
Darren mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan dengan ekspresi yang begitu cemas dan khawatir karena memikirkan keadaan Zara yang sedang di periksa oleh Dokter Ivan.
Saat sedang mengadakan rapat penting dengan para petinggi perusahaan Darren mendapat telpon dari Bi Ijah mengenai keadaan Zara yang tiba-tiba pingsan.
Darren dengan segera berlari keluar dari ruangan dan langsung ke rumah sakit dengan perasaan cemas.
Pintu ruang pemeriksaan di buka dan Dokter Ivan bersama beberapa perawat keluar dari sana. Darren segera menghampiri Dokter Ivan dan Denia hanya memperhatikan dari tempat duduk tunggu.
"Bagaimana?"pertanyaan itu langsung terlontarkan dari mulut Darren yang sedari tadi sudah menunggu.
Dokter Ivan menepuk pundak Darren pelan,"Maaf, tubuh Zara baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Namun,"Dokter Ivan menghentikan kata-katanya, wajahnya menunjukan hal tidak baik.
Darren penasaran dengan jawaban selanjutnya dari Dokter Ivan,"Apa?"
"Ini berpengaruh pada psikologi Zara, aku tidak paham dengan isi pikirannya sekarang dia seperti sedang menahan diri untuk bangun. Zara mengalami Koma Darren,"
Bagaikan Dunia ini bergoyang begitu kuat sehingga membuat tubuh Darren seperti akan jatuh kelantai begitu saja. Ini merupakan berita menyedihkan untuknya. Denia bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Dokter Ivan.
Dokter Ivan yang melihat bagaimana ekspresi Darren setelah mendengar tentang keadaan Zara meminta Denia untuk menjaga Darren karena setelah ini Darren pasti akan menjadi lebih diam dan bisa saja ia tidak mau makan dan mengabaikan kesehatan nya, itu tidak baik jika Zara sudah bangun nanti.
Denia mengiyakan permintaan Dokter Ivan padanya.
***
Darren menggenggam tangan Zara sembari menciumnya. Pandanganya tertuju pada wajah Zara dengan mata terpejam dan terlihat begitu damai. Sebuah alat bantu pernapasan terpasang di mulutnya.
Sebuah monitor komputer EKG, memperlihatkan detak jantung Zara yang normal tidak ada hal mengkhawatirkan disana.
"Zara, aku kembali menyakitimu lagi. Ketika aku memilih untuk berhenti mengganggumu aku kira kau akan bahagia karena benas dari gangguan ku tapi ternyata aku salah Zara. Aku sudah mendengar semua cerita bagaimana dirimu belakang ini dari Denia,"ucap Darren sembari terus mencium punggung tangan Zara.
Ia tersenyum tetapi menangis dalam sorot matanya,"kau tau, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita. Dan aku merasa marah sekali saat melihat lelaki itu merangkul mu, dan kau tau Zara betapa bahagianya aku saat aku bisa melihat fotomu. Aku bahagia bisa menikahi kamu dan menjadikan dirimu milikku Zara, bangunlah!"
Denia dan Bi Ijah memperhatikan dari kaca pintu kamar ruangan tempat Zara di rawat,"nona Zara kenapa yaa? Tiba-tiba koma?"tanya bi Ijah dengan raut wajah yang begitu penasaran.
"Ga tau bi, Denia juga bingung. Apa nona Zara punya penyakit dan kita ga tau,"
Puk..
Bi Ijah langsung memukul pundak Denia dan Denia segera memegang pundaknya yang terasa sedikit nyeri karena pukulan yang lumayan keras dari Bi Ijah,"jangan ngawur!! Tadi waktu bibi lagi beresin ruangan kerja tuan Darren, bi Ijah liat laptopnya masih nyala dan nyetel video gitu,"jelas Bi Ijah.
"Video? Video apa bi?"Denia mengerutkan keningnya.
"Video tuan Darren waktu kecil lagi main di pantai. Apa ada hubungannya sama video itu ya?"
"Bibi ini ngada-ngada deh, masa cuman liat video gitu bisa buat orang langsung koma,"
Bi Ijah tidak mau berdebat lebih jauh lagi dengan Denia ia memilih menjawab dengan anggukan kepala.
