
¤¤¤¤
Darren memberikan flashdisk pemberian ibu Zara ke Zara,"apa ini?"
"lihatlah,"ucapnya singkat dan meninggalkan Zara di ruang kerjanya.
Zara menatap flashdisk itu lama, ia penasaran juga dengan isinya. Zara masukan flashdisk itu ke laptop Darren.
"Ibu,"ucapnya setelah melihat video dari flashdisk pemberian Darren.
"Hai sayang, gimana kabarnya?(Riana sambil mengusap air mata yang mulai jatuh) Baik-baik aja kan. Darren tidak kasarkan padamu?''
"Huh, tidak kasar darimana, pagi ini aku hampir tidak bisa menggerakkan tubuhku karena ulahnya semalam,"keluh Zara.
''Sayang, ibu baik-baik saja disini. Wijaya tidak sejahat yang kamu bayangkan. Ibu saja boleh merekam video untukmu. Tapi maaf yaa, ibu belum bisa bertemu denganmu sekarang. Nanti, nanti kita pasti akan bertemu lagi."
Zara mulai meneteskan air matanya,"Sayang, ibu tau pasti kamu banyak berpikir tentang apa yang terjadi pada kita belakangan ini. Ibu berpesan, jangan!! Jangan pernah mencari tau kebenaranya. Karena itu adalah pilihan terbaik yang harus kamu lakukan!Semua cerita tentang ayahmu adalah kebenaranya, ibu tidak pernah menceritakan kebohongan padamu. Kamu sangat mempercayai ibu kan?"
Zara mengangguk,"selalu ibu, aku selalu mempercayai dirimu."
"Benar sayang, jangan pernah meragukan ayahmu! Kamu harus percaya padanya, dia sangat menyayangi kita dan tidak akan pernah mengkhianati kita. Bersabarlah, kita pasti akan berkumpul kembali. Ibu merindukanmu sayang, sangat merindukanmu. Salam sayang dan cinta dari ibu,"
"Zara juga merindukan ibu, sangat merindukan ibu.''
Video berakhir disitu, Zara menumpahkan air matanya di situ, hatinya terasa sakit dan sesak. Perasaanya campur aduk, marah, kesal, kecewa, sedih menjadi satu.
Kenapa? Kenapa ibu melarang aku untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya? Bukanya aku tidak percaya dengan perkataan ibu, Tapi aku hanya ingin tau! Tidak salahkan?
"Kenapa ibu tidak marah dengan perbuatan Wijaya? Benarkah ibu baik-baik saja disana?bisakah aku mempercayainya."pikir Zara.
****
Darren memandangi pintu masuk ke kamarnya, ia mulai rendah diri dan sedikit minder setelah tau kebenaran tentang perbuatan ibunya dulu.
"bisakah aku melakukan hal sama padamu setelah aku mengetahui semuanya?"pikir Darren.
semuanya terasa berbeda sekarang, Darren merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan pada Zara sebelumnya.
Di dalam kamar Zara memperhatikan bayangan di luar pintu kamar, bayangan itu tak bergerak dari setengah jam yang lalu,"apa yang sedang di pikirannya?"ucap Zara pelan.
Zara membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya. Ia masih kepikiran dengan Darren yang terus berdiri di depan pintu kamar, tak seperti biasanya. Darren yang biasanya langsung masuk dan menggoda Zara hari ini sangat aneh.
Saat pulang tadi pun, Darren hanya menyuruhnya ke ruang kerja dan memberikan flashdisk pada Zara dan setelah itu Darren terlihat murung. Zara seakan rindu dengan Darren yang biasa menggodanya.
Zara kembali melihat ke arah pintu dan bayangan itu sudah hilang,"waah, benar-benar membuatku stres. Bukanya bagus kalau dia tidak menggangguku kenapa aku sangat khawatir. Dia tidak seperti biasanya?"
Zara berusaha memejamkan matanya.
Darren mengeluarkan mobilnya dari garasi mobil dan meninggalkan rumah.
