Di Paksa Menikahimu

Di Paksa Menikahimu
Season 1 Melakukan kewajiban


__ADS_3

¤¤¤¤


Mereka melanjutkan memanggang daging nya dan berpesta saat semua daging telah matang mereka menyiapkan nya di meja makan.


"tuan, ini semua aku dan bi Ijah loh yang beli dari hasil tabungan kita sendiri,"kata Denia memberi kode agar Darren mengganti uang bi Ijah dan uang nya.


"Ntar saya transfers uang ke kalian."


"Yes..yes.."kata Denia dan bi Ijah dengan senangnya.


Dan pesta malam itu berjalan dengan baik, karena kekenyangan Bara,Nadine dan Emilia menginap di rumah Darren.


Denia dan Emilia tidur di sofa ruang tamu sedang bi Ijah kembali ke kamarnya, Bara dan Nadine tidur di kamar tamu.


Darren menuntun Zara ke kamar.


"Kamu masih bisa lanjut?"tanya Darren penuh teka-teki di pikiran Zara yang tidak mengerti maksud perkataan Darren,"lanjut apa?"


Brukk..


Darren melempar tubuh Zara ke ranjang dengan pelan lalu ia merangkak di atas Zara, zara mulai mengerti maksud pertanyaan Darren tadi.


Dag..dig..dug...


Suara jantung Zara yang berdegup kencang, Darren mendekatkan wajah nya ke bagian leher Zara.


"Tunggu!!"kata Zara sambil tanganya menahan dada Darren.


"Apa aku tidak boleh melakukan itu?"


"Tapi, aku belum siap"jawab Zara malu-malu ia sangat gugup karena Darren yang meminta secara lembut dan tidak kasar seperti sebelumnya dan buat Zara ini mengejutkan baginya.


"Apa kamu tau hukum menolak suami yang sedang ingin?"


Zara mengangguk dengan ragu-ragu.


"Jangan takut sayang, aku akan pelan-pelan,"kata Darren berbisik di telinga Zara.


Darren mulai mencium leher Zara, dan ciumannya menjalar kebagian bawah. Zara mulai sedikit memberanikan diri dan menikmati apa yang dilakukan Darren padanya.


Darren menikmati suara yang keluar dari mulut Zara,"Darren, ugh, pelan-pelan lah."


Zara membuka matanya. Darren sudah tidak ada di ranjangnya dan tubuhnya tak memakai sehelai benang pun, ingatan semalam masih terus membayanginya ia merasa sangat malu dan canggung bagaimana akan menghadapi Darren, ia benar-benar malu.

__ADS_1


Zara melingkarkan selimut ke tubuhnya.


"Aku merasa sangat malu untuk melihat wajah Darren,"ungkap Zara lalu menutup wajahnya.


Darren keluar dari kamar mandi dan tersenyum saat melihat Zara bet tutupan selimut,"Sayang, kamu gak mandi?"tanya Darren dan mendekat dan memegang selimut yang menutupi tubuh Zara, Darren akan menariknya.


"Jangan, jangan di buka, aku malu,"ucap Zara.


"Kenapa? Aku juga sudah melihat semuanya,"


"Tetep aja, aku malui.."


Darren tertawa puas menggoda Zara.


"Baiklah, aku akan siap-siap, kamu mandilah, aku akan menunggu di bawah,"kata Darren kemudian dan langsung siap-siap setelah itu menunggu Zara di meja makan.


▪▪


Zara mendapat SMS dari Darren yang mengatakan kalau sepulang kerja ia akan membawa ibu Zara ke rumah, betapa senangnya Zara melihat isi SMS itu, tapi didalam hati ia bimbang, kacau antara senang dan tidak bercampur menjadi satu membuat Zara bingung.


Zara memantapkan rencananya tanpa ragu lagi, ia meminta Denia untuk mengantarnya ke apotik.


"Nona Zara mau beli apa? biar aku saja yang pergi!"tawar Denia.


"Beneran nih? aku mau beli ko***m"bisik Zara ditelinga Denia.


"Emm.. klo itu biar nona Zara aja deh yang beli, aku anter aja,"kata Denia sambil tersenyum malu karena dia sempat menawarkan diri.


"Okelah kalau begitu, ayoo lah kita pergi,"


Denia mengantar Zara ke apotik dan Denia menunggunya di depan gedung. Hanya beberapa menit Zara sudah keluar dari apotik dan mereka segera kembali ke rumah.


"Kamu sudah mulai tergila-gila dengan wanita itu yaa!! ayah tidak akan mengizinkan kamu membawa ibu Zara!!"bentak ayahnya saat Darren meminta izin untuk membawa ibu Zara bersamanya.