Darren sempat mendengar pembicaraan Denia dan Bi Ijah mengenai flashdisk dan video. Darren segera menanyakan hal itu dan Denia mengatakan apa yang dilihatnya saat menolong Zara.
__ADS_1
Flashback....
Gunawan berlari menghampiri anak dan istrinya. Zara yang masih berumur 5 tahun itu begitu senang melihat sang ayah berlari menghampirinya.
"Ayaaah..."panggil Zara dengan suara imutnya.
Gunawan segera mengambil Zara dari gendongan Riana,"anak ayah... baru pergi 2 hari ayah udah kangen banget nih sama Zara,"
Zara tertawa sembari mencubit pipi Gunawan karena Gunawan yang terus menciuminya.
"Zara, ikut ayah kerja yaa?"
Zara kecil menganggukkan kepala.
"Apa Wijaya meminta mas buat nganter Sarah lagi?"tanya Riana.
"Iya, Wijaya sangat sibuk jadi mas yang disuruh antar. Tidak apa-apa kan klo aku dan Zara harus nginep di Bogor 2 hari?"jelas Gunawan tanpa menyembunyikan apapun dari istrinya.
"Iya ga apa-apa, Zara juga gak bisa jauh-jauh dari mas. Ntar klo dia gak ikut pasti rewel terus nanyain mas,"
"Ya udah, mas berangkat dulu yaa,"ucap Gunawan dan mencium kening Riana.
Riana memberikan tas berisi baju dan perlengkapan Zara selama pergi bersama Gunawan.
"Zara mau jalan-jalan sama ayah?"
"Em, Zara mau jalan-jalan sama ayaaah,"jawab Zara dengan gemas dan polosnya.
Gunawan menyopiri Sarah ke villanya yang berada di Bogor, Zara duduk di kursi belakang sembari memainkan Robot mainan nya.
"Anakmu lucu sekali yaa, sangat menggemaskan dan imut,"Puji Sarah yang sudah memperhatikan Zara lama.
"Terima kasih nyonya,"jawab Gunawan singkat.
"Haha, jangan panggil aku nyonya. Aku jadi merasa lebih tua dari kamu, panggil aja Sarah biar nyaman di denger."jelas Sarah.
"Baiklah,"
"Aku juga punya anak perempuan, dia sudah masuk SMP sekarang. Tapi, dia lebih dekat dengan pengasuhnya dan Wijaya,"curhat Sarah.
"Kenapa mereka tidak dekat denganmu?"tanya Gunawan.
Sebagai orang normal ia pasti akan bertanya alasan apa yang membuat Sarah tidak dekat dengan anak2 nya. Gunawan paham sekali bagaimana Darren dan Nadine, ia kenal mereka dari lahir dan tahu bagaimana Sarah memperlakukan mereka sebagai anaknya.
Selama ini Gunawan berpikir buruk tentang Sarah dan ia ingin tau alasan Sarah memperlakukan anak-anaknya seperti bukan anaknya, dengan menguatkan keberaniannya Gunawan mempertanyakan pertanyaan itu pada Sarah berhubung Sarah yang memulai berbicara padanya.
Sarah menarik napas sejenak untuk menyiapkan diri menjawab pertanyaan Gunawan,"aku hanya terlalu sibuk saja dengan pekerjaanku,"jawab Sarah dengan singkat dan tidak memuaskan Gunawan dari jawaban atas pertanyaan itu.
"Apa aku boleh memberi saran padamu?"tanya Gunawan dengan hati-hati.
__ADS_1
Sarah menoleh dan tersenyum,"apa aku akan mendapat ceramah darimu?"
"Hahaha, tidak! Hanya saran saja. Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa?"
"Baiklah, aku akan mendengarkan saranmu."
"Menjadi seorang wanita karir dengan dua anak memang sulit tapi, cobalah sedikit waktu luang mu gunakan untuk bermain atau sekedar mendengarkan cerita mereka. Mereka mungkin terlihat baik-baik saja. Main bersama pengasuh mereka tapi mereka tetaplah seorang anak yang membutuhkan perhatian mu Sarah, mereka juga ingin kamu mendengarkan cerita mereka,"terang Gunawan memberi saran dengan lembut tanpa ada penekanan di setiap kata-katanya.