***
Zara menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang, lingkaran matanya sangat terlihat. Karena memikirkan Darren semaleman ia akhirnya tidak bisa tidur. Apalagi setelah mendengar Darren pergi dari rumah dengan membawa mobil, bahkan pagi inipun Darren belum pulang ke rumah.
Zara turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Bi Ijah sedang sibuk membuat sarapan dan Denia sedang asyik olahraga di teras rumah.
Zara menghampiri Bi Ijah,"Tuan belum pulang bi?"
__ADS_1
"Belum non."
"Bibi tau tuan pergi kemana semalem?"
"Ga tau non, emang tuang ga bilang sama non mau pergi kemana?"
Zara menggeleng,"mana mungkin Darren akan memberitahuku, kita bukan suami istri yang normal. Aku saja tidak tau disebut apa hubungan kita berdua ini, pantaskah aku mengetahui apa yang ia lakukan?"pikir Zara.
Entah apa yang terjadi pada Darren, tidak ada yang mengetahuinya termasuk Bi Ijah dan Denia. Ia hanya pulang sebentar mengambil baju atau hanya sekedar memberi makan ikan mas kesayangannya lalu pergi lagi.
Bahkan dalam beberapa hari inipun Darren tak pernah makan di rumah. Mengganggu Zara pun tidak. Zara di buat bingung dengan sikap Darren padanya.
***
Zara menunggu Darren di depan pintu rumah, perasaanya sudah kacau karena sikap Darren padanya saat ini. Ia harus menanyakannya kenapa Darren seperti itu. Zara sudah tidak memikirkan lagi tentang kekesalannya pada Darren saat ini yang ia pikirkan adalah untuk menenangkan pikirannya yang terus menggangunya dan membuatnya tidak tenang, sudah beberapa hari ini Zara tidak bisa tidur karena terus kepikiran dengan Darren.
Mobil Darren memasuki halaman rumah, yang membuat Zara kembali kesal adalah ada seorang wanita cantik yang duduk di samping kemudi atau di samping Darren.
Darren dan wanita itu keluar dari mobil Darren. Darren melihat ke arah Zara sebentar lalu menghampiri wanita itu yang ternyata adalah Felicia.
Set...
Darren dan wanita itu melewati Zara begitu saja dan berjalan masuk ke ruang kerja Darren hanya berdua. Zara merasa tidak di hargai disitu, Bi Ijah dan Denia memperhatikan dari dapur.
"Darren kenapa sih bi, ga tau apa nona Zara udah nungguin dia pulang dari satu jam yang lalu. Eh, tega banget dia pulang bawa cewek,"umpat Denia yang kesal dengan sikap Darren.
Bi Ijah hanya menggeleng, Zara mengusap air matanya yang jatuh. Hatinya terasa sakit, entah apa yang terjadi dengan perasaanya sekarang, itu terasa sangat sakit dan sesak, rasanya air matanya siap ditumpahkan.
Zara menghela napas berat. Ia berlari ke kamar dan menguncinya. Zara membaringkan tubuhnya di ranjang,"Dasar brengsek!! saat dia sudah mendapatkan apa yang dia mau sekarang dia mengacuhkan aku. Aku benci kamu Darren, benci!!"ucap Zara sambil menutup kepalanya dengan bantal agar suara kerasnya tidak terdengar sampai keluar.
"Kamu aja gih, Bibi banyak kerjaan nih."
Denia berpikir sejenak,"baiklah.''
***
Denia akan mengetuk pintu kamar Zara.
Kreaak...
Zara sudah lebih duku membuka pintu, Zara terkejut melihat Denia ada di depan pintu kamarnya. Denia tersenyum.
"Ada apa?"tanya Zara.
"Nona Zara baik-baik aja?"
Zara tersenyum dan mengangguk,"memangnya aku kenapa?"
"I.. iituu..,"Denia menunjuk ke ruang kerja Darren sebagai isyarat tentang Darren dan Felicia.
