serang dari 3 orang itu dan memukul mereka dengan keras. Tak perlu menunggu sampai 10 menit, ketiga orang itu sudah terkapar di tanah dan babak belur karena serang Gunawan.


"Tak rugi aku belajar bela diri dan tubuhku lebam-lebam karena di latih keras oleh ayahku!!"Gunawan sangat bangga dengan keahlian bela dirinya.


Gunawan menghampiri Wijaya yang sudah sangat parah keadaanya karena pukulan dari anak-anak tadi.


Puk..Puk..

__ADS_1


Gunawan memukul-mukul pipi Wijaya untuk menyadarkannya. tapi, Wijaya tetap tak sadarkan diri. Gunawan langsung membawanya ke rumah sakit.


__ADS_2