"Ayah melarang pun akan tetap aku bawa ibu Zara!!"balas Darren tidak kalah tegasnya dengan ucapan ayahnya.


"Baiklah kalau begitu,"Wijaya langsung memanggil para pengawal yang berjaga dirumahnya masuk kedalam dan menyuruh mereka untuk menghajar Darren. Awalnya mereka masih berpikir tidak ingin melawan Darren tapi, bentakan Wijaya membuat mereka langsung melakukan perintahnya.


6 pengawal itu menyerang Darren secara bersamaan, tapi Darren bukan orang yang mudah dikalahkan ia juga sangat jago dalam bela diri, bela dirinya yang ia pelajari dari umur 12 tahun dan karena otaknya yang pintar dan mudah fokus ia cepat belajar, bahkan hanya 2 tahun ia menyelesaikan semua jurus karate, yang ia pelajari pun bukan hanya karate tapi ada beberapa ilmu beladiri lainya juga termasuk jurus lemparan ninja nya.


Semua pukulan pengawal Wijaya berhasil ditangkisnya dan langsung dibalas dengan pukulan-pukulan yang setiap incinya tak melesat sedikitpun, hanya dalam 2 menit semua pengawal Wijaya babak belur dan tak sanggup bangun lagi. mereka rata-rata mengalami patah tulang.


Darren membawa ibu Zara dari rumah Wijaya.

__ADS_1


"Darren, ayah sudah memperingati kamu!! semoga kamu tidak menyesal karena telah membawa Riana?"


"Kalau ini demi kebahagiaan Zara, aku tidak akan menyesal ayah,"kata darren dan meninggalkan rumah Wijaya.


"Bos apa kita perlu meminta bantuan dari markas untuk mengejar mereka?"tanya salah satu anak buahnya.


"Tidak usah, aku ingin lihat apa setelah ini ia akan terus melindungi mereka atau sebaliknya."


Zara sedang memasak untuk makan malam, bi Ijah dan Denia dilarang membantu, mereka semua diminta Zara untuk pergi membeli minuman sachet dan beberapa kue kemasan di supermarket yang berada lumayan jauh dari rumah Darren, 1 jam berlalu Denia dan Darren sampai di rumah dalam waktu bersamaan.


Mereka masuk kedalam rumah. Zara langsung menghampiri ibunya dan memeluknya mereka saling melepas rindu.


"Ibu, Zara kangen,"kata Zara tak terasa air matanya telah mengalir.


"Ibu juga Zara."


Setelah itu mereka duduk dimeja makan dan mulai memakan masakan Zara.


"Ini semua masakanmu?"tanya Darren.


Zara menjawabnya hanya dengan gelengan,"aku membelinya, karena aku tau aku tidak pandai memasak,"ucap Zara.


Darren dan Bi Ijah tersenyum kecil karena teringat dengan masakan Zara sebelumnya.


Zara menyentongkan sup ikan patin ke piring Darren. Bi Ijah, Denia, dan Darren begitu lahap memakan makanan mereka terutama sup ikan patinya, terkecuali Zara dan ibunya, mereka alergi terhadap ikan patin jadi, mereka berdua tidak memakan sup itu.


Setelah memakan masakan Zara, Denia,bi Ijah, dan Darren tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berat.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini"kata Zara.


Ternyata sup ikan patin itu telah Zara beri obat tidur yang jumlahnya lumayan banyak agar langsung berefek pada mereka, Zara berbohong pada Denia tentang membeli k****m agar Denia tidak curiga padanya, begitu juga tentang ia menyuruh bi Ijah dan Denia ke supermarket agar mereka tidak melihat Zara memasukan obat itu.


"Zara kenapa kepalaku terasa sangat pusing dan mengantuk?"kata Darren


Zara menangis.


"Zara bantu Darren dan ibu akan menuntun 2 orang ini ke kamar mereka,"ucap ibu Zara.


Zara menahan ibunya untuk menolong mereka,"tidak ibu, ini semua adalah rencanaku, aku sengaja melakukan ini agar kita berdua bisa pergi dari sini."


Ibu Zara menatap Zara, dan tidak melawan karena ibu nya juga sangat ingin meninggalkan tempat terkutuk ini, dan jauh dari keluarga Wijaya, Zara mengambil uang 10 juta dari brankas Darren, hatinya sangat sakit karena melakukan ini tapi Zara tidak punya pilihan lain.


Zara dan ibunya mulai pergi, Darren yang masih sedikit tersadar melihat Zara dan ibunya pergi ia tidak bisa menerimanya, ia tidak ingin Zara meninggalkan nya.

__ADS_1


"Zara jangan pergi.."


Darren berhasil bangun dari tempat duduknya, sedang bi Ijah dan Denia sudah tertidur karena obat pemberian Zara.


__ADS_2