Sarah terdiam, Gunawan melirik sebentar memperhatikan mimik wajah Sarah sekarang,"apa perkataanku salah?"tanya Gunawan hati-hati.
Sarah menoleh dan tersenyum dengan manisnya,"haha, tidak! Perkataanmu benar kok, baiklah. Aku akan mulai memberi perhatian pada mereka mulai sekarang,"
"Baguslah, saranku di terima dengan baik olehmu,"ucap Gunawan dengan senyum.
"Nyaman sekali bisa ngobrol santai denganmu, Wijaya jarang sekali mengobrol santai denganku dia terus sibuk dengan urusan bisnisnya, dekat hanya jika ada maunya saja,"curhat Sarah.
"Apa aku boleh mendengarkan hal pribadimu dengan Wijaya? Aku merasa tidak pantas,"ucap Wijaya dengan tawa kecil yang menandakan ia tidak nyaman.
"Kenapa? Bolehlah. Aku juga hanya ingin mengurangi beban pikiranku saja, anggap saja aku sebagai sahabat yang sedang butuh di dengar ceritanya, Oke!!"
"Baiklah,"
Gunawan melihat Zara yang sudah tertidur lelap di kursi belakang sambil memeluk mainan kesayangannya, Gunawan tersenyum melihat anak gadisnya yang terlihat menggemaskan walau sedang tertidur.
Sejak saat itu Sarah seringkali menceritakan masalahnya dengan Wijaya yang kurang perhatian padanya, dan ia juga selalu mencari alasan untuk bisa di antar oleh Gunawan saat ada pertemuan dengan klien bisnisnya. Berbeda dengan Gunawan, ia merasa sangat risih dan tidak nyaman dengan sikap Sarah padanya.
Gunawan tidak pernah sendiri saat mengantar Sarah bertemu dengan klien bisnisnya ia selalu membawa Zara bersamanya. Tapi, saat Zara berumur 6 tahun dan harus sudah mulai sekolah.
"Apa aku tidak bisa membawa Zara ikut bersamaku besok?"tanya Gunawan kepada Riana dengan sedikit cemas.
Riana memegang pundak Gunawan,"mas, aku bukanya mau melarang mas membawa Zara ikut. Tapi Zara harus sekolah mas, dia ga bisa terus-terusan bolos sekolah,"jawab Riana dengan nada pelan.
Riana menurunkan tangannya dari pundak Gunawan saat melihat Zara yang bergerak tubuhnya, Riana langsung mengelus-elus rambut Zara agar tidak bangun. Tapi Zara tetap terbangun dan membuka matanya.
Ia mengucek-ucek matanya. Gunawan dan Riana tersenyum melihat anak gadis mereka jadi terbangun karena obrolan mereka.
"Zara mau ikut jalan-jalan sama ayah,"ucap Zara yang sempat mendengar Gunawan bicara dengan Riana.
Riana menoleh ke suaminya dan menatapnya, Gunawan hanya tersenyum. Zara duduk dengan tangan yang masih sibuk dengan matanya karena masih belum sadar sepenuhnya.
"Besok Kan Zara harus sekolah, main sama temen-temen Zara."ucap Riana.
"Aayah, Zara besok ikut ayah yaa. Zara ga mau sekolah, Zara pusing sekolah terus Zara jadi banyak pikiran,"kata Zara dengan nada memelas dan ingin di kasihani sambil memegangi kepalanya memperagakan orang yang sedang pusing.
Gunawan dan Riana di buat geleng-geleng oleh tingkah lucu Zara,"owh, jadi anak ayah ga mau sekolah yaa, pusing yaa?" Kata Gunawan lalu menggelitik Zara.
Zara kecil yang geli itu tak bisa menahan tawanya karena gelitikkan Gunawan dan ia terus mencoba melepaskan tangan ayahnya dari pinggangnya.
Riana membalas gelitikkan Gunawan pada Zara dan mereka tertawa di tengah malam saat semua orang sedang tertidur, keluarga yang bahagia.
__ADS_1
Akhirnya karena Gunawan yang bersikeras mengajak Zara untuk ikut dengan nya, Riana tak bisa berbuat apa-apa. Zara pun pagi-pagi sudah rewel tidak mau sekolah dan ingin ikut dengan Gunawan. Dengan terpaksa Riana mengizinkannya.