"Ah, biarin aja. Ga ada urusan nya sama aku, mau dia membawa seribu wanita ke rumah ini itu terserah dia aku tidak akan ikut campur. Memangnya aku siapa?"jawab Zara dengan suara sedikit di keraskan agar Darren mendengarnya.
Denia tidak ingin bertanya lebih lanjut, melihat ekspresi Zara saja sudah bisa di mengerti kalau Zara tidak baik-baik saja. Denia mendukung perkataan Zara,"Iya, laki-laki yang tidak bisa menghargai perasan kita mah di buang aja kelaut yaa nyonya Zara. Seenaknya aja ya bawa perempuan ke rumah padahal ada istrinya di rumah. Ga malu tuh jadi laki-laki,"teriak Denia,Zara memukul pundak Denia karena berbicara lumayan keras.
Darren membuka pintu dan melihat ke arah mereka, Zara dan Denia langsung diam. Denia memalingkan wajahnya dengan wajah sinis lalu menggandeng tangan Zara membawanya turun ke bawah menuju Dapur.
Darren tak berkata apa-apa. Ia mendengar semua perkataan Zara dan Denia, Darren hanya diam dan kembali masuk keruang kerjanya. Felicia tersenyum melihat Darren yang mencoba menutupi perasaanya. Felicia senang dengan itu, ia punya kesempatan karena melihat hubungan yang kurang bagus antara Darren dan Zara.
__ADS_1
"Kita lanjut lagi, Sampe dimana tadi?"tanya Darren berusaha menutupi perasaanya.
Felicia berjalan menghampiri Darren dan memperlihatkan berkas di tangannya,"kita sedang membahas perusahaan saingan kita di Singapura (tangan Felicia menyentuh pundak Darren) baru beberapa menit yang lalu, kau sudah lupa,"lirih Felicia sembari menggoda Darren.
Puk...
Darren menangkis tangan Felicia dari pundaknya,"aku tidak ingin bekerja dengan orang yang tidak serius,"kata Darren dengan tegas dan dingin.
Wajah Felicia seketika berubah masam karena mendapat respon tidak baik dari Darren.
****
Darren mendapat telpon dari kakaknya, Nadine.
Nadine :"Darren, bisa jemput Bara disekolah hari ini?"
Darren :"Kakak tidak menjemput Bara?"
Nadine :"Kakak mau bertemu dengan klien bisnis kakak dan ga bisa di tunda. soalnya ini penting banget, darurat! kamu tolong kakak ya?"
Darren :"Aku juga tidak bisa soalnya mau ada rapat penting di kantor,"
Nadine :"Ah, gimana kalau Zara yang menjemput Bara?"
Darren :"Baiklah, aku akan memberitahunya,"
Nadine :"Iya, kakak minta tolong banget ya,"
Tut...
Nadine mematikan telpon nya.
Darren langsung menghubungi nomor rumah dan diangkat oleh Denia, Darren langsung berkata tanpa basa-basi.
"Suruh Zara menjemput Bara di sekolahnya, dan temani dia! aku akan kirimkan alamat sekolahnya,"
Dan Darren langsung mematikan telpon nya, Denia di buat melongo ia bahkan tak sempat mengucapkan satu kalimat.
***
Bara keluar dari gerbang sekolahnya dan ia tidak melihat ibunya di tempat biasanya.
"Baraa..."panggil Zara.
Bara menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Betapa senangnya Bara saat melihat orang yang datang menjemputnya, Bara langsung berlari dan Zara siap memasang kedua tangannya untuk menangkap tubuh kecil Bara.
Grep...
Zara menangkap tubuh Bara dan menggendongnya,"kakak Zaraaa, Bara kangen,"ucap Bara begitu senang.
"Iya, kakak juga kangen banget sama Bara. Sekarang kuta pulang yuk ke rumah Bara."
"Siap!!Kita pulang, mamah ga bisa jemput hari ini?"
"Iya, mamah Bara lagi ada urusan penting. Jadi, gak bisa jemput Bara."
Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang di bawa oleh Denia. mereka menuju rumah Bara.
__ADS_1